LAPORAN HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG
PEMELIHARAAN TERNAK PEJANTAN UNGGUL, PRODUKSI SEMEN BEKU, SERTA PEMASARAN DAN
INFORMASI DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN SINGOSARI
disusun oleh
:
Ervin
Jumiatin (0910913108)
Lintang
Chandra (0910910008)
M. Dwi
Susan (0910910056)
Nufriyanti
(0910910023)
![]() |
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Usaha yang bergerak dalam di bidang ternak sapi di Indonesia membutuhkan
perhatian khusus dalam kaitannya dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan
populasi setiap tahunnya. Dalam menanggulangi masalah itu dibutuhkan teknologi
tepat yang bisa diterapkan secara mudah dan efisien. Salah satu teknologi yang
bisa digunakan yaitu inseminasi buatan. Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah
satu bentuk bioteknologi dalam bidang reproduksi yang memungkinkan manusia
untuk mengawinkan hewan betina tanpa perlu seekor pejantan utuh. Inseminasi
buatan sebagai teknologi merupakan suatu rangkaian proses yang terencana dan
terprogram karena akan menyangkut kualitas genetik hewan di masa yang akan
datang (Kartasudjana, 2001). Prinsip dari pelaksanaan inseminasi buatan yaitu
pencurahan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina pada saat estrus
dengan tujuan agar sel telur yang diovulasikan hewan betina dapat dibuahi oleh
sperma sehingga hewan betina menjadi bunting dan melahirkan anak. Namun pada
perkembangan lebih lanjut, program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke
dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan
pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau
pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi,
pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan betina. Dengan demikian
pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan,
sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan)
(Sugoro, 2009).
Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan IB ialah mutu semen beku.
Selain itu, keberhasilan IB juga dipengaruhi oleh reproduksi ternak betina dan
keterampilan petugasnya, ketepatan dan pelaporan deteksi berahi, serta
pemeliharaan ternak betina. Oleh sebab itu untuk terjaminnya mutu semen beku
sapi yang beredar, perlu ditetapkan standar semen beku sapi. Mutu semen beku
sapi yang memenuhi standar harus didukung oleh penanganan yang baik dan benar
agar mutu semen beku sapi dapat dipertahankan hingga siap untuk
diinseminasikan. Kualitas semen yang digunakan untuk inseminasi buatan harus
memenuhi persyaratan seperti volume, warna, pH, konsistensi, motilitas,
konsentrasi, dan morfologi sperma untuk mempertahankan kualitas semen. Dengan
demikian Praktek Kerja Lapang ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru
terhadap mahasiswa tentang proses inseminasi buatan.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan diadakannya Praktek
Kerja Lapang (PKL) ini adalah menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama
perkuliahan dengan realitas yang ada di lapangan serta mempelajari salah satu metode populer yang digunakan untuk
memelihara ternak unggul sapi ataupun kambing dan menganalisis kualitas semen
beku.
1.3 Waktu
dan Tempat
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2012
sampai dengan 23 Februari 2012. Bertempat di Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari, Malang.
1.4 Metode
Pelaksanaan
1.4.1
Orientasi
Pada metode
ini dilakukan suatu kegiatan perkenalan atau penjabaran tentang bagaimana lokasi dan segala aktivitas yang dilakukan
di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Malang.
1.4.2
Pelaksanaan
Pada metode
ini seluruh peserta Praktek Kerja Lapang ini diharuskan terjun langsung ke
lokasi dengan mengikuti semua rangkaian
aktivitas
yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Serangkaian aktivitas tersebut meliputi pemeliharaan kesehatan ternak unggul, pemberian hijauan ternak, penampungan semen, pemeriksaan semen, sterilisasi, dan pemasaran serta
informasi.
1.4.3
Pelaporan
Pada metode
ini seluruh peserta Praktek Kerja Lapang diharuskan melaporkan hasil kerjanya
dalam bentuk seminar.
BAB II
KEADAAN UMUM
2.1 Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari adalah
sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan,
sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 681/Kpts/OT.140/11/2004. Balai Besar Inseminasi Buatan merupakan Unit
Pelaksanaan Teknik eselon 2b yang bertanggung jawab kepada Direktur Jendral
Peternakan dan Kesehatan Hewan.
BBIB Singosari terletak di dusun Glatik, desa Toyomarto, kecamatan
Singosari, kabupaten Malang. Berdasarkan jarak tempuh, 20 km sebelah utara kota
Malang, dengan ketinggian 800-1200 m diatas permukaan laut, rataan suhu udara
berkisar antara 16 - 22°C, dengan kelembaban berkisar antara 70 – 90 %, dengan curah hujan 2.233
mm/tahun. Untuk menunjang aktifitasnya Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
memiliki areal seluas 67,72 Ha, dilengkapi dengan bangunan perkantoran, asrama,
gedung belajar, auditorium, guest house, kandang sapi dan kambing,
laboratorium, arena penampungan, kebun rumput, gudang, garasi, perumahan dinas,
kereta biosecurity dan alat mesin pertanian.
Pada tahun 1976, pemerintah daerah propinsi
Jawa Timur bekerjasama dengan pemerintah Belgia (AB 05 dan ATA 73) mendirikan
Laboratorium Semen Beku di Wonocolo-Surabaya. Perkembangan selanjutnya,
pemerintah pusat mengambil alih pengelola laboratorium dan ditetapkan sebagai
Cabang Balai Inseminasi Buatan Wonocolo pada tahun 1978 dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian
No.314Kpts/Org/5/1978. Tahun 1982 terjadi pemindahan lokasi dari Wonocolo ke Singosari-Malang
dan pada tahun 1984
Direktur Jendral Peternakan menetapkan sebagai Cabang Balai Inseminasi
Buatan Singosari. Perkembangan dari Balai Inseminasi Buatan Singosari semakin
meningkat dengan adanya kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam proyek
pengembangan BIB Singosari melalui Japan
International Cooperation Agensy (JICA) pada tahun 1986. Tanggal 29
Februari 1988 status Cabang Balai Inseminasi Buatan ditingkatkan menjadi Balai
Inseminasi Buatan Singosari dengan
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 193/Kpts/OT.210/2/1988 dan pada tanggal 29
Agustus 1996 ditetapkan sebagai Pusat Pelatihan Inseminasi Buatan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal
Peternakan No. 52/OT.210/Kpts/0896. Pada tahun 2004, statusnya ditingkatkan menjadi Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari (BBIB) dengan
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 681/Kpts/OT.140/11/2004. Pengembangan
selanjutnya pada tahun 2010 ditetapkan menjadi unit kerja yang menerapkan
PPK-BLU (Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) dengan Surat Keputusan
Menteri Keuangan n0.54/KMK 05/2010.
Sesuai
dengan surat keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/OT.140/11/2004. pada
tanggal 25 November 2004 Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari memiliki tugas pokok sebagai berikut
: “Produksi Pemasaran dan pemantauan mutu semen unggul ternak serta
pengembangan inseminasi buatan”.
Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari memiliki fungsi sebagai berikut:
a. penyusunan program kegiatan produksi, pemasaran dan pemantauan mutu
semen unggul ternak serta pengembangan inseminasi buatan
b. pelaksanaan pemeliharaan ternak
pejantan unggul
c. Pelaksanaan pengujian keturunan
dan fertilitas pejantan unggul
d. pelaksanaan produksi dan
penyimpanan semen unggul ternak
e. pelaksanaan pemantauan dan
pengawasan mutu semen unggul ternak yang beredar
f. pelaksanaan pengembangan teknik
dan metode inseminasi buatan
g. pemberian saran teknik produksi
semen unggul ternak
h. pemberian
pelayanan teknik kegiatan produksi dan pemantauan semen unggul ternak dan
pengembangan inseminasi buatan
i. pelaksanaan pemasaran dan
distribusi semen unggul ternak
j. pemberian informasi dan
pelaksanaan dokumentasi hasil kegiatan inseminasi buatan
k. pengelolaan urusan
tata usaha dan rumah tangga Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
2.2 Personalia
Berdasarkan data pada bulan Oktober 2011 jumlah pegawai di Balai Besar
Inseminasi Buatan sebanyak 101 orang, dengan perincian golongan IV sebanyak 5 orang,
golongan III sebanyak 51 orang, golongan II
sebanyak 30 orang, golongan I
sebanyak 4 orang dan CPNS sebanyak 11 orang.
2.3 Struktur Organisasi BBIB Singosari
![]() |
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pemeliharaan Ternak
3.1.1 Jenis Ternak di BBIB Singosari
Di
Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari ini memiliki jenis ternak unggul
berupa sapi dan kambing. Pada sapi unggul terdiri atas sembilan bangsa dan pada
kambing terdiri atas dua bangsa. Berikut ini adalah nama-nama bangsa sapi dan
kambing yang ada di BBIB Singosari:
1. Bangsa Brahman
Brahman
merupakan sapi pengembangan dari keturunan zebu atau nellore (Bos indicus)
yang berkembang pesat di Amerika Serikat. Sapi brahman banyak digunakan untuk
perkawinan silang dalam rangka mendapatkan sapi yang cocok di daerah tropis.
Sapi ini banyak berkembang di Amerika Serikat.
Ciri khas Sapi Brahman adalah mempunyai
punuk yang besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut
lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung
runcing. Bulunya
yang tipis dan berwarna putih atau kelabu. Otot tubuh kompak dan berpunuk.
Kepala besar dan tidak bertanduk. Paha besar dan kaki panjang, gelambir mulai
dari rahang bawah sampai ujung tulang dada depan tidak terlalu berlipat-lipat
(Agus, 2007).
2. Bangsa Madura
Sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia yang banyak
didapatkan di Pulau Madura. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan
terhadap kondisi pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa
mutu sapi Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai
produktivitas dari waktu ke waktu. Sapi Madura tergolong sapi yang berukuran
kecil. Tinggi sapi jantan berkisar 120 cm dan betina 105 cm. Sapi madura
berwarna merah coklat atau coklat tua dengan warna putih tanpa batas yang jelas
disekitar pantat. Warna putih juga ditemui pada daerah kaki serta sedikit di
sekitar moncong. Bobot hidup berkisar 220 - 250 kg, dengan berat karkas
berkisar 50,96% - 51,72%. Libido sapi jantan sangat kuat namun, produksi semen
agak rendah. Sapi jantan mempunyai rata-rata 1,0 - 1,3 ml per-ejakulasi dengan
konsetrasi 409 juta spermatozoa. Pada sapi jantan, gumba berkembang dengan baik
sedangkan sapi betina, gumba tidak tampak jelas. Tinggi gumba pada sapi jantan
kelas I minimal 121 cm, kelas II minimal 110 cm dan kelas III minimal 105 cm.
Tinggi gumba sapi betina kelas I minimal 108 cm, kelas II minimal 105 cm, kelas
III minimal 102 cm. Sapi madura jantan berumur 24-36 bulan sedangkan sapi
betina berumur 18-24 bulan (Soeprapto, 2006).
3. Bangsa Bali
Sapi bali merupakan keturunan dari banteng (Bos sondaicus) yang
telah dijinakkan. Sapi jenis ini berwarna coklat muda. Namun, warna sapi bali
jantan akan berubah menjadi lebih tua. Salah satu ciri fisik dari sapi Bali
yaitu memiliki warna putihpada bagian pantat dan kaki. Keunggulan sapi Bali di
antaranya mutu daging bertekstur lembut dan tidak berlemak (Yulianto dan
Saparinto, 2010).
4. Bangsa Simental
Sapi
simental banyak dijumpai di Eropa. Sapi jenis ini merupakan sapi dwiguna, yaitu
sapi yang menghasilkan susu dan daging. Sapi ini keturunan dari Bos taurus
yang berasal dari Switzerland (Yulianto dan Saparinto, 2010). Secara morfologi,
sapi Simental memiliki ciri fisik tidak berpunuk, tidak bergelambir, pada
bagian kepala memiliki warna bulu putih.
5. Bangsa Limousin
Sapi limousin merupakan sapi bangsa Bos taurus yang berasal dari Prancis.
