Selasa, 26 Juni 2012

SPESIASI

TUGAS EVOLUSI
REVIEW BUKU EVOLUSI DOUGLAS J FUTUYMA


CHAPTER 16
SPECIATION




Oleh :

Nama   : Ervin Jumiatin
NIM     : 0910913018
Kelas    : B














JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012



Solusi yang mungkin untuk masalah-masalah ini adalah cara spesiasi. Modus spesiasi yang telah dihipotesiskan dapat diklasifikasikan dengan beberapa kriteria, termasuk asal geografis dari hambatan untuk pertukaran gen, dasar genetik dari hambatan, dan penyebab evolusi dari hambatan. Spesiasi dapat terjadi dalam 3 jenis pengaturan geografis yang berbaur satu menjadi yang lain.  Spesiasi Allopatric adalah evolusi  pada hambatan reproduksi dalam populasi yang akan dicegah oleh penghalang geografis dari pertukaran gen lebih dari negligible rate. Cara yang paling umum dari spesiasi adalah spesiasi allopatrik, di mana aliran gen antara populasi berkurang oleh adanya faktor geografis atau hambatan habitat yang memungkinkan perbedaan genetik melalui seleksi alam dan/atau pergeseran genetik. Sebuah perbedaan sering terjadi antara spesiasi allopatric oleh vikariansi (divergensi dari dua populasi besar) dan spesiasi peripatric (divergensi populasi kecil dari suatu bentuk leluhur yang tersebar secara luas). Dalam spesiasi allopatric vicarian, persebaran spesies dipisahkan oleh penghalang geografis, dan satu atau pun kedua populasi tersebut berbeda dari negara nenek moyang. Dalam spesiasi parapatrik, populasi tetangga, antara yang ada aliran gen sederhana, menyimpang dan menjadi terisolasi secara reproduktif. Spesiasi sympatric adalah evolusi hambatan reproduksi tunggal, awalnya populasi kawin secara acak. Bentuk spesiasi allopatric, parapatric, dan sympatric adalah kontinum, hanya berbeda dalam derajat yang pada awalnya mengurangi pertukaran gen ini dilakukan oleh hambatan fisik ekstrinsik ke organisme (seperti dalam spesiasi allopatric) atau melalui perubahan evolusioner dalam karakteristik biologi evolusi dari organisme itu sendiri (Seperti dalam spesiasi sympatric). Spesiasi Allopatric secara luas diakui menjadi mode umum dari spesiasi; kejadian spesiasi parapatric dan sympatric masih diperdebatkan.
Dari sudut pandang genetik, hambatan reproduksi yang timbul mungkin didasarkan pada divergensi genetik, ketidakcocokan sitoplasma,matau divergensi sitologi (penataan ulang poliploidi atau struktural kromosom). Penyebab evolusi hambatan reproduksi, pada beberapa karakter, adalah pergeseran genetik dan seleksi alam dari perubahan genetik yang timbul dari mutasi. Spesiasi peripatric, bentuk hipotetis spesiasi yang juga disebut sebagai transilience atau spesiasi oleh pergeseran puncak, membutuhkan baik pergeseran genetik dan seleksi alam. Baik seleksi seksual dan penyebab ekologis dari seleksi alam dapat mengakibatkan spesiasi. Dalam beberapa kasus, mungkin ada seleksi untuk isolasi reproduksi, yaitu untuk mencegah hibridisasi. Atau, isolasi reproduktif terjadi sebagai hasil tambahan dari perubahan genetik yang terjadi karena alasan lain. Dalam kasus ini, mungkin ada divergensi adaptif dari karakter mengisolasi diri sendiri (misalnya, faktor iklim dapat mendukung pembiakan di dua musim yang berbeda, dengan pengaruh bahwa populasi tidak kawin silang), atau penghalang reproduksi mungkin timbul sebagai pleiotropic oleh-produk gen yang diseleksi untuk fungsi lainnya.
Spesiasi allopatric adalah evolusi pada penghalang atau hambatan reproduksi genetik antara populasi yang secara geografis dipisahkan oleh penghalang fisik seperti topografi, air (atau tanah), atau habitat tidak menguntungkan. Hambatan fisik mengurangi aliran gen untuk perbedaan genetik antara populasi untuk berkembang, yang mencegah pertukaran gen jika populasi kemudian akan datang ke dalam kontak. Allopatry didefinisikan dengan penurunan berat pada gerakan individu atau gamet, bukan berdasarkan jarak geografis. Dengan demikian, dalam spesies yang menyebar sedikit atau tetap pada habitat tertentu, populasi mungkin "microgeographically" terisolasi. Semua ahli biologi evolusi setuju bahwa spesiasi allopatric terjadi, dan banyak berpendapat bahwa itu adalah mode umum spesiasi, setidaknya pada hewan. Populasi aIlopatric dapat memperluas jangkauannya dan datang ke dalam kontak. Jika cukup kuat mengisolasi hambatan, yang telah berevolusi selama periode allopatry, mereka mungkin menjadi sympatric tanpa bertukar gen. Jika isolasi reproduksi tidak lengkap telah berkembang, mereka akan membentuk zona hibrida. Karena perluasan jangkauan mungkin terjadi pada masa lalu, spesies anakan sympatric yang kita amati hari ini mungkin telah di spesiasi secara allopatric (allopatrically) dengan baik, tidak sympatrically.
Bukti untuk spesiasi allopatric. Baik seleksi alam dan pergeseran genetik menyebabkan populasi untuk menyimpang atau berbeda dalam komposisi genetik. Hal ini mungkin tidak dapat terhindarkan jika terpisah cukup lama, terpisah secara geografis maka populasi akan menjadi spesies yang berbeda. Spesiasi Allopatric juga didukung oleh bukti negatif. Dimana dua atau lebih spesies burung yang berhubungan sangat erat terjadi di
suatu pulau, maka pulau-pulau lain atau pun benua dapat diidentifikasi sebagai sumber spesies yang meninvasi, dan dalam semua kasus ada bukti bahwa beberapa spesies menginvasi pulau diwaktu yang terpisah. Dalam model sederhana dari evolusi isolasi reproduksi, substitusi alel komplementer yang tidak mengurangi kemampuan heterozigot terjadi pada beberapa lokus pada satu atau kedua populasi. Interaksi epistatik antara alel tetap pada kedua populasi mengurangi kemamuan hibrida (isolasi postzygotic). Demikian juga, perbedaan genetik dapat mengakibatkan isolasi prezygotic. Perubahan genetik menyebabkan evolusi isolasi reproduktif pada populasi allopatrik yang mungkin disebabkan oleh pergeseran genetik atau oleh adanya perbedaan ekologi atau seleksi seksual. Hanya dalam beberapa kasus yang memiliki efek seleksi ekologi dan telah didokumentasikan dengan baik.
Mekanisme spesiasi allopatric vicariant. Model spesiasi allopatric vicariant telah diusulkan berdasarkan genetik drift, seleksi alam, dan kombinasi dari kedua faktor tersebut. Kombinasi dari pergeseran genetik dan seleksi dibahas kemudian, dalam kaitannya dengan spesiasi peripatric. Peranan seleksi alam, yang paling banyak terjadi pada spesiasi allopatric vicariant adalah disebabkan oleh seleksi alam, yang menyebabkan evolusi perbedaan genetik
sehingga menciptakan ketidakcocokan prezygotic dan / atau postzygotic. Beberapa kemungkinan yang paling banyak dari isolasi reproduksi akan berkembang sedangkan populasinya allopatric, sehingga penghalang secara sebagian atau menyeluruh untuk pertukaran gen terjadi ketika populasi bertemu lagi jika rentang mereka meluas
(Mayr 1963). Jadi spesiasi biasanya pengaruh sebuah produk sampingan dari seleksi divergen yang terjadi selama allopatry. Seleksi divergen mungkin juga seleksi ekologi
atau seleksi seksual.
Kemungkinan secara kontras adalah seleksi alam favors prezygotic (misalnya, seksual) penghalang reproduksi karena fungsi isolasinya, -karena mereka mencegah pembawa dari adanya keturunan hibrida yang tidak layak. Seleksi kemudian akan menghasilkan penguatan isolasi reproduksi. Seleksi seksual mungkin merupakan penyebab penting dalam isolasi prezygotic pada hewan. Isolasi Prezygotic berkembang secara menyeluruh sedangkan populasi allopatric tidak demikian. Tetapi dapat diperkuat ketika populasi menjadi parapatrik atau sympatric. Apakah penguatan atau tidak penguatan itu dapat terjadi, tergantung pada sifat penghalang prezygotic dan atas dasar sifat genetiknya. Seleksi seksual dapat meningkatkan kemungkinan pada penguatan, sedangkan rekombinasi justru dapat mengurangi.
Seleksi ekologi dan spesiasi. Populasi allopatric dan spesies menyebabkan divergensi adaptif dan evolusi isolasi reproduksi, tetapi menunjukkan isolasi reproduksi  adalah hasil dari divergensi adaptif  yang memerlukan bukti bahwa dua proses yaitu secara genetik dan kausal berkaitan satu dengan yang lain. Bukti langsung paling banyak datang dari penelitian laboratorium pada Drosophila dan lalat rumah, di mana peneliti telah mengujinya untuk isolasi reproduktif di antara sub-populasi yang diambil dari populasi dasar tunggal dan dikenakan seleksi divergen untuk berbagai morfologi, perilaku, atau karakteristik fisiologis. Dalam studi ini, isolasi seksual parsial atau isolasi postzygotic dikembangkan, menunjukkan bahwa kemajuan besar menuju spesiasi dapat diamati di laboratorium, dan hal itu  dapat menimbulkan respon berkorelasi terhadap seleksi divergen. Artinya, isolasi reproduktif menyebabkan efek pleiotropic gen untuk karakter terpilih secara divergen, atau gen terkait erat. Beberapa contoh dari populasi alam yang mendukung hipotesis bahwa adaptasi ekologi divergensi menyebabkan isolasi reproduksi sebagai suatu produk sampingan.
Seleksi seksual dan spesiasi. Model seleksi seksual pada sifat jantan karena pilihan betina menunjukkan bahwa sifat-sifat yang berbeda dan preferensi dapat berkembang dalam populasi yang berbeda dari spesies asal, sehingga mengakibatkan spesiasi. Hasil yang diharapkan akan keragaman sifat jantan yang berbeda akan membedakan spesies kolibri dan kelompok hewan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa seleksi seksual menjadi penyebab penting adanya spesiasi, terutama dalam kelompok yang sangat beragam, seperti, Drosophila Hawaii, burung pegar, dan burung cenderawasih, pada jantan umumnya sangat  berwarna atau memeniliki hiasan (Panhuis et AJ. 2001). Perbandingan diversitas seksual kelompok anakan pada burung diduga bahwa seleksi seksual sangar memengaruhi diversitas. Karakter terpilih secara seksual sering bertindak sebagai penghalang pada interbreding. Michael Ritchie (2000) telah memberikan bukti eksplisit bahwa pilihan seksual dalam populasi
menghasilkan isolasi reproduksi.
Penguatan isolasi reproduktif. Kita telah melihat bahwa isolasi reproduksi dapat muncul sebagai efek samping dari divergensi genetik yang menyebabkan seleksi alam. Namun, banyak orang menduga bahwa isolasi reproduksi berkembang, setidaknya hanya sebagian saja, sebagai adaptasi untuk mencegah produksi hibrida tidak baik. Juara
dari sudut pandang ini adalah Theodosius Dobzhansky, yang menyatakan hipotesis ini:
Asumsi bahwa spesies yang baru terbentuk, A dan B, berada dalam kontak di suatu wilayah tertentu. Mutasi timbul di salah satu atau di kedua spesies yang membuatnya carrier kurang memungkinkan untuk kawin dengan spesies lain. Individu nonmutant A yang disilangkan ke B akan menghasilkan keturunan yang adaptif kalah dengan spesies murni. Karena mutan hanya berkembang biak atau sebagian besar dalam spesies, keturunannya akan unggul secara adaptif daripada nonmutants. Akibatnya, seleksi alam akan mendukung penyebaran dan  pembentukan kondisi mutan.
Dobzhansky memperkenalkan "mekanisme isolasi" untuk menandai penghalang reproduksi, yang ia percayai bahwa  memang mekanisme tersebut dirancang untuk mengisolasi. Sebaliknya, Ernst Mayr (1963) antara lain menyatakan bahwa meskipun seleksi alam mungkin meningkatkan isolasi reproduksi, hambatan reproduksi timbul sebagai efek samping dari divergensi allopatric, mungkin itu penyebabnya.
Pada sebagian besar organisme, seleksi alam tidak dapat memperkuat isolasi postzygotic antara hibridisasi populasi karena proses tersebut akan memerlukan alel yang mengurangi kesuburan atau frekuensi peningkatan kelangsungan hidup, yang justru akan berlawanan dengan arti seleksi alam. Peningkatan penghalang prezygotic yang Dobzhansky bayangkan sering disebut penguatan isolasi prezygotic. Proses ini telah dikutip sebagai penyebab perpindahan karakter, artinya suatu pola  dimana karakter-karakter berbeda lebih baik dua taksa sympatric dibanding mereka yang allopatric (Brown dan Wilson 1956). Model teoritis telah menunjukkan bahwa kemungkinan reinforcement direduksi oleh beberapa faktor dan ditingkatkan oleh satu dengan yang lain. Penguatan isolasi prezygotic tampaknya terjadi cukup sering.
Salah satu hipotesis Ernst Mayr yang paling berpengaruh dan kontroversial adalah pendiri efek spesiasi (1954), yang kemudian disebut spesiasi peripatric. Dia mendasarkan hipotesis ini pada pengamatannya pada burung dan hewan lain, bahwa populasi terisolasi dengan distribusi terbatas, di lokasi perifer ke distribusi yang kemungkinan "parent" dari spesies, sering memiliki perbedaan yang sangat jelas, ke suatu titik yang diklasifikasikan sebagai spesies yang berbeda atau bahkan genera. Sebagai contoh, kadal kecil Uta stansburiana hanya menunjukkan variasi yang tidak begitu kentara atau terlihat di seluruh wilayah bagian barat Amerika Utara, namun populasi di pulau yang berbeda, yaitu  di Teluk California terdapat variasi yang sangat mencolok dalam ukuran tubuh, skalasi, warna, dan kebiasaan ekologi yang beberapa telah memiliki nama spesies yang terpisah.
Mayr menduga bahwa perubahan genetik bisa sangat cepat di populasi lokal, yang
didirikan oleh beberapa individu dan terputus dari pertukaran gen dengan badan utama dari
spesies tersebut. Mayr beralasan bahwa frekuensi alel di beberapa lokus akan berbeda dengan populasi induk karena kejadian sampling, yaitu, pergeseran-sederhana karena koloni dalam jumlah kecil hanya akan membawa beberapa alel dari populasi sumber, dan pada perubahan frekuensi. Karena interaksi epistatik antar gen mempengaruhi ketepatan, perubahan awal di frekuensi alel pada beberapa lokus akan mengubah nilai selektif genotip yang lain, interaksi lokus. Karena seleksi akan mengubah frekuensi alel pada lokus ini, dan ini pada gilirannya dapat menyeleksi untuk suatu perubahan pada yang lain dan masih secara epistatik ada interaksi antar lokus. Pada penggambaran “Bola salju” perubahan genetik yang mungkin timbul secara kebetulan akan menghasilkan isolasi reproduksi.
Banyak spesies asli seperti yang Mayr katakan, sebagai "Tunas" yang terlokalisasi dari spesies induk yang tersebar luas. Bukti terbaik terdiri dari filogeni sekuen DNA yang diambil dari populasi geografis yang bervariasi, sebaran luas spesies dan spesies yang terkait erat dengan sempit, sering kali perifer, distribusi. Spesies lokal sering terbukti lebih erat kaitannya dengan populasi tertentu dari spesies luas dibanding populasi dari spesies yang luas antar yang satu sama lain.
Bentuk spesiasi allopatric, parapatric, dan simpatric kontinum, dari sedikit menjadi lebih banyak pertukaran gen antara kelompok divergen, yang akhirnya berkembang hambatan biologis untuk pertukaran gen. Bahkan dalam spesiasi allopatric, mungkin ada beberapa aliran gen antar populasi, tetapi sangat rendah dibandingkan dengan aksi divergen dari seleksi alam dan / atau pergeseran genetik. Spesiasi Parapatric adalah proses sama, tapi karena tingkat aliran gen lebih tinggi, kekuatan seleksi harus harus sejalan lebih kuat untuk menimbulkan perbedaan genetik yang menciptakan isolasi reproduksi. Sebagaimana telah kita lihat, distribusi parapatric atau sympatric pada spesies anakan tidak selalu memberikan bukti bahwa mereka muncul melalui spesiasi parapatric atau sympatric, karena distribusi spesies berubah sepanjang waktu. Karena spesies simpatric mungkin dihasilkan oleh spesiasi allopatric, bukti distribusi harus hati-hati diinterpretasikan.
Spesiasi Parapatric secara teoritis dapat terjadi jika aliran gen antara populasi yang menempati daerah yang berdekatan dengan tekanan selektif yang berbeda jauh adalah lebih lemah daripada seleksi yang berbeda untuk kombinasi gen yang berbeda. Kemungkinan yang lainyaitu populasi yang diisolasi oleh jarak dapat berkembang ketidakcocokan reproduksi. Spesiasi Parapatric pasti terjadi dan bahkan mungkin umum, tapi sangat sulit untuk menunjukkan bahwa ia menyediakan penjelasan yang lebih baik dari spesiasi allopatric untuk kasus-kasus nyata (Coyne dan Orr 2004). Contoh terbaik terdokumentasi dengan asal dari parapatric isolasi reproduksi tidak disebabkan teori ini, tetapi seleksi untuk isolasi, yakni penguatan.
Spesiasi peripatric, atau pendiri pengaruh spesiasi, adalah suatu bentuk hipotetis spesiasi allopatric di mana pergeseran genetik pada populasi perifer kecil, memulai evolusi secara cepat, dan isolasi reproduktif adalah melalui produk. Kemungkinan bentuk spesiasi berbeda dan sangat tergantung pada model matematika yang digunakan. Meskipun pola geografis spesiasi yang diperkirakan oleh hipotesis ini mungkin umum, ada sedikit bukti untuk proses spesiasi yang disebabkan oleh pergeseran.
Spesiasi Sympatric adalah subjek yang sangat kontroversial. Spesiasi akan menjadi sympatric jika penghalang biologis untuk pertukaran gen muncul dalam populasi yang awalnya acak kawin tanpa segregasi spasial dari spesies yang baru terbentuk, yaitu jika spesiasi terjadi walaupun pada awalnya aliran gen sangat tinggi. Kesulitan dari model spesiasi sympatric harus diatasi, yaitu bagaimana mengurangi frekuensi genotipe intermediet yang akan bertindak sebagai pemberi pada pertukaran gen antara spesies yang baru jadi.
Ernst Mayr (1942, 1963) adalah kritikus paling kuat dan berpengaruh dari hipotesis spesiasi sympatric, menunjukkan bahwa banyak dugaan kasus yang tidak meyakinkan dan hipotesis harus mengatasi kesulitan teoritis yang parah. Dalam keadaan tertentu yang secara khusus, namun, kesulitan ini tidak semua parah.
Kebanyakan model spesiasi sympatric, postulat mengganggu (diversifikasi) seleksi, dimana genotipe homozigot tertentu memiliki fitness tinggi pada satu atau yang lain dari dua sumber (atau dalam dua habitat mikro) dan intermediet (heterozigot) fenotipe memiliki fitness rendah, mungkin karena mereka tidak beradaptasi dengan baik terhadap sumber yang ada. Adaptasi divergen pada sumber makanan berdasar pada satu atau beberapa lokus. Seleksi selanjutnya akan mendukung alel di satu atau lebih pada lokus yang lain, yang mampu menyebabkan perkawinan non acak, mereduksi frekuensi dari anakan heterozigot yang tak layak. Spesies baru ini akan menjadi berbeda di beberapa lokusnya, yang mengatur perilaku kawin dan adaptasi terhadap sumber-sumber yang berbeda. Masalah yang muncul seperti yang ditunjukkan oleh Joseph Felsenstein (1981), bahwa rekombinasi akan memecah sebagian paket genetik adaptasi ini. Spesiasi sympatric, asal-usul isolasi reproduksi dengan sebuah awalnya berupa perkawinan populasi secara acak. Hal ini dapat terjadi sehingga menyebabkan seleksi. Namun, evolusi sympatrik dari isolasi seksual tidak mungkin, karena rekombinasi antara lokus yang mempengaruhi perkawinan dan hal itu mempengaruhi karakter yang terganggu dipilih. Spesiasi Sympatric dapat terjadi, namun jika rekombinasi tidak menentang seleksi. Misalnya, jika seleksi mengganggu mendukung preferensi untuk habitat yang berbeda dan jika perkawinan terjadi dalam habitat tersebut, isolasi prezygotic dapat terjadi. Dan seberapa sering hal ini terjadi masih diperdebatkan.
Karena kondisi yang dibutuhkan untuk spesiasi sympatric terjadi secara teoritis lebih terbatas daripada untuk spesiasi allopatric, dan karena tidak ada bukti banyak untuk spesiasi allopatric, spesiasi sympatric harus lebih banyak ditunjukkan daripada diasumsikan untuk sebagian besar kelompok organisme. Seperti demonstrasi mungkin cukup sulit. Namun demikian, contoh kemungkinan yang cukup banyak, dengan didukung oleh bukti berbagai tingkat, yang telah diusulkan. Banyak penelitian telah dilakukan dalam populasi laboratorium seperti pada Drosophilla telah diperlakukan supaya seleksi disruptif kemudian diuji cobakan untuk isolasi prezigotik.
Poliploidi adalah organisme dengan lebih dari dua komplemen kromosom. Tetraploid misalnya, memiliki empat  komplemen kromosom didalam sel somatiknya. Populasi poliploidi yang terisolasi secara reproduktif oleh hambatan postzygotic dari diploidnya nenek moyang dan karena itu spesies biologi berbeda. Spesiasi oleh adanya poliploidi adalah mode yang hanya dikenal dari spesiasi yang seketika terbentuk oleh kejadian genetik tunggal.
Untuk alasan yang tidak dipahami dengan baik, spesies poliploidi jarang di antara yang bereproduksi secara seksual hewan, meskipun banyak hewan partenogenesis poliploidi telah dijelaskan. Poliploidi sangat umum pada tumbuhan. Sebanyak 35 persen pada spesies tanaman bunga memiliki jumlah kromosomnya adalah kelipatan dari jumlah terendah yang ditemukan pada genus mereka (Goldblatt 1979). Banyak kelompok tanaman, termasuk lebih dari 75 persen dari spesies tanaman berpembuluh, mewarisi jumlah kromosom sangat tinggi dari leluhur poliploidi yang lebih kuno atau terdahulu. Spesiasi instantaneous oleh poliploidi umum pada tumbuhan. Spesies Allopolyploid timbul dari hibrida antara populasi yang berbeda secara genetik. Pembentukan populasi poliploidi membutuhkan segregasi spasial ekologis atau dari nenek moyang diploid karena keturunan silang balik memiliki keberhasilan reproduksi rendah. Spesies polyploid dapat mempunyai asal yang multipel.
Poliploidi biasanya terjadi karena kegagalan dari reduksi pada pembelahan meiosis (Ramsey dan Schemske 1,998). Sebuah tonggak dalam studi spesiasi ini adalah penelitian produksi pada spesies poliploidi alam oleh Arne Muntzing tahun 1930. Muntzing menduga bahwa pada tanaman Galeopsis tetrahit dengan 2n= 32 kromosom, mungkin menjadi allotetraploid berasal dari  diploid (2n=16) leluhur dari spesies G. Pubescent dan G. Speciosa. Dia menyilangkan dua jenis spesies diploid tersebut, dan dari hasil F1 diploid dia peroleh satu triploid anakan. Triploid tersebut dia silangkan dengan G. Pubescent, hasilnya terdapat satu anakan yang tetraploid, seperti yang telah Muntzing sebarkan atau umumkan.
Dalam sebuah kasus yang sedikit didokumentasikan (pada tanaman), beberapa genotipe hibrida diploid merupakan fertil dan isolasi reproduktif dari spesies induk, dan menimbulkan spesies baru (spesiasi recombinasional).
Waktu yang diperlukan spesiasi untuk melanjutkan sampai selesai sangat bervariasi. Hal ini lebih pendek untuk beberapa mode spesiasi (poliploidi, spesiasi rekombinasi) dari yang lain (terutama spesiasi oleh mutasi dan pergeseran alel netral yang memberikan ketidakcocokan). Proses spesiasi mungkin memerlukan rata-rata 2-3 juta tahun, untuk beberapa kelompok organisme, melainkan lebih lama dalam beberapa kasus dan sangat jauh lebih pendek untuk yang lain. Tingkat munculnya spesies baru, diperkirakan dari filogenetik dan data paleontologis, juga sangat bervariasi. Seleksi seksual pada hewan dan hewan polinasi pada tanaman muncul untuk meningkatkan tingkat spesiasi.
Spesiasi adalah sumber keragaman organisme yang bereproduksi secara seksual, dan suatu kejadian yang bertanggung jawab untuk setiap cabang di filogeninya. Hal ini mungkin tidak merangsang perubahan evolusi pada karakter morfologi, seperti yang diduga oleh hipotesis diselingi kesetimbangan, tetapi dapat memberikan kontribusi jangka panjang perbedaan progresif dengan mencegah perkawinan antara populasi dari terganggunya perubahan yang ditimbulkan oleh seleksi alam. Dari penelitiannya bahwa banyak perubahan kecil pada garis keturunan fosil terjadi atau terbentuk selama jutaan tahun, para peneliti-peneliti ini menduga bahwa spesies-spesies ini telah tersebar, dan kendala internal dapat mencegah evolusi adaptif.
Genetika populasi secara umum mencegah hipotesis ini, setelah itu variasi karakter morfologi antara populasi pada spesies, seperti yang mereka lakukan antara spesies terisolasi reproduksi.