Sapi ini sangat cocok dipelihara di daerah beriklim sedang. Sapi limousin
merupakan sapi pedaging bertipe besar dan mempunyai volume rumen yang besar
pula. Oleh karena itu, sapi ini mampu menambah konsumsi pakannya lebih banyak
di luar kebutuhan yang sebenarnya. Bentuk tubuhnya besar, panjang, kompak dan
padat. Tubuhnya berwarna coklat muda, kuning, hingga kelabu. Pertumbuhan
badannya sangat cepat dengan bobot badan jantan dewasa bisa lebih dari 1.000
kg, sedang betina 600 - 850 kg. Masa produktif sapi betina antara 10 - 12
tahun. Tanduk pada sapi jantan tumbuh keluar dan agak melengkung. Sapi limousin
murni masih sulit ditemukan di Indonesia. Sapi limousin yang dipelihara di
Indonesia umumnya merupakan hasil persilangan dengan sapi lokal.
Sapi Limousin merupakan keturunan sapi eropa yang
berkembang di Prancis dan sapi jenis ini merajai di pasar-pasar sapi Indonesia
dan merupakan sapi primadona untuk penggemukan, harganya mahal karena mempunyai
tingkat pertambahan berat badan yang cepat perharinya yaitu 1,1 kg. Sapi
limousin memiliki pertumbuhan yang baik dan cukup cepat. Sapi ini juga tidak
begitu tahan terhadap penyakit yang menyebabkan kematian. Persilangan sapi
limousin dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi limousin ongole (limpo).
Sapi limpo memiliki ciri tidak berpunuk, tidak bergelambir, dan warna bulu
hanya coklat tua (Sudarmono, 2006).
6. Bangsa Aberdeen angus
Sapi Angus merupakan salah satu bangsa sapi
yang memiliki kulit berwarna hitam pekat. Sapi ini berasal dari suatu daerah
dataran tinggi Abardeen Shire dan Aungushire di Skotlandia. Sapi ini tidak
mempunyai tanduk dan punuk. Sapi Angus memiliki karakteristik pendek, bulat, lincah aktif bergerak (Yulianto
dan Saparinto, 2010).
7. Bangsa Brangus
Brangus, berasal dari Oklahama, Amerika Serikat. Jenis ini merupakan
hasil persilangan antara betina brahman (Bos indicus) dengan jantan
aberdeen angus (Bos taurus). Sapi ini bertubuh tidak terlalu besar, berpunuk,
berwarna kulit hitam (Yulianto dan Saparinto, 2010).
8. Bangsa Friesian Holstein (FH)
Holstein (mungkin juga dikenal sebagai Friesian
Holstein atau Friesian) adalah jenis sapi perah yang sekarang dikenal sebagai
sapi yang menghasilkan susu tertinggi di dunia produksi atau di dunia
peternakan. Sapi Friesian Holstein ini berasal dari Eropa. Holsteins pertama
kali dikembangkan di wilayah yang Belanda dan lebih khususnya di dua provinsi,
yaitu North Holland and West Friesland
(bukan dari Holstein, jerman), di mana keua provinsi ini merupakan suatu padang
rumput yang baik (Tripod, 2010).
Sapi Friesian Holstein menduduki populasi
terbesar, bahkan hampir di seluruh dunia, baik di negara-negara sub-tropis
maupun tropis. Bangsa sapi ini mudah beradaptasi ditempat baru. Di Indonesia
populasi bangsa sapi Friesian Holstein juga yang terbesar diantara
bangsa-bangsa sapi perah yang lain. Di Indonesia, kecuali menggunakan sapi
Friesian Holstein murni sebagai sapi perah, khususnya di Jawa Timur (AAK,
1980).
Sapi Friesian Holstein memiliki ciri fisik
seperti warna bulunya belang hitam putih dengan perbatasan tegas sehingga tidak
terdapat warna bayangan, pada dahinya terdapat warna putih berbentuk segitiga,
pada bagian dada, perut bawah, kaki dari tracak sampai lutut dan bulu ekor kipas
berwarna putih, memiliki tanduk berukuran kecil, menjurus kedepan. Standar
berat badan untuk sapi Friesian Holstein betina adalah 1250 pon (567 kg) dan
untuk pejantan berat paling rendah 1800 pon (816 kg). Sapi ini lebih besar
dibandingkan dengan sebagian besar sapi ternak yang lain dalam satu breed/
bangsa. Bangsa sapi perah Friesian holstein mempunyai kemampuan menghasilkan
air susu lebih banyak daripada sapi perah lainnya, yaitu mencapai 5982 liter
per laktasi dengan kadar lemak 3,7 persen (Syarief, 1984).
Sapi Friesian Holstein memiliki sifat yang tenang, jinak sehingga
mudah dikuasai. Sapi ini tidak tahan terhadap panas, namun mudah beradaptasi,
menghendaki tanah yang datar dan berumput baik serta lambat dewasa. Sapi
Friesian Holstein merupakan sapi perah yang berukuran besar. Berat badan sapi
jantannya mencapai 850 kg dan sapi betinanya mencapai 625 kg (Syarief, 1984).
9. Bangsa Ongole
Sapi ongole, merupakan sapi keturunan sapi liar Bos
indicus yang berhasil dijinakkan di India. Di Indonesia, sapi ini dapat
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sumba ongole (SO) dan peranakan ongole
(PO). Ongole memiliki tubuh besar dan panjang, leher agak pendek, dan kakinya
panjang. Sapi ini berwarna keputihan dan terdapat warna kelabu gelap di sekitar
kepalanya (Yulianto dan Saparinto, 2010).
10. Bangsa Boer
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan
dan telah menjadi ternak yang terregistrasi selama lebih dari 65 tahun. Kambing
Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang
cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg pada umur lima
hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 - 0,04 kg
per hari. Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang,
dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang
menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat
tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya
berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar
matahari langsung. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim,
mulai dari suhu sangat dingin (-25˚C) hingga sangat panas (43˚C) dan mudah
beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan serta tahan terhadap penyakit
(Subandi, 2005).
11. Bangsa
PE (Peranakan Etawa)
Kambing PE atau peranakan Etawa merupakan
kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing lokal. Kambing PE
merupakan kambing yang bersifat adaptif terhadap lingkungan lokal di Indonesia.
Ciri-ciri dari kambing PE mempunyai badan besar, dengan tinggi gumba yang
jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina mencapai 92
sentimeter. Bobot kambing jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya
mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan
hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina mempunyai tanduk pendek. Kambing
jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari (Andy, 2009).
3.1.2 Jumlah Populasi Ternak
Berdasarkan data sampai
dengan Desember 2011, jumlah populasi ternak di BBIB Singosari adalah sebagai
berikut:
Tabel 1. Jumlah Populasi
Ternak Sapi Pejantan di BBIB Singosari
No.
|
Bangsa
|
Jumlah
(ekor)
|
1.
|
Sapi Brahman
|
11
|
2.
|
Sapi Madura
|
11
|
3.
|
Sapi Bali
|
15
|
4.
|
Sapi
Simental
|
45
|
5.
|
Sapi
Limousin
|
66
|
6.
|
Sapi
Aberdeen Angus
|
10
|
7.
|
Sapi
Brangus
|
1
|
8.
|
Sapi
Friesian Holstein (FH)
|
24
|
9.
|
Calon
Pejantan FH
|
23
|
10.
|
Sapi
Ongole
|
5
|
Total
|
211
|
|
Tabel 2. Jumlah Populasi Ternak Kambing di BBIB Singosari
No.
|
Bangsa
|
Jumlah (ekor)
|
1.
|
Kambing Boer
|
6
|
2.
|
Kambing Peranakan
Etawa (PE)
|
16
|
Total
|
22
|
|
3.1.3 Perawatan Ternak
3.1.3.1 Kebersihan Kandang
3.1.3.1.1 Sapi
Pembersihan kandang sapi dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari,
yaitu setiap pagi hari dan siang hari. Pembersihan pada pagi hari meliputi
tempat pakan atau palungan, tempat minum, lantai kandang bagian luar dan dalam,
serta memandikan sapi. Sedangkan pembersihan pada siang hari hanya membersihkan
lantai dalam kandang. Pembersihan kandang yang dilakukan setiap hari bertujuan
sebagai upaya untuk mengurangi adanya mikroorganisme patogen yang dapat
menyebabkan penyakit pada hewan. Alat yang digunakan untuk pembersihan kandang
adalah sekrop, sapu lidi, sikat, dan kereta dorong.
3.1.3.1.2 Kambing
Pembersihan kandang kambing meliputi pembersihan kandang dari
sisa-sisa rambanan dan feses dengan menggunakan sapu dan sekrop serta
pembersihan tempat makan atau palungan dari sisa-sisa pakan dan konsentrat.
3.1.3.2 Memandikan Ternak
Kebersihan ternak sapi bertujuan untuk menghindari adanya jamur atau
mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit, dan agar terlihat
bersih pada saat dilakukan penampungan semen. Sapi dimandikan setiap pagi
dengan disemprot air bersih di sisi kanan, kiri, bagian pantat sampai kaki
kemudian disikat, terutama pada bagian preputiumnya. Sedangkan kambing tidak
dimandikan karena sudah terlihat bersih.
3.1.3.3 Pemberian Pakan Ternak
3.1.3.3.1 Sapi
Pemberian pakan sapi dilakukan sebanyak dua kali sehari, yaitu pagi
dan sore hari. Jenis pakan yang diberikan pada sapi yaitu wafer, silase,
mineral, konsentrat, dan rumput gajah. Setiap ekor sapi diberi wafer sebanyak
1,5 – 2 kg per hari, silase 5 – 7,5 kg per hari, konsentrat 5 – 7 kg per hari,
serta rumput 15 – 30 kg per hari. Konsentrat memiliki kandungan air, protein
kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, kalsium, phosphor, coccidiostat, dan
antibiotika. Bahan baku yang digunakan untuk konsentrat adalah jagung kuning,
wheat bran, SBM, tetes, palm olien asam amino esensial, mineral esensial,
premix, dan vitamin. Sedangkan komposisi dari mineral antara lain Ca, P, K, Cu,
Zn, Mn, Fe, S, I, Co, Se, serta vitamin A, D, dan E. Mineral ini memiliki
kegunaan untuk menambah nafsu makan, mencegah kembung, dan mencegah sapi
memakan tanah.
3.1.3.3.2 Kambing
Pemberian pakan kambing dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari.
Pakan yang diberikan pada kambing berupa hijauan Gliricidae dan rumput gajah, konsentrat, dan mineral. Hijauan yang
diberikan sebanyak 8 kg per hari. Konsentrat yang diberikan pada kambing Boer
sebanyak 1,5 kg per hari. Sedangkan untuk kambing PE diberi konsentrat sebanyak
1,5 kg per hari.
3.1.3.4 Penimbangan dan Pengukuran
3.1.3.4.1 Sapi
Penimbangan dilakukan setiap satu bulan sekali dengan menggunakan
timbangan elektrik. Ternak dibawa ke kandang jepit yang telah disiapkan dan
menaikkan sapi tersebut ke plat penimbangan yang terbuat dari kayu. Pembacaan
pada timbangan dilakukan apabila posisi berdiri sapi sudah sempurna. Sedangkan
pengukuran dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pengukuran badan ini dilakukan
dengan mengukur tinggi gumba, panjang badan, dan lingkar dada menggunakan
tongkat dan pita ukur.
3.1.3.4.2
Kambing
Penimbangan
dilakukan setiap satu bulan sekali dengan menggunakan timbangan elektrik.
Sedangkan pengukuran badan dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan cara
melakukan pengukuran panjang badan, tinggi gumba, dan lingkar dada. Alat yang
digunakan untuk pengukuran ini adalah tongkat ukur dan pita ukur.
3.1.3.5. Latihan Gerak
3.1.3.5.1 Sapi
Setiap seminggu dua kali, sapi dikeluarkan dari kandang dan diberikan
latihan gerak secukupnya guna menjaga kondisi tubuh ternak.
3.1.3.5.2
Kambing
Setiap
satu minggu sekali, kambing dikeluarkan dari kandang dan diberikan latihan
gerak secukupnya untuk menjaga kondisi tubuh.
3.1.3.6
Pengapuran Kandang Sapi
Pengapuran kandang dilakukan setiap enam bulan sekali dan bertujuan
untuk mencegah adanya pertumbuhan jamur. Pengapuran kandang ini dilakukan
dengan menggunakan gamping dan cat tembok. Sebelum melakukan pengapuran,
kotoran yang menempel di dinding dibersihkan dan disapu.