ANALISA SEMEN SEGAR


LAPORAN HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG


PEMELIHARAAN TERNAK PEJANTAN UNGGUL, PRODUKSI SEMEN BEKU, SERTA PEMASARAN DAN INFORMASI DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI





disusun oleh :

Ervin Jumiatin                (0910913108)
Lintang Chandra            (0910910008)
M. Dwi Susan                  (0910910056)
Nufriyanti                        (0910910023)















JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Usaha yang bergerak dalam di bidang ternak sapi di Indonesia membutuhkan perhatian khusus dalam kaitannya dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan populasi setiap tahunnya. Dalam menanggulangi masalah itu dibutuhkan teknologi tepat yang bisa diterapkan secara mudah dan efisien. Salah satu teknologi yang bisa digunakan yaitu inseminasi buatan. Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu bentuk bioteknologi dalam bidang reproduksi yang memungkinkan manusia untuk mengawinkan hewan betina tanpa perlu seekor pejantan utuh. Inseminasi buatan sebagai teknologi merupakan suatu rangkaian proses yang terencana dan terprogram karena akan menyangkut kualitas genetik hewan di masa yang akan datang (Kartasudjana, 2001). Prinsip dari pelaksanaan inseminasi buatan yaitu pencurahan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina pada saat estrus dengan tujuan agar sel telur yang diovulasikan hewan betina dapat dibuahi oleh sperma sehingga hewan betina menjadi bunting dan melahirkan anak. Namun pada perkembangan lebih lanjut, program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan betina. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan) (Sugoro, 2009).
Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan IB ialah mutu semen beku. Selain itu, keberhasilan IB juga dipengaruhi oleh reproduksi ternak betina dan keterampilan petugasnya, ketepatan dan pelaporan deteksi berahi, serta pemeliharaan ternak betina. Oleh sebab itu untuk terjaminnya mutu semen beku sapi yang beredar, perlu ditetapkan standar semen beku sapi. Mutu semen beku sapi yang memenuhi standar harus didukung oleh penanganan yang baik dan benar agar mutu semen beku sapi dapat dipertahankan hingga siap untuk diinseminasikan. Kualitas semen yang digunakan untuk inseminasi buatan harus memenuhi persyaratan seperti volume, warna, pH, konsistensi, motilitas, konsentrasi, dan morfologi sperma untuk mempertahankan kualitas semen. Dengan demikian Praktek Kerja Lapang ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru terhadap mahasiswa tentang proses inseminasi buatan.
1.2  Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan diadakannya Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan realitas yang ada di lapangan serta mempelajari salah satu metode populer yang digunakan untuk memelihara ternak unggul sapi ataupun kambing dan menganalisis kualitas semen beku.

1.3  Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2012 sampai dengan 23 Februari 2012. Bertempat di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Malang.

1.4  Metode Pelaksanaan
1.4.1    Orientasi
Pada metode ini dilakukan suatu kegiatan perkenalan atau penjabaran tentang bagaimana lokasi dan segala aktivitas yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan  Singosari, Malang.
1.4.2    Pelaksanaan
Pada metode ini seluruh peserta Praktek Kerja Lapang ini diharuskan terjun langsung ke lokasi dengan mengikuti semua rangkaian aktivitas yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Serangkaian aktivitas tersebut meliputi pemeliharaan kesehatan ternak unggul, pemberian hijauan ternak, penampungan semen, pemeriksaan semen, sterilisasi, dan pemasaran serta informasi.
1.4.3    Pelaporan
Pada metode ini seluruh peserta Praktek Kerja Lapang diharuskan melaporkan hasil kerjanya dalam bentuk seminar.









BAB II
KEADAAN UMUM

2.1 Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari adalah sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 681/Kpts/OT.140/11/2004. Balai Besar Inseminasi Buatan merupakan Unit Pelaksanaan Teknik eselon 2b yang bertanggung jawab kepada Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan.
BBIB Singosari terletak di dusun Glatik, desa Toyomarto, kecamatan Singosari, kabupaten Malang. Berdasarkan jarak tempuh, 20 km sebelah utara kota Malang, dengan ketinggian 800-1200 m diatas permukaan laut, rataan suhu udara berkisar antara 16 - 22°C, dengan kelembaban berkisar antara 70 – 90 %, dengan curah hujan 2.233 mm/tahun. Untuk menunjang aktifitasnya Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari memiliki areal seluas 67,72 Ha, dilengkapi dengan bangunan perkantoran, asrama, gedung belajar, auditorium, guest house, kandang sapi dan kambing, laboratorium, arena penampungan, kebun rumput, gudang, garasi, perumahan dinas, kereta biosecurity dan alat mesin pertanian.
Pada tahun 1976, pemerintah daerah propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan pemerintah Belgia (AB 05 dan ATA 73) mendirikan Laboratorium Semen Beku di Wonocolo-Surabaya. Perkembangan selanjutnya, pemerintah pusat mengambil alih pengelola laboratorium dan ditetapkan sebagai Cabang Balai Inseminasi Buatan Wonocolo pada tahun 1978 dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.314Kpts/Org/5/1978. Tahun 1982 terjadi pemindahan lokasi dari Wonocolo ke Singosari-Malang dan  pada tahun 1984  Direktur Jendral Peternakan menetapkan sebagai Cabang Balai Inseminasi Buatan Singosari. Perkembangan dari Balai Inseminasi Buatan Singosari semakin meningkat dengan adanya kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam proyek pengembangan BIB Singosari melalui Japan International Cooperation Agensy (JICA) pada tahun 1986. Tanggal 29 Februari 1988 status Cabang Balai Inseminasi Buatan ditingkatkan menjadi Balai Inseminasi Buatan Singosari dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 193/Kpts/OT.210/2/1988 dan pada tanggal 29 Agustus 1996 ditetapkan sebagai Pusat Pelatihan Inseminasi Buatan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan No. 52/OT.210/Kpts/0896. Pada tahun 2004, statusnya ditingkatkan menjadi Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari (BBIB) dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 681/Kpts/OT.140/11/2004. Pengembangan selanjutnya pada tahun 2010 ditetapkan menjadi unit kerja yang menerapkan PPK-BLU (Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan n0.54/KMK 05/2010.
            Sesuai dengan surat keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/OT.140/11/2004. pada tanggal 25 November 2004 Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari memiliki tugas pokok sebagai berikut : “Produksi Pemasaran dan pemantauan mutu semen unggul ternak serta pengembangan inseminasi buatan”.
            Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari memiliki fungsi sebagai berikut:
a. penyusunan program kegiatan produksi, pemasaran dan pemantauan mutu semen unggul ternak serta pengembangan inseminasi buatan
            b. pelaksanaan pemeliharaan ternak pejantan unggul
            c. Pelaksanaan pengujian keturunan dan fertilitas pejantan unggul
            d. pelaksanaan produksi dan penyimpanan semen unggul ternak
            e. pelaksanaan pemantauan dan pengawasan mutu semen unggul ternak yang beredar
            f. pelaksanaan pengembangan teknik dan metode inseminasi buatan
            g. pemberian saran teknik produksi semen unggul ternak
            h. pemberian pelayanan teknik kegiatan produksi dan pemantauan semen unggul ternak dan pengembangan inseminasi buatan
            i. pelaksanaan pemasaran dan distribusi semen unggul ternak
            j. pemberian informasi dan pelaksanaan dokumentasi hasil kegiatan inseminasi buatan
            k. pengelolaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
           
2.2 Personalia
Berdasarkan data pada bulan Oktober 2011 jumlah pegawai di Balai Besar Inseminasi Buatan sebanyak 101 orang, dengan perincian golongan IV sebanyak 5  orang, golongan III sebanyak 51 orang, golongan II sebanyak 30 orang, golongan I sebanyak 4 orang dan CPNS sebanyak 11 orang.







2.3 Struktur Organisasi BBIB Singosari




































BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pemeliharaan Ternak
3.1.1 Jenis Ternak di BBIB Singosari
Di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari ini memiliki jenis ternak unggul berupa sapi dan kambing. Pada sapi unggul terdiri atas sembilan bangsa dan pada kambing terdiri atas dua bangsa. Berikut ini adalah nama-nama bangsa sapi dan kambing yang ada di BBIB Singosari:
1.    Bangsa Brahman
Brahman merupakan sapi pengembangan dari keturunan zebu atau nellore (Bos indicus) yang berkembang pesat di Amerika Serikat. Sapi brahman banyak digunakan untuk perkawinan silang dalam rangka mendapatkan sapi yang cocok di daerah tropis. Sapi ini banyak berkembang di Amerika Serikat.
Ciri khas Sapi Brahman adalah mempunyai punuk yang besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Bulunya yang tipis dan berwarna putih atau kelabu. Otot tubuh kompak dan berpunuk. Kepala besar dan tidak bertanduk. Paha besar dan kaki panjang, gelambir mulai dari rahang bawah sampai ujung tulang dada depan tidak terlalu berlipat-lipat (Agus, 2007).
2.    Bangsa Madura
Sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia yang banyak didapatkan di Pulau Madura. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan terhadap kondisi pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa mutu sapi Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai produktivitas dari waktu ke waktu. Sapi Madura tergolong sapi yang berukuran kecil. Tinggi sapi jantan berkisar 120 cm dan betina 105 cm. Sapi madura berwarna merah coklat atau coklat tua dengan warna putih tanpa batas yang jelas disekitar pantat. Warna putih juga ditemui pada daerah kaki serta sedikit di sekitar moncong. Bobot hidup berkisar 220 - 250 kg, dengan berat karkas berkisar 50,96% - 51,72%. Libido sapi jantan sangat kuat namun, produksi semen agak rendah. Sapi jantan mempunyai rata-rata 1,0 - 1,3 ml per-ejakulasi dengan konsetrasi 409 juta spermatozoa. Pada sapi jantan, gumba berkembang dengan baik sedangkan sapi betina, gumba tidak tampak jelas. Tinggi gumba pada sapi jantan kelas I minimal 121 cm, kelas II minimal 110 cm dan kelas III minimal 105 cm. Tinggi gumba sapi betina kelas I minimal 108 cm, kelas II minimal 105 cm, kelas III minimal 102 cm. Sapi madura jantan berumur 24-36 bulan sedangkan sapi betina berumur 18-24 bulan (Soeprapto, 2006).
3.    Bangsa Bali
Sapi bali merupakan keturunan dari banteng (Bos sondaicus) yang telah dijinakkan. Sapi jenis ini berwarna coklat muda. Namun, warna sapi bali jantan akan berubah menjadi lebih tua. Salah satu ciri fisik dari sapi Bali yaitu memiliki warna putihpada bagian pantat dan kaki. Keunggulan sapi Bali di antaranya mutu daging bertekstur lembut dan tidak berlemak (Yulianto dan Saparinto, 2010).
4.    Bangsa Simental
Sapi simental banyak dijumpai di Eropa. Sapi jenis ini merupakan sapi dwiguna, yaitu sapi yang menghasilkan susu dan daging. Sapi ini keturunan dari Bos taurus yang berasal dari Switzerland (Yulianto dan Saparinto, 2010). Secara morfologi, sapi Simental memiliki ciri fisik tidak berpunuk, tidak bergelambir, pada bagian kepala memiliki warna bulu putih.
5.    Bangsa Limousin
Sapi limousin merupakan sapi bangsa Bos taurus yang berasal dari Prancis. Sapi ini sangat cocok dipelihara di daerah beriklim sedang. Sapi limousin merupakan sapi pedaging bertipe besar dan mempunyai volume rumen yang besar pula. Oleh karena itu, sapi ini mampu menambah konsumsi pakannya lebih banyak di luar kebutuhan yang sebenarnya. Bentuk tubuhnya besar, panjang, kompak dan padat. Tubuhnya berwarna coklat muda, kuning, hingga kelabu. Pertumbuhan badannya sangat cepat dengan bobot badan jantan dewasa bisa lebih dari 1.000 kg, sedang betina 600 - 850 kg. Masa produktif sapi betina antara 10 - 12 tahun. Tanduk pada sapi jantan tumbuh keluar dan agak melengkung. Sapi limousin murni masih sulit ditemukan di Indonesia. Sapi limousin yang dipelihara di Indonesia umumnya merupakan hasil persilangan dengan sapi lokal.
Sapi Limousin merupakan keturunan sapi eropa yang berkembang di Prancis dan sapi jenis ini merajai di pasar-pasar sapi Indonesia dan merupakan sapi primadona untuk penggemukan, harganya mahal karena mempunyai tingkat pertambahan berat badan yang cepat perharinya yaitu 1,1 kg. Sapi limousin memiliki pertumbuhan yang baik dan cukup cepat. Sapi ini juga tidak begitu tahan terhadap penyakit yang menyebabkan kematian. Persilangan sapi limousin dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi limousin ongole (limpo). Sapi limpo memiliki ciri tidak berpunuk, tidak bergelambir, dan warna bulu hanya coklat tua (Sudarmono, 2006).

6.    Bangsa Aberdeen angus
Sapi Angus merupakan salah satu bangsa sapi yang memiliki kulit berwarna hitam pekat. Sapi ini berasal dari suatu daerah dataran tinggi Abardeen Shire dan Aungushire di Skotlandia. Sapi ini tidak mempunyai tanduk dan punuk.  Sapi Angus memiliki karakteristik pendek, bulat, lincah aktif bergerak (Yulianto dan Saparinto, 2010).
7.    Bangsa Brangus
Brangus, berasal dari Oklahama, Amerika Serikat. Jenis ini merupakan hasil persilangan antara betina brahman (Bos indicus) dengan jantan aberdeen angus (Bos taurus). Sapi ini bertubuh tidak terlalu besar, berpunuk, berwarna kulit hitam (Yulianto dan Saparinto, 2010).
8.    Bangsa Friesian Holstein (FH)
Holstein (mungkin juga dikenal sebagai Friesian Holstein atau Friesian) adalah jenis sapi perah yang sekarang dikenal sebagai sapi yang menghasilkan susu tertinggi di dunia produksi atau di dunia peternakan. Sapi Friesian Holstein ini berasal dari Eropa. Holsteins pertama kali dikembangkan di wilayah yang Belanda dan lebih khususnya di dua provinsi, yaitu  North Holland and West Friesland (bukan dari Holstein, jerman), di mana keua provinsi ini merupakan suatu padang rumput yang baik (Tripod, 2010).
Sapi Friesian Holstein menduduki populasi terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di negara-negara sub-tropis maupun tropis. Bangsa sapi ini mudah beradaptasi ditempat baru. Di Indonesia populasi bangsa sapi Friesian Holstein juga yang terbesar diantara bangsa-bangsa sapi perah yang lain. Di Indonesia, kecuali menggunakan sapi Friesian Holstein murni sebagai sapi perah, khususnya di Jawa Timur (AAK, 1980).
Sapi Friesian Holstein memiliki ciri fisik seperti warna bulunya belang hitam putih dengan perbatasan tegas sehingga tidak terdapat warna bayangan, pada dahinya terdapat warna putih berbentuk segitiga, pada bagian dada, perut bawah, kaki dari tracak sampai lutut dan bulu ekor kipas berwarna putih, memiliki tanduk berukuran kecil, menjurus kedepan. Standar berat badan untuk sapi Friesian Holstein betina adalah 1250 pon (567 kg) dan untuk pejantan berat paling rendah 1800 pon (816 kg). Sapi ini lebih besar dibandingkan dengan sebagian besar sapi ternak yang lain dalam satu breed/ bangsa. Bangsa sapi perah Friesian holstein mempunyai kemampuan menghasilkan air susu lebih banyak daripada sapi perah lainnya, yaitu mencapai 5982 liter per laktasi dengan kadar lemak 3,7 persen (Syarief, 1984).
Sapi Friesian Holstein  memiliki sifat yang tenang, jinak sehingga mudah dikuasai. Sapi ini tidak tahan terhadap panas, namun mudah beradaptasi, menghendaki tanah yang datar dan berumput baik serta lambat dewasa. Sapi Friesian Holstein merupakan sapi perah yang berukuran besar. Berat badan sapi jantannya mencapai 850 kg dan sapi betinanya mencapai 625 kg (Syarief, 1984).
9. Bangsa Ongole
Sapi ongole, merupakan sapi keturunan sapi liar Bos indicus yang berhasil dijinakkan di India. Di Indonesia, sapi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sumba ongole (SO) dan peranakan ongole (PO). Ongole memiliki tubuh besar dan panjang, leher agak pendek, dan kakinya panjang. Sapi ini berwarna keputihan dan terdapat warna kelabu gelap di sekitar kepalanya (Yulianto dan Saparinto, 2010).
10. Bangsa Boer
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi selama lebih dari 65 tahun. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg pada umur lima hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 - 0,04 kg per hari. Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25˚C) hingga sangat panas (43˚C) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan serta tahan terhadap penyakit (Subandi, 2005).
11. Bangsa PE (Peranakan Etawa)
Kambing PE atau peranakan Etawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing lokal. Kambing PE merupakan kambing yang bersifat adaptif terhadap lingkungan lokal di Indonesia. Ciri-ciri dari kambing PE mempunyai badan besar, dengan tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina mencapai 92 sentimeter. Bobot kambing jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina mempunyai tanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari (Andy, 2009).