3.1.4
Perawatan Kandang
3.1.4.1
Sapi
Perawatan
yang dilakukan pada kandang sapi pejantan meliputi pembuatan dan pemasangan
papan nama, pengapuran kandang, perbaikan lantai kandang yang rusak, khususnya
lantai kayu, dan penambahan pasir pada paddock yang dilakukan setiap dua kali
dalam setahun.
3.1.4.2
Kambing
Perawatan
yang dilakukan pada kandang kambing meliputi pembuatan dan pemasangan papan
nama, perbaikan lantai dan dinding yang rusak atau patah, pembuangan kotoran yang
berada di bawah kandang ke tempat pembuangan setiap satu minggu sekali.
3.1.5 Kesehatan Hewan
3.1.5.1 Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin pada sapi dilakukan secara rutin sekali dalam satu
bulan sebanyak 5 cc, sedangkan pemberian vitamin pada kambing dilakukan dua
kali dalam satu bulan sebanyak 2,5 cc . Vitamin yang diberikan antara lain vitamin
A, D, dan E.
3.1.5.2 Penanganan Kesehatan Hewan
Penanganan kesehatan hewan ini dilakukan setiap hari pada pagi dan
sore hari dalam bentuk pengontrolan
secara rutin ke setiap kandang-kandang. Hal ini bertujuan apabila ditemukan
adanya penyakit pada hewan dapat segera ditangani. Tanda awal dari ternak yang
sakit yaitu nafsu makan yang berkurang.
3.1.5.3 Pemotongan Kuku dan Pencukuran Rambut
Pemotongan kuku serta pencukuran bulu ini dilakukan secara rutin pada
6 bulan sekali. Kedua hal ini bertujuan untuk menghindari hewan dari terserang Laminitis. Peralatan yang digunakan
dalam kegiatan ini antara lain grinda yang
digunakan untuk membentuk pola, kamagateito
yang digunakan untuk memotong kuku, reynet yang digunakan untuk membersihkan
lubang pada kuku, clipper yang
digunakan untuk mencukur bulu pada telinga, serta gunting untuk menculur rambut
pada ekor.
Pada saat pemotongan kuku dan pencukuran rambut, sapi dimasukkan
kedalam kandang jepit dan diikat mengunakan tali pada bagian depan dan
belakang. Setelah itu mulai dilakukan pencukuran rambut sekitar telinga
menggunakan clipper, pemotongan
rambut ekor menggunakan gunting, dan pemotongan kuku menggunakan grindra listrik dan kamagateito.
3.1.5.4 Desinfeksi kandang
Desinfeksi kandang ternak dilakukan secara rutin selama seminggu
sekali, yaitu pada hari Senin. Hal ini dilakukan dengan menyemprotkan
desinfektan ke kandang. Tujuan desinfeksi kandang untuk membunuh mikroorganisme
patogen penyebab penyakit. Adapun desinfektan yang digunakan adalah biodes dengan dosis 30 ml dalam 10 liter
air.
3.1.5.5 Penyemprotan Anti Ektoparasit
Penyemprotan anti ektoparasit ini dilakukan seminggu sekali, yaitu
setiap hari Jumat. Penyemprotan dilakukan dengan cara menyemprotkan anti
ektoparasit ke tubuh ternak. Tujuan penyemprotan anti ektoparasit ini untuk
membunuh mikroornisme patogen parasit penyebab penyakit.
3.1.5.6.
Tindak Karantina
Setiap
ternak pejantan yang baru masuk harus dilengkapi surat keterangan kesehatan
hewan dan surat keterangan pembebasan karantina yang dikeluarkan oleh Balai
Karantina Kehewanan Wilayah III Surabaya atau yang ditunjuk oleh Direktorat
Jenderal Peternakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Proses
karantina dilakukan di kandang karantina di lokasi BBIB Singosari. Pada masa
karantina ini dilakukan pemeriksaan kesehatan, vaksinasi SE dan Antrak apabila
di daerah asal belum dilakukan, pemberian vitamin, obat cacing dan penyemprotan
anti ektoparasit, serta observasi selama masa karantina.
3.1.5.7
Bull Investigation Test
Setelah
melalui proses karantina dilakukan Bull Investigation Test yang meliputi:
1. Pemeriksaan fisik:
· Kondisi tubuh: berat badan, lingkar dada, tinggi
gumba, panjang badan, bulu, turgor kulit, kaki belakang atau muka.
· Testes: besar, posisi, kekenyalan, kondisi.
· Skrotum: kondisi, lingkar, dan panjang.
· Kondisi, mukosa, ada atau tidaknya kelainan
· Kelenjar asesoris: besar, kekenyalan, ada atau
tidaknya kelainan.
· Penis: kondisi, panjang dalam keadaan ereksi.
2. Tingkah laku seksual:
· Libido
· Ereksi
· Daya dorong
· Daya lompat
· Daya jepit
· Analisa semen
· Prosesing semen
· Sertifikasi
Hasil Bull Investigation Test ini selanjutnya digunakan untuk
menentukan apakah sapi pejantan tersebut dapat atau tidak untuk dipakai
semennya bagi keperluan produksi semen beku di BBIB Singosari.
3.1.5.8
Pemeriksaan Kondisi Kesehatan Ternak
Setiap
hari sebelum sapi-sapi pejantan ditampung untuk diambil semennya.
· Pemeriksaan di dalam kandang: nafsu makan,
kondisi feses, cara berdiri atau berjalan, ada atau tidaknya luka atau
pembengkakan pada bagian tubuh, ada atau tidaknya eksudet dari lubang-lubang
kumla.
· Pemeriksaan di luar kandang: ternak dimasukkan
dalam kandang jepit di klinik, pengukuran suhu tubuh melalui rektum dengan cara
memasukkan termometer ke dalam rektum dibiarkan selama 3 menit dan dibaca,
pengukuran frekuensi denyut jantung dengan alat stetoskop, pengukuran frekuensi
pernapasan dan lapang paru-paru, serta palpasi pada bagian yang luka atau
bengkak.
3.1.5.9 Pengobatan
Pengobatan
dilakukan sesuai dengan symptom. Apabila kondisi ternak tidak memungkinkan
untuk ditampung semennya, maka ternak diistirahatkan dengan mengisi kartu
istirahat ternak yang ditandatangani Kepala Sub Seksi Kesehatan Hewan dan
diserahkan kepada Seksi Laboratorium dan Penampungan.
3.1.5.10
Pencukuran Rambut
Pencukuran
rambut dilakukan dengan menggunakan alat cukur listrik oster. Bagian yang
dicukur yaitu kedua sisi tubuh, ekor, dan keempat kaki hingga gelang puyuh.
Sedangkan untuk kambing hanya dilakukan pada daerah sekitar dada, perut, dan
ekor.
3.1.5.11
Vaksinasi
Vaksinasi
SE dilakukan untuk sapi setiap satu tahun sekali. Sedangkan untuk ternak
kambing dilakukan hanya sekali vaksinasi Orf.
3.1.5.12
Pemberian Obat Cacing
Pemberian
obat cacing terhadap seluruh ternak dilakukan setiap pergantian musim. Dosis
obat cacing yang diberikan sesuai dengan bobot badan.
3.1.5.13
Pemeriksaan Kesehatan secara Laboratories
Pemeriksaan
kesehatan ternak secara laboratories dilakukan dengan pengambilan sampel.
Sampel yang diambil berupa:
1. Feses, diambil secara steril di dalam rektum dan
dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label.
- Kerokan kulit, diambil menggunakan pisau scalpel. Bagian kulit dikerok hingga mencapai lapisan dermis kemudian dimasukkan dalam botol dan diberi larutan KOH dan diberi label.
3. Eksudat preputium, diambil menggunakan cotton
swab. Eksudat diambil dari preputium dan dimasukkan dalam tabung yang berisi
media agar dan diberi label.
4. Darah, serum diambil pada vena jugularis dengan
menggunakan vaccum venoject tidak berheparin sebanyak 10 ml. Kemudian diberi
label dan dibiarkan selama 2 jam. Setelah itu dilakukan sentrifugasi dengan
1000 rpm selama 5 menit. Serum dipindahkan ke tabung venoject dan diberi label.
Sedangkan untuk whole blood, diambil pada vena jugularis dengan menggunakan
vaccum venoject.
Apabila
hasil pemeriksaan laboratorium positif terhadap penyakit tertentu, maka:
1. Ternak diusulkan untuk diafkir
2. Ternak diisolasi, ternak tidak ditampung
semennya, semen beku tidak didistribusikan atau ditarik kembali, dilakukan
program pengobatan, diamati kemungkinan timbulnya gejala klinis, dan dilaporkan
kondisinya setiap bulan, serta dilakukan pemeriksaan ulang secara laboratories.
3. Ternak tetap ditampung semennya, semen beku tetap
didistribusikan, diamati timbulnya gejala klinis, dan dilaporkan kondisinya
setiap bulan.
3.1.5.14
Kasus Kematian Ternak
Hal-hal
yang dilakukan apabila terjadi kematian ternak antara lain dilakukan seksi atau
bedah bangkai pada hari yang sama, dilakukan patogoli anatomi, diambil potongan
kubus 1 cm organ-organ trakea, paru-paru setip lobus, lymphonodula, kantong
empedu, esofagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, lympha, jantung,
pericard, diafragma, ginjal, ileum, jejenum, rektum, dan organ lainnya yang terjadi
kelainan dimasukkan ke dalam wadah yang berisi larutan formalin 10%, spesimen
dan laporan seksi dikirim ke laboratorium, dan dibuat berita acara kematian,
laporan seksi, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
3.1.6 Hijauan Makan Ternak
Kegiatan penyediaan Hijauan Makan Ternak (HMT) dilakukan setiap hari
dengan kegiatan pemotongan rumput segar dari kebun rumput yang akan diberikan
kepada ternak. Jenis rumput yang ditanam di BBIB Singosari adalah rumput gajah,
star grass dan Brachiaria degumbens. Luas areal rumput yang dikelola seluas ± 21.68 ha,
dengan rincian rumput gajah seluas 12,40 ha, star grass seluas 6,03 ha, Braciaria
degumbens seluas 1,22 ha. Selain itu, BBB Singosari juga memiliki lahan
jagung seluas 10,05 ha.
3.1.6.1 Pembuatan Silase
Silase merupakan pakan ternak yang masih mempunyai kadar air tinggi
sebagai hasil pengawetan hijauan makan ternak atau bahan-bahan lain melalui
proses fermentasi yang dibantu oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob.
Silase terbuat dari semua bagian tanaman jagung
berumur 70-75 hari di dalam suatu tempat yang disebut dengan silo.
Prinsip dari pembuatan silase yaitu suatu usaha untuk mencapai dan
mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) serta suasana asam ditempat
penyimpanan (silo). Pembuatan silase dilakukan dengan cara memotong semua
bagian tanaman jagung menggunakan chopper
untuk mendapatkan potongan yang seragam dengan panjang 3-5 cm. Pemotongan ini
bertujuan untuk memadatkan potongan hijauan sehingga udara semakin sedikit.
Semakin sedikit udara maka semakin sedikit bakteri aerob yang ada, dan bakteri
anaerob semakin banyak. Kemudian potongan
hijauan dimasukkan ke dalam silo
sambil dipadatkan dengan cara diinjak - injak agar oksigen yang terkandung di
dalamnya berkurang sehingga kondisi anaerob dapat diperoleh secepat mungkin.
Setelah silo penuh barulah ditutup
menggunakan plastik dan kemudian ditutup lagi dengan terpal lalu diberi beban
di atasnya agar air tidak dapat masuk sehingga diperoleh silase yang
berkualitas baik. Proses fermentasi ini dilakukan selama 40 hari dan
menggunakan starter dari jagung. Fungsi starter dalam hal ini sebagai sumber
makanan bakteri yang ada sehingga bakteri tersebut tidak merusak hijauan yang
akan diawetkan. Jika pembuatan silase ini dilakukan dengan baik dan benar maka
akan dihasilkan silase yang baik dan berkualitas. Ciri - ciri silase yang
berkualitas baik adalah berbau harum kemanisan, tidak berjamur, tidak
menggumpal, memiliki pH antara 4 sampai 4,5 dan berwarna kehijauan.
Apabila pada saat pembuatan terjadi pembusukan, maka harus dilakukan
pembuangan ke tempat pembuangan kotoran. Pembusukan silase biasanya disebabkan
adanya air yang masuk ke dalam silo, sehingga menyebabkan kondisi aerob pada
silase. Silase yang busuk memiliki ciri-ciri mengumpal dan berwarna kecoklatan.
Apabila silase ini diberikan kepada hewan sapi maka akan menyebabkan keracunan.
3.1.6.2 Hijauan Segar
Hijauan segar yang diberikan pada sapi dan kambing adalah rumput
gajah. Porsi pemberian rumput gajah pada sapi dan kambing berbeda. Sapi diberi
rumput gajah pada sore hari sebanyak 2 bentel atau 15 – 20 kg per hari.
Sedangkan kambing diberi rumput gajah pada sore hari sebanyak 14 kg per hari.
Selain itu hijauan segar yang diberikan pada kambing berupa Gliceridae dan kaliandra pada pagi hari.
3.1.6.3 Hijauan Kering
Upaya pengawetan hijauan makanan ternak dengan cara dikeringkan dapat
dilakukan dengan 2 macam bentuk, yaitu hay dan wafer. Hay adalah hijauan
makanan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan baik dengan bantuan sinar
matahari ataupun panas buatan sehingga hijauan tersebut memiliki kadar air
berkisar antara 10 – 15%. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan hay ini adalah
rumput yang berbatang kecil sehingga akan mudah untuk dikeringkan seperti Brachiaria decumbens, Setaria splendida,
Star grass, dan lain-lain. Pembuatan hay dapat dilakukan pada musim
penghujan karena pada saat itu intensitas sinar matahari sudah cukup tinggi dan
hujan masih ada sehingga memungkinkan rumput masih dapat tumbuh. Rumput yang
memiliki kualitas baik untuk dijadikan hay adalah rumput yang menjelang masa
berbunga. Sedangkan wafer adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipanaskan
dengan oven sehingga hijauan tersebut memiliki kandungan air berkisar antara 10
– 15%. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan wafer adalah pucuk daun tebu.
Wafer ini tidak diproduksi sendiri oleh Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari, melainkan membeli dari pabrik pengolahan limbah tebu.
Pada musim penghujan sapi tidak diberi pakan berupa hay. Hal itu
dikarenakan persediaan hay terbatas, sehingga sapi hanya diberi pakan berupa
wafer. Pemberian wafer pada masing-masing sapi tergantung dari berat badan.
Contohnya pada kandang 4 masing-masing sapi diberikan 1 strip dan pada kandang
11 masing-masing sapi diberikan 1,5. Pemberian wafer dilakukan sebelum
pemberian silase. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya kembung atau mencret.
3.1.7
Pemilihan Bibit dan Bahan Penanaman
3.1.7.1
Pemilihan Bibit
Pemilihan
bibit ini bertujuan untuk memperoleh bibit yang akan ditanam sehingga cocok
dengan lingkungan, mudah dikembangkan dan dikelola, serta dapat memberikan
produksi yang tinggi.
3.1.7.2
Bahan Penanaman
Bahan
penanaman yang digunakan untuk bibit adalah sobekan rumpun (pols),
potongan batang (stek) dan stolon.
3.1.7.2.1
Cara Penanaman dengan Stolon
Sobekan
rumpun (pols) yang baik diperoleh dari rumpun yang sehat, mengandung
banyak akar dan calon anakan baru (bagian tepi), dan vegetatifnya harus
dipotong agar tidak terlalu banyak penguapan sebelum sistem perakarannya dapat
aktif menghisap air. Setiap pols terdiri dari 2 – 3 batang rumput dan diambil
dari bagian rumpun yang baru. Cara penanamannya dilakukan dengan membuat
lubang-lubang di areal yang akan ditanami rumput dan penanaman dapat langsung
dilakukan dengan menempatkan sobekan tanaman pada lubang-lubang yang ada dan
dilanjutkan dengan penutupan lubang.
3.1.7.2.2
Penanaman dengan Stek dan Stolon
Stek
adalah potongan batang, sedangkan stolon adalah potongan batang yang merayap
atau batang yang berimpit tanah. Stek diperoleh dari batang yang sehat dan tua,
dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dan mengandung dua buah buku.
Ruas di bagian bawah harus masuk di dalam tanah dengan baik karena
nantinya akan tumbuh akar. Kedudukan stek dapat tegak, miring, atau berbaring
agar mudah membentuk perakaran dari buku-buku yang lebih dekat dengan tanah.
Setiap tempat penanaman dapat ditanami 2 atau 3 stek. Setelah stek ditanam,
tanah ditekan rapat pada steknya agar tidak mudah rebah dan tidak kering,
sehingga calon akar pun dapat mudah kontak dengan tanah.
3.1.8
Pengolahan Tanah dan Penanaman
3.1.8.1
Pengolahan Tanah
Pengolahan
tanah bertujuan untuk mempersiapkan media tumbuh yang optimal bagi suatu
tanaman. Pengolahan tanah yang sempurna dapat membersihkan tanah dari tanaman
liar, memberikan sistem perakaran yang sempurna, memperbaiki aerasi tanah dan
kelembaban, serta menjaga kelestarian dan kesuburan tanah. Pengaturan jarak dan
waktu antara pengolahan tanah dan saat penanaman tidak boleh terlalu lama. Hal
ini bertujuan untuk menghindari memadatnya kembali tanah yang telah diolah dan
tumbuhnya kembali rumput liar. Waktu yang baik untuk melakukan pengolahan tanah
yaitu saat akhir musim kemarau atau awal musim penghujan agar ketersediaan air
dapat terpenuhi karena pertumbuhan awal sangat peka terhadap pengaruh luar terutama
keadaan suhu dan air. Pengolahan tanah ini dilakukan dalam beberapa tahap,
yaitu:
3.1.8.1.1
Pembersihan Areal (Land clearing)
Pembersihan
areal bertujuan untuk membersihkan tanah dari tanaman liar yang tumbuh di areal
tersebut, seperti pepohonan, semak-semak, alang-alang, atau tumbuh-tumbuhan
lainnya yang merugikan bagi pertumbuhan rumput yang ditanam. Pohon-pohon perlu
diperhatikan untuk menjaga kelembaban tanah di musim kemarau sehingga mencegah
erosi.
3.1.8.1.2
Pembajakan (Ploughing)
Pembajakan
tanah dapat dilakukan dengan menggunakan bajak atau traktor. Pembajakan tanah
ini bertujuan untuk memecahkan lapisan tanah menjadi bongkah-bongkah. Setelah
tanah dibalik dibiarkan beberapa hari sehingga proses mineralisasi bahan-bahan
organik dapat berlangsung dengan cepat. Tanah yang bertekstur ringan cukup
dibajak satu kali, sedangkan tanah yang bertekstur berat harus dibajak dua kali
dengan jarak waktu satu minggu.
3.1.8.1.3
Penggaruan (Harrowing)
Penggaruan
bertujuan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan padat menjadi tekstur yang
remah dan sekaligus membersihkan sisa-sisa perakaran dari tumbuhan liar dan
sebelumnya diberikan pemupukan awal dengan pupuk organik atau anorganik (P dan
K), sehingga saat penggaruan berlangsung pupuk dapat teraduk secara merata pada
lapisan tanah yang diolah.
3.1.8.2
Penanaman
Penanaman
dimulai awal musim penghujan, segera setelah selesai diolah dengan sempurna.
Jarak tanam rumput tergantung pada jenis yang akan ditanam dan kesuburan tanah.
Jarak tanam untuk rumput yang tumbuh tegak dan berumpun yaitu 60 – 60 cm, 60 –
45 cm, atau 60 – 75 cm. Sedangkan jarak tanam untuk tanaman yang membentuk
stolon yaitu 90 – 60 cm, 80 – 100 cm, atau 100 – 100 cm.
3.1.9
Perawatan Kebun Rumput
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam perawatan kebun rumput adalah pendangiran,
pembersihan gulma, pembubuhan, penyulaman, pembersihan saluran drainase, dan
pemupukan.
3.1.9.1
Pendangiran
Pendangiran
bertujuan untuk menggemburkan tanah kembali agar proses peredaran udara dan air
di dalam tanah lebih sempurna, mengurangi penguapan air dari dalam tanah karena
lapisan tanah pada bagian atas pembuluh kapilernya terputus sehingga air dari
dalam tanah yang sedianya akan diuapkan melalui pipa-pipa kapiler menjadi
tertahan dan dapat diserap oleh akar, serta efisiensi penyerapan pupuk
meningkat sehingga pertumbuhan tunas baru akan lebih banyak. Pendangiran tanah
dilakukan setelah hijauan berumur satu bulan atau setiap rumput habis dipanen
dan dilakukan pemupukan sekaligus.
3.1.9.2
Pembersihan Gulma
Pembersihan
gulma bertujuan untuk memberantas rumput liar ataupun tumbuhan lainnya yang
mengganggu tanaman pokok. Gangguan terhadap tanaman pokok berupa saingan
terhadap zat hara dan air, cahaya matahasri, dan dalam pengelolaan. Apabila
tanaman liar menutupi tanaman pokok, tanaman pokok dapat mati. Pembersihan
gulma dilakukan secara mekanis dengan cara mencangkul untuk membersihkan
tanaman liar.
3.1.9.3
Pemupukan
Pemupukan
bertujuan untuk memberi zat-zat makanan pada makanan, mempertahankan kesuburan
tanah, dan memperbaiki struktur tanah. Pemupukan dilakukan dengan pupuk buatan
(urea) dengan dosis 200 – 250 kg/ha dan pupuk organik (pupuk kandang) dengan
dosis 4000 kg/ha. Pemupukan dengan pupuk organik dilakukan bersama pada saat
pengelolaan tanah. Pupuk disebar rata di permukaan tanah. Kemudian ditanam
dalam baris-baris dan ditimbun tanah. Setelah itu dibenamkan dalam
lubang-lubang di sekitar tanah.
3.1.9.4
Pemotongan
Pemotongan
dilakukan pada akhir vegetatif atau menjelang berbunga. Apabila terlambat
memotong atau tanaman sudah berbunga, kandungan serta kasar akan lebih tinggi
dan nilai gizi berkurang. Apabila pemotongan dilakukan terlalu awal, hijauan
terlalu muda, kandungan protein, dan kadar airnya tinggi tetapi bahan keringnya
rendah sehingga berakibat jelek pada pertumbuhan selanjutnya. Pemotongan
sebaiknya dilakukan 40 hari sekali pada musim penghujan dan 60 hari pada musim
kemarau. Pada saat pemotongan, bagian tanaman yang ditinggalkan tidak boleh
terlalu pendek atau terlalu tinggi, yaitu sekitar 8 – 15 cm dari atas permukaan
tanah. Untuk tanaman rumput yang pertama kali ditanam, setelah berumur 60 hari
perlu dilakukan pemotongan paksa. Hal ini bertujuan untuk menstimulir
pertumbuhan dan memperbanyak anakan serta menyeragamkan pertumbuhan berikutnya.
3.1.9.5
Peremajaan
Apabila tanaman sudah tua (5 – 8 tahun), produksinya akan menurun dan
tidak menunjukkan perbaikan oleh pengelolaan seperti pemupukan. Sehingga
tanaman tersebut perlu dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.
3.2 Produksi Semen Beku
3.2.1 Penampungan Semen dengan Vagina Buatan
3.2.1.1 Persiapan Bull teaser
dan Pejantan
Pada proses
penampungan semen ini dibutuhkan seekor bull
teaser atau yang lebih dikenal dengan sebutan pejantan pemancing.
Penggunaan bull teaser dalam hal ini
bertujuan untuk merangsang libido dari pejantan yang telah dijadwalkan untuk ditampung
semennya. Bull teaser yang digunakan
pada sapi dan kambing berbeda. Pada sapi hanya digunakan bull teaser jantan. Sedangkan pada kambing bisa digunakan bull teaser jantan dan betina.
Karakteristik dari bull teaser yang
digunakan harus berukuran lebih kecil dan tidak aktif daripada pejantan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan bull teaser kedalam kandang jepit dan diikat dengan tali tampar.