3.1.2 Jumlah Populasi Ternak
Berdasarkan data sampai dengan Desember 2011, jumlah populasi ternak di BBIB Singosari adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah Populasi Ternak Sapi Pejantan di BBIB Singosari
No.
Bangsa
Jumlah (ekor)
1.
Sapi Brahman
11
2.
Sapi Madura
11
3.
Sapi Bali
15
4.
Sapi Simental
45
5.
Sapi Limousin
66
6.
Sapi Aberdeen Angus
10
7.
Sapi Brangus
1
8.
Sapi Friesian Holstein (FH)
24
9.
Calon Pejantan FH
23
10.
Sapi Ongole
5
Total
211

Tabel 2. Jumlah Populasi Ternak Kambing di BBIB Singosari
No.
Bangsa
Jumlah (ekor)
1.
Kambing Boer
6
2.
Kambing Peranakan Etawa (PE)
16
Total
22

3.1.3 Perawatan Ternak
3.1.3.1 Kebersihan Kandang
3.1.3.1.1 Sapi
Pembersihan kandang sapi dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari, yaitu setiap pagi hari dan siang hari. Pembersihan pada pagi hari meliputi tempat pakan atau palungan, tempat minum, lantai kandang bagian luar dan dalam, serta memandikan sapi. Sedangkan pembersihan pada siang hari hanya membersihkan lantai dalam kandang. Pembersihan kandang yang dilakukan setiap hari bertujuan sebagai upaya untuk mengurangi adanya mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan. Alat yang digunakan untuk pembersihan kandang adalah sekrop, sapu lidi, sikat, dan kereta dorong.

3.1.3.1.2 Kambing
Pembersihan kandang kambing meliputi pembersihan kandang dari sisa-sisa rambanan dan feses dengan menggunakan sapu dan sekrop serta pembersihan tempat makan atau palungan dari sisa-sisa pakan dan konsentrat.

3.1.3.2 Memandikan Ternak
Kebersihan ternak sapi bertujuan untuk menghindari adanya jamur atau mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit, dan agar terlihat bersih pada saat dilakukan penampungan semen. Sapi dimandikan setiap pagi dengan disemprot air bersih di sisi kanan, kiri, bagian pantat sampai kaki kemudian disikat, terutama pada bagian preputiumnya. Sedangkan kambing tidak dimandikan karena sudah terlihat bersih.

3.1.3.3 Pemberian Pakan Ternak
3.1.3.3.1 Sapi
Pemberian pakan sapi dilakukan sebanyak dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Jenis pakan yang diberikan pada sapi yaitu wafer, silase, mineral, konsentrat, dan rumput gajah. Setiap ekor sapi diberi wafer sebanyak 1,5 – 2 kg per hari, silase 5 – 7,5 kg per hari, konsentrat 5 – 7 kg per hari, serta rumput 15 – 30 kg per hari. Konsentrat memiliki kandungan air, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, kalsium, phosphor, coccidiostat, dan antibiotika. Bahan baku yang digunakan untuk konsentrat adalah jagung kuning, wheat bran, SBM, tetes, palm olien asam amino esensial, mineral esensial, premix, dan vitamin. Sedangkan komposisi dari mineral antara lain Ca, P, K, Cu, Zn, Mn, Fe, S, I, Co, Se, serta vitamin A, D, dan E. Mineral ini memiliki kegunaan untuk menambah nafsu makan, mencegah kembung, dan mencegah sapi memakan tanah.

3.1.3.3.2 Kambing
Pemberian pakan kambing dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari. Pakan yang diberikan pada kambing berupa hijauan Gliricidae dan rumput gajah, konsentrat, dan mineral. Hijauan yang diberikan sebanyak 8 kg per hari. Konsentrat yang diberikan pada kambing Boer sebanyak 1,5 kg per hari. Sedangkan untuk kambing PE diberi konsentrat sebanyak 1,5 kg per hari.
3.1.3.4 Penimbangan dan Pengukuran
3.1.3.4.1 Sapi
Penimbangan dilakukan setiap satu bulan sekali dengan menggunakan timbangan elektrik. Ternak dibawa ke kandang jepit yang telah disiapkan dan menaikkan sapi tersebut ke plat penimbangan yang terbuat dari kayu. Pembacaan pada timbangan dilakukan apabila posisi berdiri sapi sudah sempurna. Sedangkan pengukuran dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pengukuran badan ini dilakukan dengan mengukur tinggi gumba, panjang badan, dan lingkar dada menggunakan tongkat dan pita ukur.

3.1.3.4.2 Kambing
Penimbangan dilakukan setiap satu bulan sekali dengan menggunakan timbangan elektrik. Sedangkan pengukuran badan dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan cara melakukan pengukuran panjang badan, tinggi gumba, dan lingkar dada. Alat yang digunakan untuk pengukuran ini adalah tongkat ukur dan pita ukur.

3.1.3.5. Latihan Gerak
3.1.3.5.1 Sapi
Setiap seminggu dua kali, sapi dikeluarkan dari kandang dan diberikan latihan gerak secukupnya guna menjaga kondisi tubuh ternak.

3.1.3.5.2 Kambing
Setiap satu minggu sekali, kambing dikeluarkan dari kandang dan diberikan latihan gerak secukupnya untuk menjaga kondisi tubuh.

3.1.3.6 Pengapuran Kandang Sapi
Pengapuran kandang dilakukan setiap enam bulan sekali dan bertujuan untuk mencegah adanya pertumbuhan jamur. Pengapuran kandang ini dilakukan dengan menggunakan gamping dan cat tembok. Sebelum melakukan pengapuran, kotoran yang menempel di dinding dibersihkan dan disapu.





3.1.4 Perawatan Kandang
3.1.4.1 Sapi
Perawatan yang dilakukan pada kandang sapi pejantan meliputi pembuatan dan pemasangan papan nama, pengapuran kandang, perbaikan lantai kandang yang rusak, khususnya lantai kayu, dan penambahan pasir pada paddock yang dilakukan setiap dua kali dalam setahun.

3.1.4.2 Kambing
Perawatan yang dilakukan pada kandang kambing meliputi pembuatan dan pemasangan papan nama, perbaikan lantai dan dinding yang rusak atau patah, pembuangan kotoran yang berada di bawah kandang ke tempat pembuangan setiap satu minggu sekali.

3.1.5 Kesehatan Hewan
3.1.5.1 Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin pada sapi dilakukan secara rutin sekali dalam satu bulan sebanyak 5 cc, sedangkan pemberian vitamin pada kambing dilakukan dua kali dalam satu bulan sebanyak 2,5 cc . Vitamin yang diberikan antara lain vitamin A, D, dan E.

3.1.5.2 Penanganan Kesehatan Hewan
Penanganan kesehatan hewan ini dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari  dalam bentuk pengontrolan secara rutin ke setiap kandang-kandang. Hal ini bertujuan apabila ditemukan adanya penyakit pada hewan dapat segera ditangani. Tanda awal dari ternak yang sakit yaitu nafsu makan yang berkurang.

3.1.5.3 Pemotongan Kuku dan Pencukuran Rambut
Pemotongan kuku serta pencukuran bulu ini dilakukan secara rutin pada 6 bulan sekali. Kedua hal ini bertujuan untuk menghindari hewan dari terserang Laminitis. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain grinda yang digunakan untuk membentuk pola, kamagateito yang digunakan untuk  memotong kuku, reynet yang digunakan untuk membersihkan lubang pada kuku, clipper yang digunakan untuk mencukur bulu pada telinga, serta gunting untuk menculur rambut pada ekor.
Pada saat pemotongan kuku dan pencukuran rambut, sapi dimasukkan kedalam kandang jepit dan diikat mengunakan tali pada bagian depan dan belakang. Setelah itu mulai dilakukan pencukuran rambut sekitar telinga menggunakan clipper, pemotongan rambut ekor menggunakan gunting, dan pemotongan kuku menggunakan grindra listrik dan kamagateito.

3.1.5.4 Desinfeksi kandang
Desinfeksi kandang ternak dilakukan secara rutin selama seminggu sekali, yaitu pada hari Senin. Hal ini dilakukan dengan menyemprotkan desinfektan ke kandang. Tujuan desinfeksi kandang untuk membunuh mikroorganisme patogen penyebab penyakit. Adapun desinfektan yang digunakan adalah biodes dengan dosis 30 ml dalam 10 liter air.

3.1.5.5 Penyemprotan Anti Ektoparasit
Penyemprotan anti ektoparasit ini dilakukan seminggu sekali, yaitu setiap hari Jumat. Penyemprotan dilakukan dengan cara menyemprotkan anti ektoparasit ke tubuh ternak. Tujuan penyemprotan anti ektoparasit ini untuk membunuh mikroornisme patogen parasit penyebab penyakit.

3.1.5.6. Tindak Karantina
Setiap ternak pejantan yang baru masuk harus dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan dan surat keterangan pembebasan karantina yang dikeluarkan oleh Balai Karantina Kehewanan Wilayah III Surabaya atau yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Peternakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Proses karantina dilakukan di kandang karantina di lokasi BBIB Singosari. Pada masa karantina ini dilakukan pemeriksaan kesehatan, vaksinasi SE dan Antrak apabila di daerah asal belum dilakukan, pemberian vitamin, obat cacing dan penyemprotan anti ektoparasit, serta observasi selama masa karantina.

3.1.5.7 Bull Investigation Test
Setelah melalui proses karantina dilakukan Bull Investigation Test yang meliputi:
1.    Pemeriksaan fisik:
·      Kondisi tubuh: berat badan, lingkar dada, tinggi gumba, panjang badan, bulu, turgor kulit, kaki belakang atau muka.
·  Testes: besar, posisi, kekenyalan, kondisi.
·  Skrotum: kondisi, lingkar, dan panjang.
·  Kondisi, mukosa, ada atau tidaknya kelainan
·  Kelenjar asesoris: besar, kekenyalan, ada atau tidaknya kelainan.
·  Penis: kondisi, panjang dalam keadaan ereksi.
2.    Tingkah laku seksual:
·  Libido
·  Ereksi
·  Daya dorong
·  Daya lompat
·  Daya jepit
·  Analisa semen
·  Prosesing semen
·  Sertifikasi
Hasil Bull Investigation Test ini selanjutnya digunakan untuk menentukan apakah sapi pejantan tersebut dapat atau tidak untuk dipakai semennya bagi keperluan produksi semen beku di BBIB Singosari.

3.1.5.8 Pemeriksaan Kondisi Kesehatan Ternak
Setiap hari sebelum sapi-sapi pejantan ditampung untuk diambil semennya.
·      Pemeriksaan di dalam kandang: nafsu makan, kondisi feses, cara berdiri atau berjalan, ada atau tidaknya luka atau pembengkakan pada bagian tubuh, ada atau tidaknya eksudet dari lubang-lubang kumla.
·      Pemeriksaan di luar kandang: ternak dimasukkan dalam kandang jepit di klinik, pengukuran suhu tubuh melalui rektum dengan cara memasukkan termometer ke dalam rektum dibiarkan selama 3 menit dan dibaca, pengukuran frekuensi denyut jantung dengan alat stetoskop, pengukuran frekuensi pernapasan dan lapang paru-paru, serta palpasi pada bagian yang luka atau bengkak.

3.1.5.9 Pengobatan
Pengobatan dilakukan sesuai dengan symptom. Apabila kondisi ternak tidak memungkinkan untuk ditampung semennya, maka ternak diistirahatkan dengan mengisi kartu istirahat ternak yang ditandatangani Kepala Sub Seksi Kesehatan Hewan dan diserahkan kepada Seksi Laboratorium dan Penampungan.

3.1.5.10 Pencukuran Rambut
Pencukuran rambut dilakukan dengan menggunakan alat cukur listrik oster. Bagian yang dicukur yaitu kedua sisi tubuh, ekor, dan keempat kaki hingga gelang puyuh. Sedangkan untuk kambing hanya dilakukan pada daerah sekitar dada, perut, dan ekor.

3.1.5.11 Vaksinasi
Vaksinasi SE dilakukan untuk sapi setiap satu tahun sekali. Sedangkan untuk ternak kambing dilakukan hanya sekali vaksinasi Orf.

3.1.5.12 Pemberian Obat Cacing
Pemberian obat cacing terhadap seluruh ternak dilakukan setiap pergantian musim. Dosis obat cacing yang diberikan sesuai dengan bobot badan.

3.1.5.13 Pemeriksaan Kesehatan secara Laboratories
Pemeriksaan kesehatan ternak secara laboratories dilakukan dengan pengambilan sampel. Sampel yang diambil berupa:
1.      Feses, diambil secara steril di dalam rektum dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label.
  1. Kerokan kulit, diambil menggunakan pisau scalpel. Bagian kulit dikerok hingga mencapai lapisan dermis kemudian dimasukkan dalam botol dan diberi larutan KOH dan diberi label.
3.      Eksudat preputium, diambil menggunakan cotton swab. Eksudat diambil dari preputium dan dimasukkan dalam tabung yang berisi media agar dan diberi label.
4.      Darah, serum diambil pada vena jugularis dengan menggunakan vaccum venoject tidak berheparin sebanyak 10 ml. Kemudian diberi label dan dibiarkan selama 2 jam. Setelah itu dilakukan sentrifugasi dengan 1000 rpm selama 5 menit. Serum dipindahkan ke tabung venoject dan diberi label. Sedangkan untuk whole blood, diambil pada vena jugularis dengan menggunakan vaccum venoject.
Apabila hasil pemeriksaan laboratorium positif terhadap penyakit tertentu, maka:
1.      Ternak diusulkan untuk diafkir
2.      Ternak diisolasi, ternak tidak ditampung semennya, semen beku tidak didistribusikan atau ditarik kembali, dilakukan program pengobatan, diamati kemungkinan timbulnya gejala klinis, dan dilaporkan kondisinya setiap bulan, serta dilakukan pemeriksaan ulang secara laboratories.
3.      Ternak tetap ditampung semennya, semen beku tetap didistribusikan, diamati timbulnya gejala klinis, dan dilaporkan kondisinya setiap bulan.

3.1.5.14 Kasus Kematian Ternak
Hal-hal yang dilakukan apabila terjadi kematian ternak antara lain dilakukan seksi atau bedah bangkai pada hari yang sama, dilakukan patogoli anatomi, diambil potongan kubus 1 cm organ-organ trakea, paru-paru setip lobus, lymphonodula, kantong empedu, esofagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, lympha, jantung, pericard, diafragma, ginjal, ileum, jejenum, rektum, dan organ lainnya yang terjadi kelainan dimasukkan ke dalam wadah yang berisi larutan formalin 10%, spesimen dan laporan seksi dikirim ke laboratorium, dan dibuat berita acara kematian, laporan seksi, dan hasil pemeriksaan laboratorium.

3.1.6 Hijauan Makan Ternak
Kegiatan penyediaan Hijauan Makan Ternak (HMT) dilakukan setiap hari dengan kegiatan pemotongan rumput segar dari kebun rumput yang akan diberikan kepada ternak. Jenis rumput yang ditanam di BBIB Singosari adalah rumput gajah, star grass dan Brachiaria degumbens. Luas areal rumput yang dikelola seluas ± 21.68 ha, dengan rincian rumput gajah seluas 12,40 ha, star grass seluas 6,03 ha, Braciaria degumbens seluas 1,22 ha. Selain itu, BBB Singosari juga memiliki lahan jagung seluas 10,05 ha.

3.1.6.1 Pembuatan Silase
Silase merupakan pakan ternak yang masih mempunyai kadar air tinggi sebagai hasil pengawetan hijauan makan ternak atau bahan-bahan lain melalui proses fermentasi yang dibantu oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob. Silase terbuat dari semua bagian tanaman jagung  berumur 70-75 hari di dalam suatu tempat yang disebut dengan silo.
Prinsip dari pembuatan silase yaitu suatu usaha untuk mencapai dan mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) serta suasana asam ditempat penyimpanan (silo). Pembuatan silase dilakukan dengan cara memotong semua bagian tanaman jagung menggunakan chopper untuk mendapatkan potongan yang seragam dengan panjang 3-5 cm. Pemotongan ini bertujuan untuk memadatkan potongan hijauan sehingga udara semakin sedikit. Semakin sedikit udara maka semakin sedikit bakteri aerob yang ada, dan bakteri anaerob semakin banyak. Kemudian potongan  hijauan dimasukkan ke dalam silo sambil dipadatkan dengan cara diinjak - injak agar oksigen yang terkandung di dalamnya berkurang sehingga kondisi anaerob dapat diperoleh secepat mungkin. Setelah silo penuh barulah ditutup menggunakan plastik dan kemudian ditutup lagi dengan terpal lalu diberi beban di atasnya agar air tidak dapat masuk sehingga diperoleh silase yang berkualitas baik. Proses fermentasi ini dilakukan selama 40 hari dan menggunakan starter dari jagung. Fungsi starter dalam hal ini sebagai sumber makanan bakteri yang ada sehingga bakteri tersebut tidak merusak hijauan yang akan diawetkan. Jika pembuatan silase ini dilakukan dengan baik dan benar maka akan dihasilkan silase yang baik dan berkualitas. Ciri - ciri silase yang berkualitas baik adalah berbau harum kemanisan, tidak berjamur, tidak menggumpal, memiliki pH antara 4 sampai 4,5 dan berwarna kehijauan.
Apabila pada saat pembuatan terjadi pembusukan, maka harus dilakukan pembuangan ke tempat pembuangan kotoran. Pembusukan silase biasanya disebabkan adanya air yang masuk ke dalam silo, sehingga menyebabkan kondisi aerob pada silase. Silase yang busuk memiliki ciri-ciri mengumpal dan berwarna kecoklatan. Apabila silase ini diberikan kepada hewan sapi maka akan menyebabkan keracunan.

3.1.6.2 Hijauan Segar
Hijauan segar yang diberikan pada sapi dan kambing adalah rumput gajah. Porsi pemberian rumput gajah pada sapi dan kambing berbeda. Sapi diberi rumput gajah pada sore hari sebanyak 2 bentel atau 15 – 20 kg per hari. Sedangkan kambing diberi rumput gajah pada sore hari sebanyak 14 kg per hari. Selain itu hijauan segar yang diberikan pada kambing berupa Gliceridae dan kaliandra pada pagi hari.

3.1.6.3 Hijauan Kering
Upaya pengawetan hijauan makanan ternak dengan cara dikeringkan dapat dilakukan dengan 2 macam bentuk, yaitu hay dan wafer. Hay adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan baik dengan bantuan sinar matahari ataupun panas buatan sehingga hijauan tersebut memiliki kadar air berkisar antara 10 – 15%. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan hay ini adalah rumput yang berbatang kecil sehingga akan mudah untuk dikeringkan seperti Brachiaria decumbens, Setaria splendida, Star grass, dan lain-lain. Pembuatan hay dapat dilakukan pada musim penghujan karena pada saat itu intensitas sinar matahari sudah cukup tinggi dan hujan masih ada sehingga memungkinkan rumput masih dapat tumbuh. Rumput yang memiliki kualitas baik untuk dijadikan hay adalah rumput yang menjelang masa berbunga. Sedangkan wafer adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipanaskan dengan oven sehingga hijauan tersebut memiliki kandungan air berkisar antara 10 – 15%. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan wafer adalah pucuk daun tebu. Wafer ini tidak diproduksi sendiri oleh Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, melainkan membeli dari pabrik pengolahan limbah tebu.
Pada musim penghujan sapi tidak diberi pakan berupa hay. Hal itu dikarenakan persediaan hay terbatas, sehingga sapi hanya diberi pakan berupa wafer. Pemberian wafer pada masing-masing sapi tergantung dari berat badan. Contohnya pada kandang 4 masing-masing sapi diberikan 1 strip dan pada kandang 11 masing-masing sapi diberikan 1,5. Pemberian wafer dilakukan sebelum pemberian silase. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya kembung atau mencret.

3.1.7 Pemilihan Bibit dan Bahan Penanaman
3.1.7.1 Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit ini bertujuan untuk memperoleh bibit yang akan ditanam sehingga cocok dengan lingkungan, mudah dikembangkan dan dikelola, serta dapat memberikan produksi yang tinggi.

3.1.7.2 Bahan Penanaman
Bahan penanaman yang digunakan untuk bibit adalah sobekan rumpun (pols), potongan batang (stek) dan stolon.

3.1.7.2.1 Cara Penanaman dengan Stolon
Sobekan rumpun (pols) yang baik diperoleh dari rumpun yang sehat, mengandung banyak akar dan calon anakan baru (bagian tepi), dan vegetatifnya harus dipotong agar tidak terlalu banyak penguapan sebelum sistem perakarannya dapat aktif menghisap air. Setiap pols terdiri dari 2 – 3 batang rumput dan diambil dari bagian rumpun yang baru. Cara penanamannya dilakukan dengan membuat lubang-lubang di areal yang akan ditanami rumput dan penanaman dapat langsung dilakukan dengan menempatkan sobekan tanaman pada lubang-lubang yang ada dan dilanjutkan dengan penutupan lubang.



3.1.7.2.2 Penanaman dengan Stek dan Stolon
Stek adalah potongan batang, sedangkan stolon adalah potongan batang yang merayap atau batang yang berimpit tanah. Stek diperoleh dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dan mengandung dua buah buku.
Ruas di bagian bawah harus masuk di dalam tanah dengan baik karena nantinya akan tumbuh akar. Kedudukan stek dapat tegak, miring, atau berbaring agar mudah membentuk perakaran dari buku-buku yang lebih dekat dengan tanah. Setiap tempat penanaman dapat ditanami 2 atau 3 stek. Setelah stek ditanam, tanah ditekan rapat pada steknya agar tidak mudah rebah dan tidak kering, sehingga calon akar pun dapat mudah kontak dengan tanah.

3.1.8 Pengolahan Tanah dan Penanaman
3.1.8.1 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media tumbuh yang optimal bagi suatu tanaman. Pengolahan tanah yang sempurna dapat membersihkan tanah dari tanaman liar, memberikan sistem perakaran yang sempurna, memperbaiki aerasi tanah dan kelembaban, serta menjaga kelestarian dan kesuburan tanah. Pengaturan jarak dan waktu antara pengolahan tanah dan saat penanaman tidak boleh terlalu lama. Hal ini bertujuan untuk menghindari memadatnya kembali tanah yang telah diolah dan tumbuhnya kembali rumput liar. Waktu yang baik untuk melakukan pengolahan tanah yaitu saat akhir musim kemarau atau awal musim penghujan agar ketersediaan air dapat terpenuhi karena pertumbuhan awal sangat peka terhadap pengaruh luar terutama keadaan suhu dan air. Pengolahan tanah ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

3.1.8.1.1 Pembersihan Areal (Land clearing)
Pembersihan areal bertujuan untuk membersihkan tanah dari tanaman liar yang tumbuh di areal tersebut, seperti pepohonan, semak-semak, alang-alang, atau tumbuh-tumbuhan lainnya yang merugikan bagi pertumbuhan rumput yang ditanam. Pohon-pohon perlu diperhatikan untuk menjaga kelembaban tanah di musim kemarau sehingga mencegah erosi.

3.1.8.1.2 Pembajakan (Ploughing)
Pembajakan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan bajak atau traktor. Pembajakan tanah ini bertujuan untuk memecahkan lapisan tanah menjadi bongkah-bongkah. Setelah tanah dibalik dibiarkan beberapa hari sehingga proses mineralisasi bahan-bahan organik dapat berlangsung dengan cepat. Tanah yang bertekstur ringan cukup dibajak satu kali, sedangkan tanah yang bertekstur berat harus dibajak dua kali dengan jarak waktu satu minggu.

3.1.8.1.3 Penggaruan (Harrowing)
Penggaruan bertujuan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan padat menjadi tekstur yang remah dan sekaligus membersihkan sisa-sisa perakaran dari tumbuhan liar dan sebelumnya diberikan pemupukan awal dengan pupuk organik atau anorganik (P dan K), sehingga saat penggaruan berlangsung pupuk dapat teraduk secara merata pada lapisan tanah yang diolah.

3.1.8.2 Penanaman
Penanaman dimulai awal musim penghujan, segera setelah selesai diolah dengan sempurna. Jarak tanam rumput tergantung pada jenis yang akan ditanam dan kesuburan tanah. Jarak tanam untuk rumput yang tumbuh tegak dan berumpun yaitu 60 – 60 cm, 60 – 45 cm, atau 60 – 75 cm. Sedangkan jarak tanam untuk tanaman yang membentuk stolon yaitu 90 – 60 cm, 80 – 100 cm, atau 100 – 100 cm.

3.1.9 Perawatan Kebun Rumput
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan kebun rumput adalah pendangiran, pembersihan gulma, pembubuhan, penyulaman, pembersihan saluran drainase, dan pemupukan.

3.1.9.1 Pendangiran
Pendangiran bertujuan untuk menggemburkan tanah kembali agar proses peredaran udara dan air di dalam tanah lebih sempurna, mengurangi penguapan air dari dalam tanah karena lapisan tanah pada bagian atas pembuluh kapilernya terputus sehingga air dari dalam tanah yang sedianya akan diuapkan melalui pipa-pipa kapiler menjadi tertahan dan dapat diserap oleh akar, serta efisiensi penyerapan pupuk meningkat sehingga pertumbuhan tunas baru akan lebih banyak. Pendangiran tanah dilakukan setelah hijauan berumur satu bulan atau setiap rumput habis dipanen dan dilakukan pemupukan sekaligus.

3.1.9.2 Pembersihan Gulma
Pembersihan gulma bertujuan untuk memberantas rumput liar ataupun tumbuhan lainnya yang mengganggu tanaman pokok. Gangguan terhadap tanaman pokok berupa saingan terhadap zat hara dan air, cahaya matahasri, dan dalam pengelolaan. Apabila tanaman liar menutupi tanaman pokok, tanaman pokok dapat mati. Pembersihan gulma dilakukan secara mekanis dengan cara mencangkul untuk membersihkan tanaman liar.

3.1.9.3 Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk memberi zat-zat makanan pada makanan, mempertahankan kesuburan tanah, dan memperbaiki struktur tanah. Pemupukan dilakukan dengan pupuk buatan (urea) dengan dosis 200 – 250 kg/ha dan pupuk organik (pupuk kandang) dengan dosis 4000 kg/ha. Pemupukan dengan pupuk organik dilakukan bersama pada saat pengelolaan tanah. Pupuk disebar rata di permukaan tanah. Kemudian ditanam dalam baris-baris dan ditimbun tanah. Setelah itu dibenamkan dalam lubang-lubang di sekitar tanah.

3.1.9.4 Pemotongan
Pemotongan dilakukan pada akhir vegetatif atau menjelang berbunga. Apabila terlambat memotong atau tanaman sudah berbunga, kandungan serta kasar akan lebih tinggi dan nilai gizi berkurang. Apabila pemotongan dilakukan terlalu awal, hijauan terlalu muda, kandungan protein, dan kadar airnya tinggi tetapi bahan keringnya rendah sehingga berakibat jelek pada pertumbuhan selanjutnya. Pemotongan sebaiknya dilakukan 40 hari sekali pada musim penghujan dan 60 hari pada musim kemarau. Pada saat pemotongan, bagian tanaman yang ditinggalkan tidak boleh terlalu pendek atau terlalu tinggi, yaitu sekitar 8 – 15 cm dari atas permukaan tanah. Untuk tanaman rumput yang pertama kali ditanam, setelah berumur 60 hari perlu dilakukan pemotongan paksa. Hal ini bertujuan untuk menstimulir pertumbuhan dan memperbanyak anakan serta menyeragamkan pertumbuhan berikutnya.

3.1.9.5 Peremajaan
Apabila tanaman sudah tua (5 – 8 tahun), produksinya akan menurun dan tidak menunjukkan perbaikan oleh pengelolaan seperti pemupukan. Sehingga tanaman tersebut perlu dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.

3.2 Produksi Semen Beku
3.2.1 Penampungan Semen dengan Vagina Buatan
3.2.1.1 Persiapan Bull teaser dan Pejantan
Pada proses penampungan semen ini dibutuhkan seekor bull teaser atau yang lebih dikenal dengan sebutan pejantan pemancing. Penggunaan bull teaser dalam hal ini bertujuan untuk merangsang libido dari pejantan yang telah dijadwalkan untuk ditampung semennya. Bull teaser yang digunakan pada sapi dan kambing berbeda. Pada sapi hanya digunakan bull teaser jantan. Sedangkan pada kambing bisa digunakan bull teaser jantan dan betina. Karakteristik dari bull teaser yang digunakan harus berukuran lebih kecil dan tidak aktif daripada pejantan. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan bull teaser kedalam kandang jepit dan diikat dengan tali tampar. Pengikatannya dimulai dengan mengikat bagian ekor, kemudian dilewatkan pada perut bagian bawah dan terakhir diikatkan pada bagian leher bull teaser.
Penampungan semen pejantan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Setiap pejantan yang ada di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari dilakukan penampungan sebanyak dua kali per minggu atau sesuai dengan kebutuhan. Bull teaser dimasukkan kekandang jepit dan diikat dengan nyaman, ekornya diikat dan ditarik kedepan melewati bawah perut dan ujung tali diikatkan pada tali kepala bull teaser. Tubuh bagian belakangnya dilap dengan handuk bersih yang telah dibasahi larutan desinfektan perbandingan 1:1000, tujuannya adalah agar penis pejantan tidak terkontaminasi ketika dilakukan mounting (menaiki bull teaser). Selain itu, petugas atau kolektor memeriksa keadaan penis pejantan pada saat mounting pertama. Apabila ditemukan luka, maka penis tersebut harus diberikan penanganan. Dilakukan penampungan semen sebanyak 2 kali ejakulasi. Apabila dilakukan penampungan semen lebih dari 2 kali akan menyebabkan pejantan lelah dan konsentrasi sperma yang rendah.