Pengikatannya dimulai dengan mengikat bagian ekor, kemudian dilewatkan pada
perut bagian bawah dan terakhir diikatkan pada bagian leher bull teaser.
Penampungan
semen pejantan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Setiap
pejantan yang ada di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari dilakukan
penampungan sebanyak dua kali per minggu atau sesuai dengan kebutuhan. Bull teaser dimasukkan kekandang jepit
dan diikat dengan nyaman, ekornya diikat dan ditarik kedepan melewati bawah
perut dan ujung tali diikatkan pada tali kepala bull teaser. Tubuh bagian
belakangnya dilap dengan handuk bersih yang telah dibasahi larutan desinfektan
perbandingan 1:1000, tujuannya adalah agar penis pejantan tidak terkontaminasi
ketika dilakukan mounting (menaiki bull
teaser). Selain itu, petugas atau kolektor memeriksa keadaan penis pejantan
pada saat mounting pertama. Apabila
ditemukan luka, maka penis tersebut harus diberikan penanganan. Dilakukan
penampungan semen sebanyak 2 kali ejakulasi. Apabila dilakukan penampungan
semen lebih dari 2 kali akan menyebabkan pejantan lelah dan konsentrasi sperma
yang rendah.
3.2.1.2 Persiapan Vagina Buatan
Artificial
Vagina atau Vagina Buatan
merupakan alat utama yang digunakan dalam penampungan semen. Penggunaan Artificial Vagina merupakan metode
paling efektif untuk diterapkan pada ternak unggul normal dan memiliki libido
bagus. Artificial Vagina terdiri atas
beberapa bagian, diantaranya outer tube,
inner rubber liner, cone, serta collection
tube yang dilengkapi dengan garis volume. Keseluruhan bagian Artificial Vagina tersebut harus dalam
keadaan steril ketika akan digunakan untuk menampung semen pejantan.
Teknik
penggunaan Artificial Vagina perlu
diisi dengan air hangat pada suhu 40-50˚C sebanyak 400 - 500 ml pada sapi
sedangkan pada kambing sabanyak ± 100 ml. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan
dengan suhu vagina asli dari sapi ataupun kambing. Setelah pengisian tersebut
perlu dilakukan pemompaan yang disesuaikan dengan ukuran penis dari pejantan.
Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh kekenyalan yang sama dengan kondisi
vagina asli dari sapi ataupun kambing. Sebelum digunakan, perlu diolesi dengan lubricating jelly dengan menggunakan stick steril mulai dari bagian luar
lubang sampai 1/3 bagian atas Artificial Vagina. Hal tersebut bertujuan untuk melumaskan atau
memudahkan jalannya masuk penis pejantan kedalam Artificial Vagina dan mengurangi adanya resiko luka pada penis
pejantan.
3.2.1.3 Proses Penampungan Semen
Artificial Vagina yang telah diolesi dengan lubricating jelly dibawa
oleh seorang kolektor menggunakan tangan kanan dengan sudut kemiringan ± 35°. Terdapat petugas lain yang bertindak untuk
meng-handle tingkah laku pejantan.
Pertama-tama petugas lain mendekatkan pejantan kepada bull teaser agar libido pejantan tersebut terpancing. Lalu kolektor
bersiaga apabila pejantan mengalami mounting.
Pada saat mounting pertama, kolektor
akan menyiram penis pejantan dengan desinfektan ringan. Hal ini bertujuan untuk
menghilangkan kotoran serta mengurangi kontaminasi pada penis pejantan. Setelah
penis pejantan mengalami mounting 3-5
kali dan memiliki tanda-tanda berupa keluarnya cairan accesoris, kolektor mulai memasukkan Artificial Vagina pada penis pejantan. Setelah semen berhasil
didapatkan, colection tube diarahkan
kebawah dan lubang Artificial Vagina keatas.
Penampungan semen pada masing-masing pejantan dilakukan sebanyak dua kali
ejakulasi. Dari ejakulsi I ke ejakulasi II pejantan diistirahatkan ditempat
peristirahatan selama 15 menit. Hal ini bertujuan untuk memulihkan stamina
pejantan sebelum dilakukan penampungan semen yang ke II.
3.2.1.4 Proses Pengiriman Semen
Semen
pejantan yang telah berhasil ditampung harus segera dibawa ke laboratorium
untuk dilakukan proses pemeriksaan. Apabila tempat penampungan semen dengan
laboratorium jauh, maka dibutuhkan sebuah motor untuk dapat mempercepat proses
pengiriman. Lamanya proses pengiriman juga bisa menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan semen menurunnya kualitas semen. Pada saat proses pengiriman semen
tidak boleh mengalami temperature shock
atau perbedaan suhu antara semen dengan lingkungan serta tidak boleh terkena
sinar matahari. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pada saat proses pengiriman,
tabung reaksi yang berisi semen dibungkus dengan kain hitam.
3.2.2 Pemeriksaan Semen
3.2.2.1 Pemeriksaan Semen Segar
Pemeriksaan
semen segar bertujuan untuk mengetahui apakah semen segar dapat diproses lebih
lanjut atau tidak, berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Semen yang telah
didapatkan melalui proses penampungan, kemudian dilakukan proses pemeriksaan
terlebih dahulu supaya semen beku yang dihasilkan untuk proses inseminasi
buatan memiliki kualitas yang sangat baik. Hal yang perlu dilakukan pertama
kali adalah sterilisasi tangan dengan air bersih dan desinfeksi dengan alkohol.
Laboran harus memakai jas laboratorium serta menggunakan sandal khusus
laboratorium, karena dalam proses ini membutuhkan tingkat steril yang baik.
Proses
pemeriksaan semen ini harus dilakukan dengan cepat untuk menghindari dan
meminimalisasi kerusakan, kematian, dan kehabisan energi bagi spermatozoa. Ada
dua macam pemeriksaan yang dilakukan, yaitu pemeriksaan makroskopis dan
pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan makroskopis meliputi volume, warna, bau,
pH, dan konsistensi. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis meliputi gerakan masa,
gerakan individu, dan konsentrasi spermatozoa per ml.
Berikut ini
merupakan penjabaran dari setiap pemeriksaan yang dilakukan:
1. Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan
makroskopis merupakan suatu evaluasi semen dengan mata secara langsung tanpa
memerlukan alat bantu. Pada pemeriksaan ini dilakukan pengukuran volume, bau,
warna, pH, dan konsisistensi semen.
Volume dari
semen yang diejakulasikan oleh suatu pejantan dapat dilihat melalui tabung
pengumpul yang telah dilengkapi dengan garis volume. Menurut Hunter (1982)
pengukuran volume semen yang baik pada masing-masing pejantan harus mencapai 2
– 10 ml.
Pemeriksaan
bau semen dilakukan dengan cara membau. Semen yang normal memiliki aroma khas
sperma. Warna semen hasil ejakulasi pada masing-masing organisme sangat
berbeda-beda. Semen sapi pada umumnya memiliki warna putih sedikit krem atau
putih susu atau kekuningan. Sedangkan semen kambing berwarna putih krem tetapi lebih tua dari semen sapi.
Namun pada kenyataannya memungkinkan juga ditemukan selain dari warna di atas,
seperti warna kemerahan pada semen yang didapatkan menunjukkan bahwa semen telah terkontaminasi
oleh darah, sedangkan apabila warnanya berubah coklat menunjukkan bahwa semen
yang telah terkontaminasi darah mengalami dekomposisi pada darahnya. Warna
semen kehijauan merupakan indikasi adanya bakteri pembusuk.
Pengujian
pH dari semen dilakukan dengan menggunakan pH paper BTB atau kertas lakmus.
Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian ini adalah dengan meneteskan
sedikit semen pada pH paper BTB atau kertas lakmus dan diamati perubahan warna
yang terjadi pada kertas tersebut. Adanya perubahan warna pada kertas
dicocokkan dengan indikator yang tertera pada kemasan pH paper BTB atau kertas
lakmus. Pada umumnya, semen normal memiliki pH antara 6,2 - 6,8.
Konentrasi semen dapat diketahui secara pasti dengan melihat nilai
absorbansi yang tertera pada spektrofotometer. Langkah pertama yang dilakukan pada pengujian konsistensi ini adalah dengan mencampurkan 0,04 ml semen dengan 3,96 NaCl fisiologis. Fungsi penggunaan NaCl fisiologis ini adalah untuk menjaga keadaan sel
spermatozoa. Kemudian dilakukan homogenasi menggunakan vortex. Hal ini bertujuan
untuk benar-benar memastikan bahwa semen dan NaCl fisiologis telah tercampur.
Setelah itu campuran tersebut dipindahkan kedalam kuvet, dan dilakukan
pembacaan konsentrasinya berdasarkan pada nilai absorbansi yang tertera pada
spektrofotometer. Kriteria konsistensi semen sapi
maupun kambing adalah sebagai berikut:
-
< 1000 x
106 : encer
-
1000-1500 x 106 : sedang
-
> 1500 x
106 : pekat
Menurut Kartasudjana (2001), semakin kental semen yang diejakulasi
oleh suatu organisme, dapat diartikan bahwa konsentrasi sperma yang terkandung
di dalamnya juga semakin tinggi.
2.
Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan
mikroskopis meliputi gerak massa, gerak individu dan konsentrasi sel. Setelah
dilakukan pemeriksaan semen secara makroskopis, selanjutnya dilakukan
pemeriksaan semen secara mikroskopis. Pemeriksaan semen secara mikroskopis ini
bertujuan untuk menganalisa kondisi semen lebih dalam lagi. Alat yang digunakan
untuk pemeriksaan ini adalah mikroskop dengan perbesaran 200 X atau 400 X.
Pada
pemeriksaan mikroskopis ini dapat diketahui gerakan massa dan gerakan individu
dari spermatozoa. Pengujian dengan kedua variable ini merupakan tolok ukur
apakah semen layak untuk diproduksi ataupun tidak dan digunakan sebagai
parameter kesanggupan spermatozoa membuahi. Pada pemeriksaan gerakan massa, slide glass tanpa ditutup dengan cover glass, sedangkan pada pemeriksaan
gerakan individu slide glass ditutup
dengan cover glass.
Penilaian semen berdasarkan pergerakan massa dapat ditentukan sebagai
berikut:
1.
Sangat baik
(+++), jika terlihat adanya gelombang-gelombang besar, banyak, tebal, gelap dan
aktif bergerak cepat serta berpindah-pindah tempat.
2.
Baik
(++), jika terlihat gelombang-gelombang
kecil tipis, jarang, kurang jelas, dan bergerak lamban.
3.
Sedang (+),
jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan-gerakan individu aktif
progresif.
4. Buruk (0), bila hanya sedikit atau gerakan-gerakan individual
Penilaian pergerakan
individu menggunakan mikroskop dan melihat pergerakan progresif atau atau
pergerakan aktif maju ke depan merupakan gerakan terbaik. Pergerakan melingkar
atau mundur merupakan tanda terdapat cold
shock atau media yang kurang isotonik terhadap semen. Gerakan berayun dan
berputar-putar ditempat biasanya terlihat pada semen yang sudah tua dan apabila
kebanyakan spermatozoa berhenti bergerak telah dianggap mati (Tolihere, 1981).
Standart yang digunakan
pada pengujian gerakan masa dan gerakan individu spermatozoa ini adalah 70%.
Dimana 70% terdiri dari perhitungan +++, ++. Apabila pada pengujian ditemukan
perhitungan gerakan >70%, maka semen tersebut bisa dilakukan penanganan
selanjutnya. Sedangkan apabil pada pengujian ditemukan perhitungan motilitas
<70%, maka semen tersebut dinyatakan Afkir dan tidak bisa dilakukan
penanganan selanjutnya atau harus dibuang.
3.2.2.2 Pemeriksaan Before Freezing
Before Freezing merupakan pengujian spermatozoa setelah dilakukan pengenceran dengan
pengencer B dan sebelum dilakukan pengisian kedalam straw dengan mesin filling
sealing. Pengujian ini untuk mengetahui motilitas spermatozoa sebelum dilakukan
pembekuan. Standart pada pengujian Before
Freezing ini adalah 55%. Apabila ditemukan motilitas spermatozoa dibawah
55%, maka semen dinyatakan afkir.
3.2.2.3 Pemeriksaan Post Thawing Motility
Post Thawing Motility merupakan pengujian lebih lanjut motilitas sel
spermatozoa setelah dilakukan freezing. Biasanya pengujian ini dilakukan sehari
setelah proses freezing. Pada pengujian ini dilakukan pengambilan dua sampel
semen secara acak yang telah dibekukan. Alat yang digunakan pada pemeriksaan
ini adalah mikroskop yang dihubungan dengan televisi. Langkah pertama yang
dilakukan adalah menyiapkan air hangat dengan suhu 37 - 38°C di-water bath. Kemudian merendam straw
selama 15 detik dengan posisi sumbat pabrik dibagian bawah atau dalam posisi
horisontal, sehingga seluruh bagian straw terendam. Angkat straw dan keringkan
sisa air yang menempel distraw dengan kertas tissue. Potong straw pada bagian
tengah menggunakan gunting yang telah didesinfeksi. Setelah itu, semen
diteteskan pada slide glass dan
ditutup dengan cover glass. Dilakukan
pengamatan dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 200 dan 400 kali.
Standart pada pengujian Post
Thawing Motility ini adalah 40%. Apabila ditemukan motilitas spermatozoa
dibawah 40%, maka perlu dilakukan pengujian motilitas lagi. Hal itu bertujuan
untuk membandingkan dengan pengujian sebelumnya. Apabila pengujian yang kedua
didapatkan motilitas spermatozoa diatas 40%, maka data pengujian pertama dan
data pengujian kedua dibagi. Namun apabila pengujian kedua tetap didapatkan
motilitas spermatozoa dibawah 40%, maka
semen tersebut tidak jadi didistribusikan kepada pelanggan. Semen yang dinyatakan afkir pada
pengujian ini tidak langsung dibuang begitu saja. Melainkan disimpan dulu
didalam container atau storage container.
3.2.3 Pengenceran
Fungsi
pengencer semen adalah untuk memperbanyak volume, memberi media yang cocok
untuk hidup spermatozoa, menjaga pH, tekanan osmotik, dan sebagai perlindungan
(krioprotektan). Pengenceran semen perlu menghindari panas yang berlebihan,
bahan kimia yang dapat menyebabkan toxic, berhubungan dengan udara luar, sinar
matahari secara langsung dan guncangan.
Bahan-bahan
yang digunakan untuk membuat pengencer pada Balai Besar Inseminasi Buatan
Singoari beserta fungsinya adalah sebagai berikut:
1. Kuning telur, berfungsi untuk mempertahankan
serta melindungi integritas dari selubung lipoprotein dari spermatozoa
2. Tris
amino methane, berfungsi
sebagai buffer untuk mencegah adanya perubahan pH yang diakibatkan adanya asam
laktat serta hasil dari metabolisme dari spermatozoa. Selain itu, berfungsi
untuk mempertahankan tekanan osmotik serta keseimbangan elektrolit.
3. Citric
Acid, berfungsi pula sebagai buffer, anti oksidan,
mengurangi peroksida lipid dari membran plasma spermatozoa serta sebagai ion
kalsium yang dibutuhkan oleh spermatozoa pada saat freezing.
4. Lactose dan Rafinose,
berfungsi sebagai sumber energy bagi spermatozoa
5. Penicillin dan streptomycin, berfungsi
untuk mencegah adanya pertumbuhan dari mikroorganisme yang nantinya dapat
mempengaruhi motilitas spermatozoa.
6. Destilled water
7. Glycerin yang hanya ditambahkan pada pengencer B, berfungsi untuk mencegah
adanya cold shock.
Langkah-langkah
yang digunakan dalam pembuatan pengencer adalah mencuci telur dengan air
mengalir, dan disterilisasi menggunakan alkohol 70%, selanjutnya memisahkan
kuning telur dengan albumin menggunakan kertas saring sebanyak 440 ml dalam
2200 ml, lalu ditambahkan Destilled water
sebanyak 1760 ml dalam 2200 ml yang telah dicampur dengan 28,25 gram tris amino methane, 19, 3 gram citric acid, 31,1 gram lactose, dan 55,9 gram raffinose yang sehari sebelumnya telah
dilakukan. Kemudian dilakukan homogenasi dengan cara dipindah – pindahkan dari
satu tabung ketabung lain secara berulang – ulang, dan ditambahkan penicillin serta streptomycin. Dihomogenasi dengan stirer selama 15 menit,
selanjutnya disimpan dalam kulkas dan satu hari kemudian diamati apakah
terdapat endapan atau tidak. Apabila tidak terdapat endapan, makan tidak dapat
digunakan sebagai pengencer.
Setelah 2
sampai dengan 3 hari pembuatan, pengencer yang telah dipisahkan dari endapannya
bisa digunakan untuk mengencerkan semen segar yang telah lolos dilakukan
pengujian makroskopis dan mikroskopis. Standart kualitas pengencer semen (Tris
kuning telur) yang baik adalah berwarna kuning atau orange, pH antara 6,2 –
6,8, Konsistensi encer, terdapat endapan 10% dari batas jelas, dan memiliki bau
khas tris. Tris kuning telur maksimal bisa digunakan setelah 14 hari pembuatan.
Ada tiga
macam pengenceran yang dilakukan, yaitu pengenceran A1, pengenceran A2 dan
pengenceran B. Pemberian pengencer A1 dilakukan pada saat semen masih dalam
keadaan segar dengan perbandingan 1 : 1. Pemberian pengencer A2 dan B
ditentukan dengan rumus. Rumus pemberian pengencer A2 dan pengencer B adalah sebagai
berikut:
|
Pemberian pengencer A1 dilakukan setelah semen dinyatakan lulus pada
pengujian secara makroskopis dan mikroskopis. Suhu semen pada saat pemberian
pengencer A1 adalah 37 - 38°C, yang kemudian akan diturunkan menjadi 3 - 5°C
dengan cara campuran semen dan pengencer A1 yang disimpan pada tabung reaksi
diletakkan didalam gelas yang berisi air hangat dan kemudian gelas tersebut
diletakkan didalam water jacket atau bisa juga langsung
diletakkan didalam cooling top. Penggunaan air hangat disini bertujuan untuk
menurunkan suhu semen secara perlahan – lahan, sehingga tidak terjadi temperatur shock. Setelah suhu semen dan
pengencer A1 menjadi 3 - 5°C dilakukan
penambahan pengencer A2. Suhu larutan pengencer A2 yang akan ditambahkan harus
sama dengan suhu larutan semen dan pengencer A1. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya temperature shock.
Setelah itu dilakukan penyimpanan campuran semen dan A2 didalam sterofom
pada referigator
dengan suhu 3 – 5 oC selama 20 – 22 jam. Selanjutnya dilakukan pemberian pengencer B.
Pemberian larutan pengencer B dilakukan sekaligus. Volume larutan pengencer B
ditambahkan sebanyak setengah dari volume total.
Prosedur pembuatan pengener B, yaitu pengencer A ditambah 13% gliserol.
Pembuatan pengencer B dilakukan sehari sebelum pengencer tersebut digunakan.
Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan percampuran pengencer A dan gliserol.
Fungsi penggunaan glicerol sebagai cryoprotectant yang merupakan prosedur pelaksanaan
kriopreservasi. cryoprotectant perlu ditambahkan dalam pengolahan semen
beku untuk meminimalisasi kerusakan akibat pembekuan, seperti pembentukan
kristal es intra dan ekstra seluler.
Pengenceran
semen memungkinkan Inseminasi Buatan sapi betina lebih banyak dan
mempertahankan daya fertilisasi sebelum semen disemprotkan kedalam alat kelamin
betina waktu birahi. Semua syarat pengenceran harus dipenuhi, terutama mengenai
kimiawi dan biologi yang terlibat dalam proses kehidupan spermatozoa pada waktu
fertilisasi dan implantasi (Salisbury, 1985).
3.2.4 Printing Straw
Straw pada
setiap bangsa sapi dan kambing dibedakan berdasarkan warna. Berikut adalah
pembagian warna straw berdasarkan bangsa sapi atau kambing:
Bangsa
|
Warna straw
|
FH
|
Abu – abu
|
Limousin
|
merah muda
|
Simental
|
Putih transparan
|
Brahman
|
Biru tua
|
Ongole
|
Biru muda
|
Angus
|
Salmon
|
Brangus
|
Hijau tua
|
Bali
|
Merah
|
Madura
|
Hijau muda
|
PE
|
Kuning
|
Boer
|
Beige
|
Printing straw
dilakukan menggunakan mesin jetz printing.
Printing straw dilaksanakan bersamaan dengan waktu pengenceran setelah
diketahui berapa jumlah straw yang akan dicetak. Straw yang akan diprinting
atau dicetak diberi keterangan tentang jenis penjantan, nama penjantan, kode
penjantan, batch number dan produsen semen beku tersebut, Jumlahnya printing
straw tergantung dari banyaknya spermatozoa dalam ejakulasi. Hal ini karena
volume semen dan konsentrasi sperma hasil ejakulasi untuk setiap pejantan
berbeda-beda sehingga jumlah straw yang akan dihasilkan juga berbeda.
Straw memiliki penamaan
khusus, yang berfungsi untuk memudahkan proses identifikasi straw sebelum
dipasarkan. Berikuti ini adalah contoh penamaan straw;
Keterangan:
1. BBIB :
menunjukkan nama tempat produksi
2. FH-DANISLY
T : menunjukkan nama
bangsa dan nama pejantan
3. 30572 :
menunjukkan (3) kode bangsa sapi FH, (05) menunjukkan tahun kelahiran pejantan,
dan (72) menunjukkaan nomor urut masuk
4. JJ 028 :
menunjukkan (JJ) kode tahun produksi, yaitu 2011, dan (026) menunjukkan urutan
produksi.
Setelah
straw dicetak, kemudian dimasukkan kedalam alat sterilisasi ultra violet selama
15 menit. Hal ini bertujuan untuk mengurangi adanya resiko kontaminan dari
mikroorganisme. Pada saat proses sterilisasi, posisi straw harus diatur
sedemikian rupa agar seluruh bagian straw terkena sinar ultra violet. Pada saat
melaksanakan sterilisasi ultra violet, diharapkan jangan sampai terkena kulit
dan mata.
3.2.5 Filling dan Sealing
Filling
dan Sealing adalah proses pengisian semen yang telah diencerkan ke dalam straw
dengan menggunakan alat yang bekerja secara otomatis (mesin filling &
sealing). Mesin tersebut secara otomatis memasukkan semen cair sebanyak 0,25 cc
ke dalam straw dan menutup ujung straw dengan sumbat lab. Proses ini dilakukan
di dalam cooling top. Sebelum dilakukan proses filling sealing, lemari dan mesin filling sealing dibersihkan dengan alkohol 70% dan seluruh
peralatan yang akan digunakan didinginkan pada suhu 4 – 5oC. Ketika
proses pengisian semen ke dalam straw,
silicon tube (fleksibel) dan tipper
disk (tempat semen) harus selalu diganti untuk pengisian semen yang
berbeda. Hal ini bertujuan untuk menghindari percampuran semen satu dengan
semen yang lain, yang nantinya akan berpengaruh terhadap keaslian semen itu
sendiri. Selanjutnya straw yang telah berisi semen dilakukan pengecekan untuk
mengetahui ada tidaknya straw yang tidak terisi semen dengan cara dilihat
dibawah cahaya.
3.2.6 Perhitungan straw, Pre-freezing, dan Freezing
Straw
yang telah berisi semen disusun di rak straw dan dihitung jumlahnya. Terdapat
dua jenis rak straw, yaitu rak straw berukuran kecil dan besar. Rak straw berukuran
kecil, berisi sebanyak 100 dan yang berukuran besar berisi 175. Perhitungan
straw dilakukan di dalam cooling top. Hal ini bertujuan untuk menjaga kondisi
suhu straw.
Proses
pre-freezing adalah meletakkan straw yang telah tersusun dirak straw diatas N2
cair dengan jarak antara permukaan N2 cair dengan straw kurang lebih sekitar 2
cm diatas permukaan cairan selama 9 – 10 menit dan suhu straw mencapai -140˚C.
Hal ini bertujuan sebagai proses adaptasi semen untuk tahap selanjutnya, supaya
tidak terjadi temperatur shock, yang
dapat menyebabkan abnormalitas atau kematian spermatozoa di dalam semen.