3.2.1.2 Persiapan Vagina Buatan
     Artificial Vagina atau Vagina Buatan merupakan alat utama yang digunakan dalam penampungan semen. Penggunaan Artificial Vagina merupakan metode paling efektif untuk diterapkan pada ternak unggul normal dan memiliki libido bagus. Artificial Vagina terdiri atas beberapa bagian, diantaranya outer tube, inner rubber liner, cone, serta collection tube yang dilengkapi dengan garis volume. Keseluruhan bagian Artificial Vagina tersebut harus dalam keadaan steril ketika akan digunakan untuk menampung semen pejantan.
Teknik penggunaan Artificial Vagina perlu diisi dengan air hangat pada suhu 40-50˚C sebanyak 400 - 500 ml pada sapi sedangkan pada kambing sabanyak ± 100 ml. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan suhu vagina asli dari sapi ataupun kambing. Setelah pengisian tersebut perlu dilakukan pemompaan yang disesuaikan dengan ukuran penis dari pejantan. Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh kekenyalan yang sama dengan kondisi vagina asli dari sapi ataupun kambing. Sebelum digunakan, perlu diolesi dengan lubricating jelly dengan menggunakan stick steril mulai dari bagian luar lubang sampai 1/3 bagian atas Artificial Vagina. Hal tersebut bertujuan untuk melumaskan atau memudahkan jalannya masuk penis pejantan kedalam Artificial Vagina dan mengurangi adanya resiko luka pada penis pejantan.

3.2.1.3 Proses Penampungan Semen
Artificial Vagina yang telah diolesi dengan lubricating jelly  dibawa oleh seorang kolektor menggunakan tangan kanan dengan sudut kemiringan ± 35°. Terdapat petugas lain yang bertindak untuk meng-handle tingkah laku pejantan. Pertama-tama petugas lain mendekatkan pejantan kepada bull teaser agar libido pejantan tersebut terpancing. Lalu kolektor bersiaga apabila pejantan mengalami mounting. Pada saat mounting pertama, kolektor akan menyiram penis pejantan dengan desinfektan ringan. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran serta mengurangi kontaminasi pada penis pejantan. Setelah penis pejantan mengalami mounting 3-5 kali dan memiliki tanda-tanda berupa keluarnya cairan accesoris, kolektor mulai memasukkan Artificial Vagina pada penis pejantan. Setelah semen berhasil didapatkan, colection tube diarahkan kebawah dan lubang Artificial Vagina keatas. Penampungan semen pada masing-masing pejantan dilakukan sebanyak dua kali ejakulasi. Dari ejakulsi I ke ejakulasi II pejantan diistirahatkan ditempat peristirahatan selama 15 menit. Hal ini bertujuan untuk memulihkan stamina pejantan sebelum dilakukan penampungan semen yang ke II.

3.2.1.4 Proses Pengiriman Semen
Semen pejantan yang telah berhasil ditampung harus segera dibawa ke laboratorium untuk dilakukan proses pemeriksaan. Apabila tempat penampungan semen dengan laboratorium jauh, maka dibutuhkan sebuah motor untuk dapat mempercepat proses pengiriman. Lamanya proses pengiriman juga bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan semen menurunnya kualitas semen. Pada saat proses pengiriman semen tidak boleh mengalami temperature shock atau perbedaan suhu antara semen dengan lingkungan serta tidak boleh terkena sinar matahari. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pada saat proses pengiriman, tabung reaksi yang berisi semen dibungkus dengan kain hitam.

3.2.2 Pemeriksaan Semen
3.2.2.1 Pemeriksaan Semen Segar
Pemeriksaan semen segar bertujuan untuk mengetahui apakah semen segar dapat diproses lebih lanjut atau tidak, berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Semen yang telah didapatkan melalui proses penampungan, kemudian dilakukan proses pemeriksaan terlebih dahulu supaya semen beku yang dihasilkan untuk proses inseminasi buatan memiliki kualitas yang sangat baik. Hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah sterilisasi tangan dengan air bersih dan desinfeksi dengan alkohol. Laboran harus memakai jas laboratorium serta menggunakan sandal khusus laboratorium, karena dalam proses ini membutuhkan tingkat steril yang baik.
Proses pemeriksaan semen ini harus dilakukan dengan cepat untuk menghindari dan meminimalisasi kerusakan, kematian, dan kehabisan energi bagi spermatozoa. Ada dua macam pemeriksaan yang dilakukan, yaitu pemeriksaan makroskopis dan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan makroskopis meliputi volume, warna, bau, pH, dan konsistensi. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis meliputi gerakan masa, gerakan individu, dan konsentrasi spermatozoa per ml.
Berikut ini merupakan penjabaran dari setiap pemeriksaan yang dilakukan:
1. Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan makroskopis merupakan suatu evaluasi semen dengan mata secara langsung tanpa memerlukan alat bantu. Pada pemeriksaan ini dilakukan pengukuran volume, bau, warna, pH, dan konsisistensi semen.
Volume dari semen yang diejakulasikan oleh suatu pejantan dapat dilihat melalui tabung pengumpul yang telah dilengkapi dengan garis volume. Menurut Hunter (1982) pengukuran volume semen yang baik pada masing-masing pejantan harus mencapai 2 – 10 ml.
Pemeriksaan bau semen dilakukan dengan cara membau. Semen yang normal memiliki aroma khas sperma. Warna semen hasil ejakulasi pada masing-masing organisme sangat berbeda-beda. Semen sapi pada umumnya memiliki warna putih sedikit krem atau putih susu atau kekuningan. Sedangkan semen kambing berwarna  putih krem tetapi lebih tua dari semen sapi. Namun pada kenyataannya memungkinkan juga ditemukan selain dari warna di atas, seperti warna kemerahan pada semen yang didapatkan  menunjukkan bahwa semen telah terkontaminasi oleh darah, sedangkan apabila warnanya berubah coklat menunjukkan bahwa semen yang telah terkontaminasi darah mengalami dekomposisi pada darahnya. Warna semen kehijauan merupakan indikasi adanya bakteri pembusuk.
Pengujian pH dari semen dilakukan dengan menggunakan pH paper BTB atau kertas lakmus. Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian ini adalah dengan meneteskan sedikit semen pada pH paper BTB atau kertas lakmus dan diamati perubahan warna yang terjadi pada kertas tersebut. Adanya perubahan warna pada kertas dicocokkan dengan indikator yang tertera pada kemasan pH paper BTB atau kertas lakmus. Pada umumnya, semen normal memiliki pH antara 6,2 - 6,8.
Konentrasi semen dapat diketahui secara pasti dengan melihat nilai absorbansi yang tertera pada spektrofotometer. Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian konsistensi ini adalah dengan mencampurkan 0,04 ml semen dengan 3,96 NaCl fisiologis. Fungsi penggunaan NaCl fisiologis ini adalah untuk menjaga keadaan sel spermatozoa. Kemudian dilakukan homogenasi menggunakan vortex. Hal ini bertujuan untuk benar-benar memastikan bahwa semen dan NaCl fisiologis telah tercampur. Setelah itu campuran tersebut dipindahkan kedalam kuvet, dan dilakukan pembacaan konsentrasinya berdasarkan pada nilai absorbansi yang tertera pada spektrofotometer. Kriteria konsistensi semen sapi maupun kambing adalah sebagai berikut:
-                 < 1000 x 106                :           encer
-                 1000-1500       x 106    :           sedang
-                 > 1500 x 106                :           pekat
Menurut Kartasudjana (2001), semakin kental semen yang diejakulasi oleh suatu organisme, dapat diartikan bahwa konsentrasi sperma yang terkandung di dalamnya juga semakin tinggi.
2. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis meliputi gerak massa, gerak individu dan konsentrasi sel. Setelah dilakukan pemeriksaan semen secara makroskopis, selanjutnya dilakukan pemeriksaan semen secara mikroskopis. Pemeriksaan semen secara mikroskopis ini bertujuan untuk menganalisa kondisi semen lebih dalam lagi. Alat yang digunakan untuk pemeriksaan ini adalah mikroskop dengan perbesaran 200 X atau 400 X.
Pada pemeriksaan mikroskopis ini dapat diketahui gerakan massa dan gerakan individu dari spermatozoa. Pengujian dengan kedua variable ini merupakan tolok ukur apakah semen layak untuk diproduksi ataupun tidak dan digunakan sebagai parameter kesanggupan spermatozoa membuahi. Pada pemeriksaan gerakan massa, slide glass tanpa ditutup dengan cover glass, sedangkan pada pemeriksaan gerakan individu slide glass ditutup dengan cover glass.
Penilaian semen berdasarkan pergerakan massa dapat ditentukan sebagai berikut:
1.        Sangat baik (+++), jika terlihat adanya gelombang-gelombang besar, banyak, tebal, gelap dan aktif bergerak cepat serta berpindah-pindah tempat.
2.        Baik (++),  jika terlihat gelombang-gelombang kecil tipis, jarang, kurang jelas, dan bergerak lamban.
3.        Sedang (+), jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan-gerakan individu aktif progresif.
4. Buruk (0), bila hanya sedikit atau gerakan-gerakan individual
          Penilaian pergerakan individu menggunakan mikroskop dan melihat pergerakan progresif atau atau pergerakan aktif maju ke depan merupakan gerakan terbaik. Pergerakan melingkar atau mundur merupakan tanda terdapat cold shock atau media yang kurang isotonik terhadap semen. Gerakan berayun dan berputar-putar ditempat biasanya terlihat pada semen yang sudah tua dan apabila kebanyakan spermatozoa berhenti bergerak telah dianggap mati (Tolihere, 1981).
          Standart yang digunakan pada pengujian gerakan masa dan gerakan individu spermatozoa ini adalah 70%. Dimana 70% terdiri dari perhitungan +++, ++. Apabila pada pengujian ditemukan perhitungan gerakan >70%, maka semen tersebut bisa dilakukan penanganan selanjutnya. Sedangkan apabil pada pengujian ditemukan perhitungan motilitas <70%, maka semen tersebut dinyatakan Afkir dan tidak bisa dilakukan penanganan selanjutnya atau harus dibuang.


3.2.2.2 Pemeriksaan Before Freezing
Before Freezing merupakan pengujian spermatozoa setelah dilakukan pengenceran dengan pengencer B dan sebelum dilakukan pengisian kedalam straw dengan mesin filling sealing. Pengujian ini untuk mengetahui motilitas spermatozoa sebelum dilakukan pembekuan. Standart pada pengujian Before Freezing ini adalah 55%. Apabila ditemukan motilitas spermatozoa dibawah 55%, maka semen dinyatakan afkir.

3.2.2.3 Pemeriksaan Post Thawing Motility
Post Thawing Motility merupakan pengujian lebih lanjut motilitas sel spermatozoa setelah dilakukan freezing. Biasanya pengujian ini dilakukan sehari setelah proses freezing. Pada pengujian ini dilakukan pengambilan dua sampel semen secara acak yang telah dibekukan. Alat yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah mikroskop yang dihubungan dengan televisi. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan air hangat dengan suhu 37 - 38°C di-water bath. Kemudian merendam straw selama 15 detik dengan posisi sumbat pabrik dibagian bawah atau dalam posisi horisontal, sehingga seluruh bagian straw terendam. Angkat straw dan keringkan sisa air yang menempel distraw dengan kertas tissue. Potong straw pada bagian tengah menggunakan gunting yang telah didesinfeksi. Setelah itu, semen diteteskan pada slide glass dan ditutup dengan cover glass. Dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 200 dan 400 kali.
Standart pada pengujian Post Thawing Motility ini adalah 40%. Apabila ditemukan motilitas spermatozoa dibawah 40%, maka perlu dilakukan pengujian motilitas lagi. Hal itu bertujuan untuk membandingkan dengan pengujian sebelumnya. Apabila pengujian yang kedua didapatkan motilitas spermatozoa diatas 40%, maka data pengujian pertama dan data pengujian kedua dibagi. Namun apabila pengujian kedua tetap didapatkan motilitas spermatozoa  dibawah 40%, maka semen tersebut tidak jadi didistribusikan kepada pelanggan.            Semen yang dinyatakan afkir pada pengujian ini tidak langsung dibuang begitu saja. Melainkan disimpan dulu didalam container atau storage container.
3.2.3 Pengenceran
Fungsi pengencer semen adalah untuk memperbanyak volume, memberi media yang cocok untuk hidup spermatozoa, menjaga pH, tekanan osmotik, dan sebagai perlindungan (krioprotektan). Pengenceran semen perlu menghindari panas yang berlebihan, bahan kimia yang dapat menyebabkan toxic, berhubungan dengan udara luar, sinar matahari secara langsung dan guncangan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pengencer pada Balai Besar Inseminasi Buatan Singoari beserta fungsinya adalah sebagai berikut:
1.    Kuning telur, berfungsi untuk mempertahankan serta melindungi integritas dari selubung lipoprotein dari spermatozoa
2.    Tris amino methane, berfungsi sebagai buffer untuk mencegah adanya perubahan pH yang diakibatkan adanya asam laktat serta hasil dari metabolisme dari spermatozoa. Selain itu, berfungsi untuk mempertahankan tekanan osmotik serta keseimbangan elektrolit.
3.    Citric Acid, berfungsi pula sebagai buffer, anti oksidan, mengurangi peroksida lipid dari membran plasma spermatozoa serta sebagai ion kalsium yang dibutuhkan oleh spermatozoa pada saat freezing.
4.    Lactose dan Rafinose, berfungsi sebagai sumber energy bagi spermatozoa
5.    Penicillin dan streptomycin, berfungsi untuk mencegah adanya pertumbuhan dari mikroorganisme yang nantinya dapat mempengaruhi motilitas spermatozoa.
6.    Destilled water
7.    Glycerin yang hanya ditambahkan pada pengencer B, berfungsi untuk mencegah adanya cold shock.
Langkah-langkah yang digunakan dalam pembuatan pengencer adalah mencuci telur dengan air mengalir, dan disterilisasi menggunakan alkohol 70%, selanjutnya memisahkan kuning telur dengan albumin menggunakan kertas saring sebanyak 440 ml dalam 2200 ml, lalu ditambahkan Destilled water sebanyak 1760 ml dalam 2200 ml yang telah dicampur dengan 28,25 gram tris amino methane, 19, 3 gram citric acid, 31,1 gram lactose, dan 55,9 gram raffinose yang sehari sebelumnya telah dilakukan. Kemudian dilakukan homogenasi dengan cara dipindah – pindahkan dari satu tabung ketabung lain secara berulang – ulang, dan ditambahkan penicillin serta streptomycin. Dihomogenasi dengan stirer selama 15 menit, selanjutnya disimpan dalam kulkas dan satu hari kemudian diamati apakah terdapat endapan atau tidak. Apabila tidak terdapat endapan, makan tidak dapat digunakan sebagai pengencer.
Setelah 2 sampai dengan 3 hari pembuatan, pengencer yang telah dipisahkan dari endapannya bisa digunakan untuk mengencerkan semen segar yang telah lolos dilakukan pengujian makroskopis dan mikroskopis. Standart kualitas pengencer semen (Tris kuning telur) yang baik adalah berwarna kuning atau orange, pH antara 6,2 – 6,8, Konsistensi encer, terdapat endapan 10% dari batas jelas, dan memiliki bau khas tris. Tris kuning telur maksimal bisa digunakan setelah 14 hari pembuatan.
Ada tiga macam pengenceran yang dilakukan, yaitu pengenceran A1, pengenceran A2 dan pengenceran B. Pemberian pengencer A1 dilakukan pada saat semen masih dalam keadaan segar dengan perbandingan 1 : 1. Pemberian pengencer A2 dan B ditentukan dengan rumus. Rumus pemberian pengencer A2 dan pengencer B adalah sebagai berikut:


Volume B = 0,5 x volume total
Volume A2  = Volume B – (Volume semen + Volume A1)
 




Pemberian pengencer A1 dilakukan setelah semen dinyatakan lulus pada pengujian secara makroskopis dan mikroskopis. Suhu semen pada saat pemberian pengencer A1 adalah 37 - 38°C, yang kemudian akan diturunkan menjadi 3 - 5°C dengan cara campuran semen dan pengencer A1 yang disimpan pada tabung reaksi diletakkan didalam gelas yang berisi air hangat dan kemudian gelas tersebut diletakkan didalam water jacket atau bisa juga langsung diletakkan didalam cooling top. Penggunaan air hangat disini bertujuan untuk menurunkan suhu semen secara perlahan – lahan, sehingga tidak terjadi temperatur shock. Setelah suhu semen dan pengencer A1 menjadi 3 - 5°C  dilakukan penambahan pengencer A2. Suhu larutan pengencer A2 yang akan ditambahkan harus sama dengan suhu larutan semen dan pengencer A1. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya temperature shock. Setelah itu dilakukan penyimpanan campuran semen dan A2 didalam sterofom pada  referigator dengan suhu 3 – 5 oC selama 20 – 22 jam.  Selanjutnya dilakukan pemberian pengencer B. Pemberian larutan pengencer B dilakukan sekaligus. Volume larutan pengencer B ditambahkan sebanyak setengah dari volume total.
Prosedur pembuatan pengener B, yaitu pengencer A ditambah 13% gliserol. Pembuatan pengencer B dilakukan sehari sebelum pengencer tersebut digunakan. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan percampuran pengencer A dan gliserol. Fungsi penggunaan glicerol sebagai cryoprotectant yang merupakan prosedur pelaksanaan kriopreservasi. cryoprotectant perlu ditambahkan dalam pengolahan semen beku untuk meminimalisasi kerusakan akibat pembekuan, seperti pembentukan kristal es intra dan ekstra seluler.
Pengenceran semen memungkinkan Inseminasi Buatan sapi betina lebih banyak dan mempertahankan daya fertilisasi sebelum semen disemprotkan kedalam alat kelamin betina waktu birahi. Semua syarat pengenceran harus dipenuhi, terutama mengenai kimiawi dan biologi yang terlibat dalam proses kehidupan spermatozoa pada waktu fertilisasi dan implantasi (Salisbury, 1985).

3.2.4 Printing Straw
Straw pada setiap bangsa sapi dan kambing dibedakan berdasarkan warna. Berikut adalah pembagian warna straw berdasarkan bangsa sapi atau kambing:
Bangsa
Warna straw
FH
Abu – abu
Limousin
merah muda
Simental
Putih transparan
Brahman
Biru tua
Ongole
Biru muda
Angus
Salmon
Brangus
Hijau tua
Bali
Merah
Madura
Hijau muda
PE
Kuning
Boer
Beige

Printing straw dilakukan menggunakan mesin jetz printing. Printing straw dilaksanakan bersamaan dengan waktu pengenceran setelah diketahui berapa jumlah straw yang akan dicetak. Straw yang akan diprinting atau dicetak diberi keterangan tentang jenis penjantan, nama penjantan, kode penjantan, batch number dan produsen semen beku tersebut, Jumlahnya printing straw tergantung dari banyaknya spermatozoa dalam ejakulasi. Hal ini karena volume semen dan konsentrasi sperma hasil ejakulasi untuk setiap pejantan berbeda-beda sehingga jumlah straw yang akan dihasilkan juga berbeda.
Straw memiliki penamaan khusus, yang berfungsi untuk memudahkan proses identifikasi straw sebelum dipasarkan. Berikuti ini adalah contoh penamaan straw;






Keterangan:
1.    BBIB                             : menunjukkan nama tempat produksi
2.    FH-DANISLY  T          : menunjukkan nama bangsa dan nama pejantan
3.    30572                             : menunjukkan (3) kode bangsa sapi FH, (05) menunjukkan tahun kelahiran pejantan, dan (72) menunjukkaan nomor urut masuk
4.    JJ 028                             : menunjukkan (JJ) kode tahun produksi, yaitu 2011, dan (026) menunjukkan urutan produksi.
Setelah straw dicetak, kemudian dimasukkan kedalam alat sterilisasi ultra violet selama 15 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi adanya resiko kontaminan dari mikroorganisme. Pada saat proses sterilisasi, posisi straw harus diatur sedemikian rupa agar seluruh bagian straw terkena sinar ultra violet. Pada saat melaksanakan sterilisasi ultra violet, diharapkan jangan sampai terkena kulit dan mata.

3.2.5 Filling dan Sealing
Filling dan Sealing adalah proses pengisian semen yang telah diencerkan ke dalam straw dengan menggunakan alat yang bekerja secara otomatis (mesin filling & sealing). Mesin tersebut secara otomatis memasukkan semen cair sebanyak 0,25 cc ke dalam straw dan menutup ujung straw dengan sumbat lab. Proses ini dilakukan di dalam cooling top. Sebelum dilakukan proses filling sealing, lemari dan mesin filling sealing dibersihkan dengan alkohol 70% dan seluruh peralatan yang akan digunakan didinginkan pada suhu 4 – 5oC. Ketika proses pengisian semen ke dalam straw, silicon tube (fleksibel) dan tipper disk (tempat semen) harus selalu diganti untuk pengisian semen yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk menghindari percampuran semen satu dengan semen yang lain, yang nantinya akan berpengaruh terhadap keaslian semen itu sendiri. Selanjutnya straw yang telah berisi semen dilakukan pengecekan untuk mengetahui ada tidaknya straw yang tidak terisi semen dengan cara dilihat dibawah cahaya.
3.2.6 Perhitungan straw, Pre-freezing, dan Freezing
Straw yang telah berisi semen disusun di rak straw dan dihitung jumlahnya. Terdapat dua jenis rak straw, yaitu rak straw berukuran kecil dan besar. Rak straw berukuran kecil, berisi sebanyak 100 dan yang berukuran besar berisi 175. Perhitungan straw dilakukan di dalam cooling top. Hal ini bertujuan untuk menjaga kondisi suhu straw.
Proses pre-freezing adalah meletakkan straw yang telah tersusun dirak straw diatas N2 cair dengan jarak antara permukaan N2 cair dengan straw kurang lebih sekitar 2 cm diatas permukaan cairan selama 9 – 10 menit dan suhu straw mencapai -140˚C. Hal ini bertujuan sebagai proses adaptasi semen untuk tahap selanjutnya, supaya tidak terjadi temperatur shock, yang dapat menyebabkan abnormalitas atau kematian spermatozoa di dalam semen.
Freezing merupakan proses penghentian sementara kegiatan hidup sel tanpa mematikan fungsi sel dan proses hidup dapat berlanjut setelah pembekuan dihentikan. Proses freezing ini dilakukan di dalam storage container yang telah berisi N2 cair dengan suhu -196˚C. Penggunaan N2 cair ini dikarenakan N2 cair dapat membekukan pada suhu yang paling rendah dan dapat menyimpan semen pada waktu yang lama. Setelah proses freezing, straw yang ada dalam goblet dimasukkan kedalam canester. Kemudian canester tersebut dimasukkan kedalam container. Diambil dua sampel secara acak untuk dilakukan pengujian Post Thawing Motility. Hal yang perlu diperhatikan selama proses freezing adalah dengan mengecek kembali nama serta kode dari pejantan di tiap rak sebelum dimasukkan ke dalam canester.

3.2.7 Sterilisasi
3.2.7.1 Sterilisasi Kering
Sterilisasi kering digunakan pada peralatan yang terbuat dari logam atau gelas, seperti tabung reaksi, erlenmeyer, tabung ukur, jarum spuit, dsb. Proses sterilisasi kering dimulai dengan mencuci alat dengan air bersih dan digosok dengan sikat dan air sabun. Hal ini dikarenakan produk tipol tidak meninggalkan bau sabun pada peralatan setelah pencucian. Selanjutnya dibilas dengan air bersih mengalir dan ditiriskan. Setelah itu,  alat – alat tersebut direbus didalam air pada suhu mendidih selama 5 menit atau pada suhu 75°C selama 15 menit atau tergantung tebal tipisnya alat. Kemudian diambil satu persatu dengan penjepit dan ditiriskan. Setelah alat – alat tersebut kering, dimasukkan kedalam oven. Suhu yang digunakan dimulai dari 0°C sampai dengan 180°C. Oven yang digunakan untuk sterilisasi kering dilengkapi dengan alarm. Alarm tersebut akan berbunyi apabila suhu telah mencapai 180oC. Selama proses sterilisasi berlangsung pintu oven tidak boleh dibuka. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu yang tinggi antara di dalam dengan di luar oven dapat menyebabkan peralatan yang terbuat dari kaca pecah. Setelah steril, semua permukaan peralatan dibungkus rapat dengan alumunium foil dan disimpan dalam lemari alat steril.

3.2.7.1 Sterilisasi basah dengan menggunakan UV
Sterilisasi basah digunakan untuk peralatan yang terbuat dari plastik dan kain. Seperti sarung tangan kain, mikropippet tip, outer tube, inner rubber liner,dan cone. Sebelum dilakukan sterilisasi semua peralatan harus dicuci bersih dan direbus didalam air terlebih dahulu. Setelah semua peralatan ini bersih, dilakukan penataan didalam oven dengan memastikan bahwa semua bagian alat dapat terkena sinar UV. Namun sebelum disterilisasi dengan sinar uv, semua peralatan harus kering terlebih dahulu dengan cara dipanaskan didalam oven dengan suhu maksimal 40°C. Setelah alat – alat itu kering, baru dilakukan sterilisasi dengan sinar uv sekitar 15 menit atau tergantung dari kapasitas alat yang ada didalam oven. Peralatan yang terbuat dari silikon dan karet tidak perlu dilakukan sterilisasi dalam waktu lama karena sinar UV yang terlalu lama dapat merusak peralatan. Perlu diperhatikan ketika sterilisasi dengan menggunakan sinar UV tidak boleh sampai terjadi kontak langsung dengan mata dan kulit karena sinar UV dapat merusak kedua organ tubuh tersebut.

3.3 Pemasaran dan Informasi
3.3.1 Pemasaran
3.3.1.1 Proses Penyerahan Semen Beku Ke Bidang Pemasaran dan Informasi
                 Setiap selesai prosesing petugas mencatat hasil produksi pada buku produksi dan diparaf oleh koordinator prosesing atau pengujian. Kemudian dilakukan Post Thawing Motility minimal 24 jam setelah pembekuan oleh penguji. Selesai melaksanakan Post Thawing Motility, penguji merekam hasil pengujian pada buku produksi dan membuat memo produksi yang akan diserahkan kepada bidang pemasaran dan informasi dengan diparaf kedua belah pihak sebagai tanda bahwa seluruh produksi telah menjdi milik bidang pemasaran dan informasi. Hasil produksi dapat digunakan atau disimpan dan didistribusikan oleh bidang pemasaran dan informasi setiap saat setelah diparaf koordinator prosesing dan wakil bidang pemasaran dan informasi. Buku produksi tidak diperkenankan dibawa keluar dari laboratorium, apabila diperlukan maka bidang pemasaran dan informasi diperkenankan untuk menyalin hasil produksi sesuai kebutuhan, dan produksi harian akan direkapitulasi dan evaluasi oleh staf data.

3.3.1.2 Perlakuan Container
Container yang digunakan untuk penyimpanan semen beku harus diisi dengan nitrogen cair dengan suhu -196oC. Container digunakan untuk menyimpan straw yang telah berisi semen beku. Untuk penyimpanan straw, straw yang telah berisi semen beku dimasukkan ke dalam goblet dan kemudian dimasukkan kedalam canester. Selanjutnya dimasukkan ke dalam container yang telah diisi dengan nitrogen cair sampai leher container. Pada bagian dalam container terdapat bagian yang disebut bintang yang berfungsi untuk menahan canester agar tidak goyang atau berubah posisi.
Container baru yang akan digunakan untuk menyimpan semen beku harus dilakukan uji coba dengan cara mengisi container tersebut dengan nitrogen cair secara perlahan agar tidak rusak atau retak pada bagian dalam container dan didiamakan selama 1x24 jam. Container layak digunakan apabila pada container tersebut tidak ditemukan gumpalan es pada tutup container, nitrogen cair yang ada di dalam container tidak banyak berkurang dan pada bagian luar container tidak basah. Sedangkan untuk container lama dan dalam keadaan kering, volume nitrogen cair yang diisikan kedalam container adalah 1,5 x volume container. Hal ini karena setengah volume yang ditambahkan berfungsi untuk penyesuaian suhu dan penguapan. Pengisian nitrogen cair ke dalam container dilakukan dengan menggunakan alat  VGL (Vertical Gas Liquid). Ketika pengisian container dengan VGL, batas maksimal tekanan yang digunakan adalah 15 bar. Apabila tekanan melebihi batas maksimal tersebut maka akan timbul suara yang sangat keras pada VGL yang bertujuan untuk menurunkan tekanan. Proses pengisian Nitrogen cair ini dilakukan sebanyak dua kali dalam satu minggu.

3.3.1.3 Proses Perawatan Straw
Sebelum dilakukan proses distribusi, semen beku perlu dihitung ulang dengan menggunakan rak straw dengan kapasitas per seratus straw. Setelah itu, semen beku dipindah ke dalam goblet yang telah berisi nitrogen cair, dan diperiksa kembali perseratus straw. Kriteria pemeriksaan yaitu tenggelam, terapung pecah atau meletup. Apabila semua straw tenggelam, maka straw siap di simpan di dalam kontainer distribusi.  Sedangkan yang lainnya, termasuk di dalamnya terapung, pecah ataupun meletup merupakan straw afkir.
 