Freezing
merupakan proses penghentian sementara kegiatan hidup sel tanpa mematikan
fungsi sel dan proses hidup dapat berlanjut setelah pembekuan dihentikan.
Proses freezing ini dilakukan di dalam storage
container yang telah berisi N2 cair
dengan suhu -196˚C. Penggunaan N2 cair ini dikarenakan N2 cair dapat membekukan
pada suhu yang paling rendah dan dapat menyimpan semen pada waktu yang lama.
Setelah proses freezing, straw yang ada dalam goblet dimasukkan kedalam canester. Kemudian canester tersebut dimasukkan kedalam container. Diambil dua sampel secara acak untuk dilakukan pengujian
Post Thawing Motility. Hal yang perlu
diperhatikan selama proses freezing adalah dengan mengecek kembali nama serta
kode dari pejantan di tiap rak sebelum dimasukkan ke dalam canester.
3.2.7 Sterilisasi
3.2.7.1 Sterilisasi Kering
Sterilisasi
kering digunakan pada peralatan yang terbuat dari logam atau gelas, seperti
tabung reaksi, erlenmeyer, tabung ukur, jarum spuit, dsb. Proses sterilisasi
kering dimulai dengan mencuci alat dengan air bersih dan digosok dengan sikat
dan air sabun. Hal ini dikarenakan produk tipol tidak meninggalkan bau sabun
pada peralatan setelah pencucian. Selanjutnya dibilas dengan air bersih
mengalir dan ditiriskan. Setelah itu,
alat – alat tersebut direbus didalam air pada suhu mendidih selama 5
menit atau pada suhu 75°C selama 15 menit atau tergantung tebal tipisnya alat. Kemudian
diambil satu persatu dengan penjepit dan ditiriskan. Setelah alat – alat
tersebut kering, dimasukkan kedalam oven. Suhu yang digunakan dimulai dari 0°C sampai dengan 180°C. Oven yang digunakan untuk sterilisasi kering
dilengkapi dengan alarm. Alarm tersebut akan berbunyi apabila suhu telah
mencapai 180oC. Selama proses sterilisasi berlangsung pintu oven
tidak boleh dibuka. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu yang tinggi antara di
dalam dengan di luar oven dapat menyebabkan peralatan yang terbuat dari kaca
pecah. Setelah steril, semua permukaan peralatan dibungkus rapat dengan
alumunium foil dan disimpan dalam lemari alat steril.
3.2.7.1 Sterilisasi basah dengan menggunakan UV
Sterilisasi
basah digunakan untuk peralatan yang terbuat dari plastik dan kain. Seperti
sarung tangan kain, mikropippet tip, outer
tube, inner rubber liner,dan cone.
Sebelum dilakukan sterilisasi semua peralatan harus dicuci bersih dan direbus
didalam air terlebih dahulu. Setelah semua peralatan ini bersih, dilakukan
penataan didalam oven dengan memastikan bahwa semua bagian alat dapat terkena
sinar UV. Namun sebelum disterilisasi dengan sinar uv, semua peralatan harus
kering terlebih dahulu dengan cara dipanaskan didalam oven dengan suhu maksimal
40°C. Setelah alat – alat itu kering, baru dilakukan
sterilisasi dengan sinar uv sekitar 15 menit atau tergantung dari kapasitas
alat yang ada didalam oven. Peralatan yang terbuat dari silikon dan karet tidak
perlu dilakukan sterilisasi dalam waktu lama karena sinar UV yang terlalu lama
dapat merusak peralatan. Perlu diperhatikan ketika sterilisasi dengan
menggunakan sinar UV tidak boleh sampai terjadi kontak langsung dengan mata dan
kulit karena sinar UV dapat merusak kedua organ tubuh tersebut.
3.3 Pemasaran dan Informasi
3.3.1 Pemasaran
3.3.1.1 Proses Penyerahan Semen Beku Ke Bidang Pemasaran dan Informasi
Setiap selesai prosesing petugas mencatat hasil
produksi pada buku produksi dan diparaf oleh koordinator prosesing atau
pengujian. Kemudian dilakukan Post Thawing Motility minimal 24 jam setelah
pembekuan oleh penguji. Selesai melaksanakan Post Thawing Motility, penguji merekam
hasil pengujian pada buku produksi dan membuat memo produksi yang akan
diserahkan kepada bidang pemasaran dan informasi dengan diparaf kedua belah
pihak sebagai tanda bahwa seluruh produksi telah menjdi milik bidang pemasaran
dan informasi. Hasil produksi dapat digunakan atau disimpan dan didistribusikan
oleh bidang pemasaran dan informasi setiap saat setelah diparaf koordinator
prosesing dan wakil bidang pemasaran dan informasi. Buku produksi tidak
diperkenankan dibawa keluar dari laboratorium, apabila diperlukan maka bidang
pemasaran dan informasi diperkenankan untuk menyalin hasil produksi sesuai
kebutuhan, dan produksi harian akan direkapitulasi dan evaluasi oleh staf data.
3.3.1.2 Perlakuan Container
Container yang digunakan untuk penyimpanan semen beku harus diisi dengan
nitrogen cair dengan suhu -196oC. Container digunakan untuk menyimpan straw yang telah berisi semen
beku. Untuk penyimpanan straw, straw yang telah berisi semen beku dimasukkan ke
dalam goblet dan kemudian dimasukkan kedalam canester. Selanjutnya dimasukkan ke dalam container yang telah diisi dengan nitrogen cair sampai leher container. Pada bagian dalam container terdapat bagian yang disebut
bintang yang berfungsi untuk menahan canester
agar tidak goyang atau berubah posisi.
Container baru yang akan digunakan untuk menyimpan semen beku harus dilakukan
uji coba dengan cara mengisi container
tersebut dengan nitrogen cair secara perlahan agar tidak rusak atau retak pada
bagian dalam container dan didiamakan
selama 1x24 jam. Container layak
digunakan apabila pada container
tersebut tidak ditemukan gumpalan es pada tutup container, nitrogen cair yang ada di dalam container tidak banyak berkurang dan pada bagian luar container tidak basah. Sedangkan untuk container lama dan dalam keadaan kering,
volume nitrogen cair yang diisikan kedalam container
adalah 1,5 x volume container. Hal
ini karena setengah volume yang ditambahkan berfungsi untuk penyesuaian suhu
dan penguapan. Pengisian nitrogen cair ke dalam container dilakukan dengan menggunakan alat VGL (Vertical
Gas Liquid). Ketika pengisian container
dengan VGL, batas maksimal tekanan yang digunakan adalah 15 bar. Apabila
tekanan melebihi batas maksimal tersebut maka akan timbul suara yang sangat
keras pada VGL yang bertujuan untuk menurunkan tekanan. Proses pengisian
Nitrogen cair ini dilakukan sebanyak dua kali dalam satu minggu.
3.3.1.3 Proses Perawatan Straw
Sebelum
dilakukan proses distribusi, semen beku perlu dihitung ulang dengan menggunakan
rak straw dengan kapasitas per seratus straw. Setelah itu, semen beku dipindah
ke dalam goblet yang telah berisi nitrogen cair, dan diperiksa kembali
perseratus straw. Kriteria pemeriksaan yaitu tenggelam, terapung pecah atau
meletup. Apabila semua straw tenggelam, maka straw siap di simpan di dalam
kontainer distribusi. Sedangkan yang
lainnya, termasuk di dalamnya terapung, pecah ataupun meletup merupakan straw
afkir.
3.3.1.4 Persiapan Pengeluaran atau Pengiriman Semen Beku
Ini akan
dilakukan ketika pelanggan sudah membayar
atau mengirim biaya semen ke bendahara dan mengirimkan container ke Balai Besar Inseminasi
Buatan Singosari. Pada tahap ini, petugas akan mengecek isi container dengan
berkas kartu petunjuk yang sudah diketik dan diverifikasi oleh kepala seksi
atau kepala bidang yang disaksikan pihak pelanggan. Bila container akan
dikirim, terlebih dahulu dipacking kayu untuk melindungi dari benturan langsung
dari benda lain. Kemudian petugas akan menambahkan N2 cair kedalam container
sampai leher yang akan dikirim dan dilakukan pengukuran ketinggian N2 cair
dengan mistar. Setelah itu container ditutup dan disegel.
3.3.1.5 Mitra Kerja
Mitra kerjasama operasional yang terjalin antara
Balai Inseminasi Buatan Singosari dengan berbagai lembaga dari tahun 2007 -
2011 adalah sebagai berikut; CV. Larisa, RW Jatim, GKSI Jabar, GKSI Jatim,
Disnak Prop Jabar, Guyub Rukun DIY, Mustika Raya Blora, CV. Dani Grobogan, KPRI
BS Gunung Kidul, KPRI MS Karanganyar, Paguyuban IB Boyolali, CV. Darussalam, CV
Alam Pukanbi, Gembala Makmur Jateng, dan CV Sato SS DIY.
3.3.1.6 Harga Semen Beku
Berikut ini
merupakan tabel dari harga semen beku yang ada di BBIB Singosari:
Bangsa
|
Harga
|
Bali
|
Rp 6.000,00
|
FH
|
Rp 6.000,00
|
Brahman
|
Rp 6.000,00
|
Simental
|
Rp 6.000,00
|
Limousin
|
Rp 6.000,00
|
Brangus
|
Rp 6.000,00
|
Madura
|
Rp 6.000,00
|
Angus
|
Rp 6.000,00
|
Kambing
Peranakan Etawa (PE)
|
Rp 6.000,00
|
Kambing
Boer
|
Rp 6.000,00
|
FH Unggul
Indonesia (Elite Bull)
|
Rp 30.000,00
|
Semen
Beku Sexing Y
|
Rp 30.000,00
|
Semen
Beku Sexing
|
Rp 30.000,00
|
Semen
Beku Ekspor
|
5 – 20 US $
|
3.3.2 Informasi
Bagian
informasi bertugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang BBIB
Singosari, mendokumentasikan hasil kegiatan baik secara audiovisual maupun
tertulis, mempersiapkan bahan promosi, serta membuat laporan fertilitas.
Promosi yang dilakukan terdiri dari 2 cara yaitu:
1. Secara langsung
Promosi ini dilakukan dengan cara menjelaskan
secara langsung kepada konsumen tentang Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari
atau dapat pula dilakukan pada saat pameran
2. Secara
tidak langsung
Promosi ini
dilakukan dengan cara mengirimkan bahan informasi seperti brosur, poster, atau
leaflet kepada suatu instansi. Selain itu Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari juga menyediakan katalog mengenai
sapi perah dan sapi pedaging.
Sembilan
jenis layanan publik yang diberikan oleh BBIB Singosari antara lain:
1. Penjualan Semen Beku
a. Jenis
Bangsa Pejantan Unggul
Jenis semen beku yang diproduksi berasal dari bangsa pejantan unggul yaitu meliputi
sapi simental, sapi limousin, sapi brahman, sapi ongole, sapi bali, sapi
brangus, sapi madura, sapi angus, sapi FH, kambing PE, dan kambing boer.
b.
Biaya/tarif
·
Sesuai
dengan PP No.7. Tahun 2004 harga semen beku Unsexing Rp. 6.000,-
·
Sesuai
dengan SK Kepala BBIB Singosari No.04.033/ot. 160/F2K/01.11 harga semen beku
sexing Rp. 30.000,-
c. Jaminan Pelayanan
· Sesuai standar SNI 01-4869.1: 2008
· Telah diuji di Lab Uji Mutu menerakan Sistem Mutu
sesuai ISO/IEC 17025 : 2005
2. Pelayanan Purna Jual
a. Ruang Lingkup
Pelayanan purna jual dengan ruang lingkup penanganan semen beku,
antara lain penanganan kelainan reproduksi, manajemen pakan ternak, manajemen
pemeliharaan ternak, pasca pelatihan manajemen IB, program pemuliaan ternak / breeding, serta pengenalan reproduksi
aktivitas balai.
b. Bentuk Pelayanan
Bentuk
pelayanan dari pelayanan purna jual ini yaitu pertemuan teknis, kunjungan
lapangan, pengujian semen beku di lapangan, serta evaluasi hasil pelaksanaan
manajemen IB.
3. Bimbingan Teknis
a. Jenis Bimbingan Teknis dan Bentuk Pelayanan
Jenis bimbingan teknis yang ada di BBIB ini bersifat kelompok dan
perseorangan. Jenis bimbingan teknis bersifat kelompok antara lain inseminator
sapi atau kerbau, inseminator kambing atau domba, PKB, ATR, dan penanganan
semen beku. Bimbingan teknis kelompok ini dilakukan melalui penyampaian teori,
praktek RPH, praktek di laboratorium, pengenalan organ reproduksi ternak,
kunjungan lapang, praktek lapang, serta pelaksanaan kelompok. Sedangkan
bimbingan teknis bersifat perseorangan antara lain potong kuku, bull salon,
laborant, bull master, pembuatan silase, dan pembuatan hay. Bimbingam teknis
perseorangan dilakukan dengan bentuk penyampaian teori dan praktek.
b. Biaya/tarif:
Sesuai dengan SK : 04034/SM. 110/F2K/01. 11
Nama Bimbingan Teknis dan magang
|
Biaya/tarif
|
Waktu (Hari)
|
Keterangan
|
Bimbingan Teknis
|
1.
Biaya
sudah termasuk pajak yang berlaku
2. Biaya tidak termasuk transport PP dn uang saku
3. Sertifikat Tingkat Nasional
4. Bimbingan Teknis dilaksanakan/ Angkatan dengan
jumlah peserta minimal untuk unseminator sapi / kerbau 25 orang peserta: PKB
dan ATR 20 orang peserta, Inseminator kambing 15 orang peserta
|
||
Inseminator pada sapi/kerbau
|
Rp. 6.000.000,-
|
21
|
|
Pemeriksaan Kebuntingan (PKB)
|
Rp. 6.500.000,-
|
15
|
|
Asisten Teknis Reproduksi (ATR)
|
Rp. 6.500.000,-
|
15
|
|
Insemnator pada Kambing/Domba
|
Rp. 4.250.000,-
|
10
|
|
Magang
|
|||
Penampungan
Mutu Semen Beku (Handling semen beku)
|
Rp. 1.750.000,-
|
4
|
1.
Biaya
sudah termasuk pajak yang berlaku
2. Biaya tidak termasuk Transport PP dan uang saku
3. Sertifikat Magang
4. Magang bisa dilaksanakan dengan jumlah peserta
minimal 3orang
|
Hoof
Trimming (Potong Kuku) dan Bull Salon (Potong bulu)
|
Rp. 1.750.000,-
|
4
|
|
Laborant
|
Rp. 1.750.000,-
|
4
|
|
Pembuatan Hay dan Silase
|
Rp. 1.750.000,-
|
3
|
|
Bull Master
|
Rp. 1.750.000,-
|
4
|
|
4. Pelayanan Masyarakat
a. Bentuk Pelayanan
Bentuk pelayanan masyarakat ini dibagi menjadi 2 paket. Paket pertama
yaitu informasi aktivitas balai besar secara audiovisual. Sedangkan paket kedua
yaitu informasi aktivitas balai besar secara audiovisual dan melihat langsung
dengan kereta biosecurity.
b.
Biaya / tarif : sesuai dengan SK: 03035/TU. 120/F2K/0. 11
·
Paket I Rp. 7.500/orang
·
Paket II Rp. 10.000/orang
·
TK & SD
Rp. 5.000/orang
·
Internasional
Rp. 25.000/orang
5. Jasa Konsultasi
a. Ruang lingkup/jenis konsultasi
Ruang lingkup dari jasa konsultasi ini antara lain bidang pemeliharaan
ternak, pengawetan pakan, pemuliaan ternak atau breeding, penanganan produksi ternak, penanganan semen beku, dan
manajemen perkantoran.
b.
Bentuk Pelayanan
Bentuk
pelayanannya yaitu konsultasi teknis dan monitoring produk BBIB Singosari di
lapangan.
c.
Biaya/tarif:
Sesuai dengan SK Kepala BBIB ingosari No. 04036/ot.160/F2K/01. 11
biaya
jasa konsultasi Rp. 1.500.000,-
6. Pengujian Mutu Semen
a. Jenis Pengujian
Pengujian mutu semen meliputi motilitas, jumlah konsentrasi sel
sperma, presentasi hidup/mati sel sperma, abnormalitas sel sperma, serta
derajat keasaman (pH).
b.
Bentuk Sampel Pengujian
Bentuk sampel pengujian berupa pemeriksaan semen segar, semen cair,
serta semen beku.
c.
Biaya/tarif:
·
Motilitas
Semen Segar : Rp.
45.000,-
·
Konsentrasi
Semen Segar : Rp.
45.000,-
·
pH Semen
Segar :
Rp. 25.000,-
·
Mobilitas
Semen Cair : Rp.
45.000,-
·
Mobilitas
Semen Beku : Rp.
50.000,-
·
Livablitas
Semen segar/cair : Rp.
50.000,-
·
Abnormaliatas
semen segar/cair : Rp. 50.000,-
·
Livabilitas
semen beku : Rp.
50.000,-
·
Abnormalitas
semen beku : Rp.
50.000,-
7. Jasa Penyewaan Aset Balai
Bentuk pelayanan jasa penyewaan aset balai yaitu
penyewaan ruang/gedung serta sarana dan prasarana lainnya. Jenis prasarana yang
disewakan antara lain gedung auditorium, gedung workshop, gedung asrama/guesthouse,
kandang karantina, serta sarana olahraga dan transportasi. Biaya/tarif sesuai
dengan SK. 04037/OT. 160/F2K/01.11
No
|
Nama Asset
|
Tarif Sewa(Rp)
|
Keterangan
|
1
|
Gedung Auditorium
|
Rp. 1000.000,-/paket/hari
|
Kapasitas 200 orang
|
2
|
Gedung workshop
|
Rp. 800.000,-/paket/hari
|
Kapasitas 75 orang
|
3
|
GedungSerbaguna
|
Rp. 350.000,-/paket/hari
|
Kapasitas 25 orang
|
4
|
Kamar asrama
|
Rp. 10.000,-orang/hari
|
Kapasitas 3-4 0rang
|
5
|
Guest House
|
Rp. 50.000,-orang/hari
|
Kapasitas 6 orang3 kamar
|
6
|
Ruang Makan
|
Rp. 250.000,-/paket/hari
|
Kapasitas 32 orang
|
7
|
Bis
|
Rp.1.500.000,-/hari
|
Kapasitas 27 orang
|
8
|
Kandang Karantina
|
Rp. 15.000,-/ekor/hari
|
8. Jasa Pelayanan Penelitian
Jasa
penelitian yang disediakan oleh BBIB Singosari yaitu produksi ternak, kualitas
semen, prosesing semen, kesehatan hewan, pemuliaan ternak, dan ekonomi
peternakan. Bentuk pelayanannya berupa penyediaan ruangan, penyediaan
alat/bahan dan penyediaan tenaga SDM. Biaya/tarif disesuaikan dengan kebutuhan
penelitian.
9. Jasa Penyediaan Tenaga Instruktur dan Juri Kontes
Ternak
Bidang
pelayanannya meliputi instruktur idang manajemen IB dan juri kontes. Sedangkan
pelayanannya berupa pemberian materi, pemberian praktek lapangan, dan pemberian
penilaian. Biaya/tarif sesuai dengan SK. 04038/OT. 160/F2K/01.11 yaitu:
·
Jasa Instruktur selama 2 hari : Rp. 1.500.000,-
·
Jasa Juri Kontes selama 2 hari : Rp. 1.500.000,-
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan Praktikum Kerja Lapang yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari terdapat
9 bangsa sapi unggu yaitu FH, Limousin, Simental, Madura, Bali, Aberdeen angus,
Brangus, Ongole, dan Brahman. Serta 2 bangsa kambing yaitu PE dan Boer. Perawatan ternak unggul yang dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari meliputi memandikan ternak, membersihkan
lantai dalam dan luar kandang, membersihkan palungan dan tempat minum, pemberian pakan dan air minum, pembersihan lingkungan sekitar kandang dan pengontrolan kesehatan setiap hari. Proses
produksi semen beku diawali dengan penampungan semen segar, pengujian semen yang meliputi pengujian semen secara makroskopis dan mikroskopis,
pengenceran semen, pengujian before freezing (BF), identifikasi straw, fillinf
sealing, pre freezing, freezing, dan Post Thawing Motility (PTM). Distribusi yang dilakukan meliputi pembelian langsung, dan kerjasama operasional dengan dinas peternakan.
Selain itu, BBIB bagian informasi mempunyai tugas untuk memberikan informasi
kepada masyarakat terkait Sembilan jenis pelayanan publik BBIB Singosari.
4.2
Saran
Untuk mendapatkan hasil semen yang
berkualitas diperlukan keteraturan
dan monitoring dalam pemeliharaan ternak unggul, manajemen pemberian
pakan serta ketelitian dalam proses pemeriksaan semen segar. Apabila hal tersebut dilakukan maka akan mampu
menghasilkan semen beku yang mempunyai kualitas baik.
DAFTAR PUSTAKA
Agus,
B. M. 2007. Beternak Sapi Potong. Yogyakarta: Kanisius.
Aksi
Agraris Kanisius (AAK). 1980. Beternak
Sapi Perah. Yogyakarta.
Ditjennak. 2010. Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari. http://www.ditjennak.go.id/b-bib-singosari.asp.
Diaskes tanggal 13 Februari
2012.
Ian, Kay. 1998. Introduction to
Animal Physiology. United Kingdom: BIOS Scientific Publishers Limited.
Kartasudjana, R. 2001. Teknik Inseminasi Buatan. Jakarta:
Departemen pendidikan Nasional.
Soeprapto, Herry. 2006. Cara
Tepat Penggemukan Sapi Potong. Depok: PT. Agro Media Pustaka.
Subandi.
2005. Beternak Kambing. Jakarta:
Ganesa Exact.
Sudarmono,
A. S. 2006. Sapi Potong. Depok:
Penebar Swadaya.
Sugoro, I. 2009. Pemanfaatan Inseminasi Buatan (IB) untuk
Peningkatan Produktivitas Sapi. Bandung: Sekolah Tinggi dan Ilmu Hayati
ITB.
Syarief, M. Z dan R. M. Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah, edisi ke-1. Jakarta: CV. Yasaguna.
Toyomarto. 2009. Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari. http://toyomarto.blogspot.com. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Tripod.
2010. The Holstein: About The Breed.
http://wwwid.tripod.com/elmartinfarm/id24.html. Diakses tanggal 13 Februari 2012.
Yulianto, Purnawan dan Cahyo Saparinto. 2010. Pembesaran
Sapi Potong secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya.



Teman-teman:
BalasHapusABC GENETIKA adalah salah satu inseminasi buatan terkemuka di dunia
organisasi khusus di Red Holstein dan Brown Swiss keturunan. Untuk
lebih dari 30 tahun, kami telah menyediakan air mani yang sangat subur serta
layanan kelas satu untuk Mencapai tujuan kami peternak Menyediakan dengan
genetika top dunia dengan harga yang wajar. Hari ini, air mani dari ABC
GENETIKA
indukan didistribusikan di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.
Saat ini, kami sedang dalam proses untuk menemukan distributor produk kami di
negara Anda karena kami telah menerima banyak permintaan melalui website kami
Red Holstein dan Brown Swiss Pilihan kami disurvei dari Indonesia
Produsen susu dan Holstein peternak. Oleh karena itu, kami mengundang Anda
untuk
mengeksplorasi perusahaan dan produk kami di sini: http://www.abcgenetics.com
Akhirnya, tolong beritahu saya jika Anda tertarik untuk menjadi produk kami
distributor di Indonesia sehingga saya dapat mengirimkan proposal bisnis
dan jika Anda memiliki pertanyaan atau saran lainnya, jangan ragu
untuk menghubungi saya.
Hormat kami,
Martín Cisneros
ABC GENETICS
729 North Midvale Boulevard Ste.#1
Madison, WI 53705- USA
CP - 31, 1299 Crans-près-Céligny, Vaud, Switzerland (near Geneva)
Tel: +1 608-209-4401(USA) +41(0)787831133(Switzerland)
Email:mcisneros@abcgenetics.com Skype:martin.cisneros40
www.abcgenetics.com http://www.facebook.com/ABCGenetics