3.3.1.4 Persiapan Pengeluaran atau Pengiriman Semen Beku
Ini akan dilakukan ketika pelanggan sudah membayar  atau mengirim biaya semen ke bendahara dan mengirimkan container ke Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Pada tahap ini, petugas akan mengecek isi container dengan berkas kartu petunjuk yang sudah diketik dan diverifikasi oleh kepala seksi atau kepala bidang yang disaksikan pihak pelanggan. Bila container akan dikirim, terlebih dahulu dipacking kayu untuk melindungi dari benturan langsung dari benda lain. Kemudian petugas akan menambahkan N2 cair kedalam container sampai leher yang akan dikirim dan dilakukan pengukuran ketinggian N2 cair dengan mistar. Setelah itu container ditutup dan disegel.

3.3.1.5 Mitra Kerja
            Mitra kerjasama operasional yang terjalin antara Balai Inseminasi Buatan Singosari dengan berbagai lembaga dari tahun 2007 - 2011 adalah sebagai berikut; CV. Larisa, RW Jatim, GKSI Jabar, GKSI Jatim, Disnak Prop Jabar, Guyub Rukun DIY, Mustika Raya Blora, CV. Dani Grobogan, KPRI BS Gunung Kidul, KPRI MS Karanganyar, Paguyuban IB Boyolali, CV. Darussalam, CV Alam Pukanbi, Gembala Makmur Jateng, dan CV Sato SS DIY. 

3.3.1.6 Harga Semen Beku
Berikut ini merupakan tabel dari harga semen beku yang ada di BBIB Singosari:
Bangsa
Harga
Bali
Rp 6.000,00
FH
Rp 6.000,00
Brahman
Rp 6.000,00
Simental
Rp 6.000,00
Limousin
Rp 6.000,00
Brangus
Rp 6.000,00
Madura
Rp 6.000,00
Angus
Rp 6.000,00
Kambing Peranakan Etawa (PE)
Rp 6.000,00
Kambing Boer
Rp 6.000,00
FH Unggul Indonesia (Elite Bull)
Rp 30.000,00
Semen Beku Sexing Y
Rp 30.000,00
Semen Beku Sexing
Rp 30.000,00
Semen Beku Ekspor
5 – 20 US $




3.3.2 Informasi
Bagian informasi bertugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang BBIB Singosari, mendokumentasikan hasil kegiatan baik secara audiovisual maupun tertulis, mempersiapkan bahan promosi, serta membuat laporan fertilitas. Promosi yang dilakukan terdiri dari 2 cara yaitu:
1. Secara langsung
Promosi ini dilakukan dengan cara menjelaskan secara langsung kepada konsumen tentang Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari atau dapat pula dilakukan pada saat pameran
2. Secara tidak langsung
Promosi ini dilakukan dengan cara mengirimkan bahan informasi seperti brosur, poster, atau leaflet kepada suatu instansi. Selain itu Balai Besar Inseminasi Buatan  Singosari juga menyediakan katalog mengenai sapi perah dan sapi pedaging.

Sembilan jenis layanan publik yang diberikan oleh BBIB Singosari antara lain:
1.    Penjualan Semen Beku
a. Jenis Bangsa Pejantan Unggul
Jenis semen beku yang diproduksi berasal dari bangsa pejantan unggul yaitu meliputi sapi simental, sapi limousin, sapi brahman, sapi ongole, sapi bali, sapi brangus, sapi madura, sapi angus, sapi FH, kambing PE, dan kambing boer.
b. Biaya/tarif
·         Sesuai dengan PP No.7. Tahun 2004 harga semen beku Unsexing Rp. 6.000,-
·         Sesuai dengan SK Kepala BBIB Singosari No.04.033/ot. 160/F2K/01.11 harga semen beku sexing Rp. 30.000,-
c. Jaminan Pelayanan
·      Sesuai standar SNI 01-4869.1: 2008
·      Telah diuji di Lab Uji Mutu menerakan Sistem Mutu sesuai ISO/IEC 17025 : 2005
2.    Pelayanan Purna Jual
a. Ruang Lingkup
Pelayanan purna jual dengan ruang lingkup penanganan semen beku, antara lain penanganan kelainan reproduksi, manajemen pakan ternak, manajemen pemeliharaan ternak, pasca pelatihan manajemen IB, program pemuliaan ternak / breeding, serta pengenalan reproduksi aktivitas balai.
b. Bentuk Pelayanan
Bentuk pelayanan dari pelayanan purna jual ini yaitu pertemuan teknis, kunjungan lapangan, pengujian semen beku di lapangan, serta evaluasi hasil pelaksanaan manajemen IB.
3.    Bimbingan Teknis
a. Jenis Bimbingan Teknis dan Bentuk Pelayanan
Jenis bimbingan teknis yang ada di BBIB ini bersifat kelompok dan perseorangan. Jenis bimbingan teknis bersifat kelompok antara lain inseminator sapi atau kerbau, inseminator kambing atau domba, PKB, ATR, dan penanganan semen beku. Bimbingan teknis kelompok ini dilakukan melalui penyampaian teori, praktek RPH, praktek di laboratorium, pengenalan organ reproduksi ternak, kunjungan lapang, praktek lapang, serta pelaksanaan kelompok. Sedangkan bimbingan teknis bersifat perseorangan antara lain potong kuku, bull salon, laborant, bull master, pembuatan silase, dan pembuatan hay. Bimbingam teknis perseorangan dilakukan dengan bentuk penyampaian teori dan praktek.
b. Biaya/tarif:
Sesuai dengan SK : 04034/SM. 110/F2K/01. 11
Nama Bimbingan Teknis dan magang
Biaya/tarif
Waktu (Hari)
Keterangan
Bimbingan Teknis
1.    Biaya sudah termasuk pajak yang berlaku
2.    Biaya tidak termasuk transport PP dn uang saku
3.    Sertifikat Tingkat Nasional
4.    Bimbingan Teknis dilaksanakan/ Angkatan dengan jumlah peserta minimal untuk unseminator sapi / kerbau 25 orang peserta: PKB dan ATR 20 orang peserta, Inseminator kambing 15 orang peserta
Inseminator pada sapi/kerbau
Rp. 6.000.000,-
21
Pemeriksaan Kebuntingan (PKB)
Rp. 6.500.000,-
15
Asisten Teknis Reproduksi (ATR)
Rp. 6.500.000,-
15
Insemnator pada Kambing/Domba
Rp. 4.250.000,-
10
Magang

Penampungan Mutu Semen Beku (Handling semen beku)
Rp. 1.750.000,-
4
1.      Biaya sudah termasuk pajak yang berlaku
2.      Biaya tidak termasuk Transport PP dan uang saku
3.      Sertifikat Magang
4.      Magang bisa dilaksanakan dengan jumlah peserta minimal 3orang
Hoof Trimming (Potong Kuku) dan Bull Salon (Potong bulu)
Rp. 1.750.000,-
4
Laborant
Rp. 1.750.000,-
4
Pembuatan Hay dan Silase
Rp. 1.750.000,-
3
Bull Master
Rp. 1.750.000,-
4

4.    Pelayanan Masyarakat
a. Bentuk Pelayanan
Bentuk pelayanan masyarakat ini dibagi menjadi 2 paket. Paket pertama yaitu informasi aktivitas balai besar secara audiovisual. Sedangkan paket kedua yaitu informasi aktivitas balai besar secara audiovisual dan melihat langsung dengan kereta biosecurity.
b. Biaya / tarif : sesuai dengan SK: 03035/TU. 120/F2K/0. 11
·         Paket I             Rp. 7.500/orang
·         Paket II           Rp. 10.000/orang
·         TK & SD         Rp. 5.000/orang
·         Internasional   Rp. 25.000/orang
5.    Jasa Konsultasi
a. Ruang lingkup/jenis konsultasi
Ruang lingkup dari jasa konsultasi ini antara lain bidang pemeliharaan ternak, pengawetan pakan, pemuliaan ternak atau breeding, penanganan produksi ternak, penanganan semen beku, dan manajemen perkantoran.


b. Bentuk Pelayanan
            Bentuk pelayanannya yaitu konsultasi teknis dan monitoring produk BBIB Singosari di lapangan.
c. Biaya/tarif:
Sesuai dengan SK Kepala BBIB ingosari No. 04036/ot.160/F2K/01. 11
biaya jasa konsultasi Rp. 1.500.000,-
6.    Pengujian Mutu Semen
a. Jenis Pengujian
Pengujian mutu semen meliputi motilitas, jumlah konsentrasi sel sperma, presentasi hidup/mati sel sperma, abnormalitas sel sperma, serta derajat keasaman (pH).
b. Bentuk Sampel Pengujian 
Bentuk sampel pengujian berupa pemeriksaan semen segar, semen cair, serta semen beku.
c. Biaya/tarif:
·         Motilitas Semen Segar                        : Rp. 45.000,-
·         Konsentrasi Semen Segar                   : Rp. 45.000,-
·         pH Semen Segar                                 : Rp. 25.000,-
·         Mobilitas Semen Cair                          : Rp. 45.000,-
·         Mobilitas Semen Beku                        : Rp. 50.000,-
·         Livablitas Semen segar/cair                 : Rp. 50.000,-
·         Abnormaliatas semen segar/cair          : Rp. 50.000,-
·         Livabilitas semen beku                        : Rp. 50.000,-
·         Abnormalitas semen beku                   : Rp. 50.000,-
7.    Jasa Penyewaan Aset Balai
Bentuk pelayanan jasa penyewaan aset balai yaitu penyewaan ruang/gedung serta sarana dan prasarana lainnya. Jenis prasarana yang disewakan antara lain gedung auditorium, gedung workshop, gedung asrama/guesthouse, kandang karantina, serta sarana olahraga dan transportasi. Biaya/tarif sesuai dengan SK. 04037/OT. 160/F2K/01.11
No
Nama Asset
Tarif Sewa(Rp)
Keterangan
1
Gedung Auditorium
Rp. 1000.000,-/paket/hari
Kapasitas 200 orang
2
Gedung workshop
Rp. 800.000,-/paket/hari
Kapasitas 75 orang
3
GedungSerbaguna
Rp. 350.000,-/paket/hari
Kapasitas 25 orang
4
Kamar asrama
Rp. 10.000,-orang/hari
Kapasitas 3-4 0rang
5
Guest House
Rp. 50.000,-orang/hari
Kapasitas 6 orang3 kamar
6
Ruang Makan
Rp. 250.000,-/paket/hari
Kapasitas 32 orang
7
Bis
Rp.1.500.000,-/hari
Kapasitas 27 orang
8
Kandang Karantina
Rp. 15.000,-/ekor/hari


8.    Jasa Pelayanan Penelitian
Jasa penelitian yang disediakan oleh BBIB Singosari yaitu produksi ternak, kualitas semen, prosesing semen, kesehatan hewan, pemuliaan ternak, dan ekonomi peternakan. Bentuk pelayanannya berupa penyediaan ruangan, penyediaan alat/bahan dan penyediaan tenaga SDM. Biaya/tarif disesuaikan dengan kebutuhan penelitian.
9.    Jasa Penyediaan Tenaga Instruktur dan Juri Kontes Ternak
Bidang pelayanannya meliputi instruktur idang manajemen IB dan juri kontes. Sedangkan pelayanannya berupa pemberian materi, pemberian praktek lapangan, dan pemberian penilaian. Biaya/tarif sesuai dengan SK. 04038/OT. 160/F2K/01.11 yaitu:
·                          Jasa Instruktur selama 2 hari              : Rp. 1.500.000,-
·                          Jasa Juri Kontes selama 2 hari            : Rp. 1.500.000,-
















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan Praktikum Kerja Lapang yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari terdapat 9 bangsa sapi unggu yaitu FH, Limousin, Simental, Madura, Bali, Aberdeen angus, Brangus, Ongole, dan Brahman. Serta 2 bangsa kambing yaitu PE dan Boer. Perawatan ternak unggul yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari meliputi memandikan ternak, membersihkan lantai dalam dan luar kandang, membersihkan palungan dan tempat minum, pemberian pakan dan air minum, pembersihan lingkungan sekitar kandang dan pengontrolan kesehatan setiap hari. Proses produksi semen beku diawali dengan penampungan semen segar, pengujian semen yang meliputi pengujian semen secara makroskopis dan mikroskopis, pengenceran semen, pengujian before freezing (BF), identifikasi straw, fillinf sealing, pre freezing, freezing, dan Post Thawing Motility (PTM). Distribusi yang dilakukan meliputi pembelian langsung, dan kerjasama operasional dengan dinas peternakan. Selain itu, BBIB bagian informasi mempunyai tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait Sembilan jenis pelayanan publik BBIB Singosari.

4.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil semen yang berkualitas diperlukan keteraturan dan monitoring dalam pemeliharaan ternak unggul, manajemen pemberian pakan serta ketelitian dalam proses pemeriksaan semen segar. Apabila hal tersebut dilakukan maka akan mampu menghasilkan semen beku yang mempunyai kualitas baik.










DAFTAR PUSTAKA

Andy. 2009. Sekilas Kambing Etawa. http://www.kambingetawa.org. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Agus, B. M. 2007. Beternak Sapi Potong. Yogyakarta: Kanisius.
Aksi Agraris Kanisius (AAK). 1980. Beternak Sapi Perah. Yogyakarta.
Erlangga. 2009. Ternak Indonesia. http://www.infoternak.com/. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Ditjennak. 2010. Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. http://www.ditjennak.go.id/b-bib-singosari.asp. Diaskes tanggal 13 Februari 2012.
Ian, Kay. 1998. Introduction to Animal Physiology. United Kingdom: BIOS Scientific Publishers Limited.
Kartasudjana, R. 2001. Teknik Inseminasi Buatan. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional.
Soeprapto, Herry. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Depok: PT. Agro Media Pustaka.
Subandi. 2005. Beternak Kambing. Jakarta: Ganesa Exact.
Sudarmono, A. S. 2006. Sapi Potong. Depok: Penebar Swadaya.
Sugoro, I. 2009. Pemanfaatan Inseminasi Buatan (IB) untuk Peningkatan Produktivitas Sapi. Bandung: Sekolah Tinggi dan Ilmu Hayati ITB.
Syarief, M. Z dan R. M. Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah, edisi ke-1. Jakarta: CV. Yasaguna.
Toyomarto. 2009. Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. http://toyomarto.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Tripod. 2010. The Holstein: About The Breed. http://wwwid.tripod.com/elmartinfarm/id24.html. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Yulianto, Purnawan dan Cahyo Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya.