Selasa, 26 Juni 2012

DIABETES 2


PROFILE LIMFOSIT T PADA MENCIT (Mus musculus) MODEL DIABETES MELITUS TIPE 2PASCA PEMBERIANMODIFIED CASSAVA FLOUR  (MOCAF)




Oleh :
ERVIN JUMIATIN
0910913018














JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Diabetes Mellitus digolongkan sebagai penyakit endokrin atau hormonal karena gambaran produksi atau penggunaan insulin (Alwan, 1994).Dikenal dua tipe diabetes mellitus, yaitu diabetes mellitus1 dan diabetes mellitus2. diabetes mellitus2 merupakan kumpulan gejala yang timbul oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2005). Penyakit Diabetes Mellitus tipe 2, kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik, salah satu penyebabnya karena pola makan yang kurang sehat. Penderita
Penanggulangan Diabetes Mellitus tipe 2 meliputi dua pendekatan, yaitu pendekatan tanpa obat (diet makanan rendah karbohidrat) dan pendekatan dengan obat. Pendekatan tanpa obat dilakukan dengan cara pengaturan pola makanan dan latihan jasmani, sedangkan pendekatan dengan obat dilakukan dengan terpai insulin. Dengan kondisi ini, maka perlu adaptasi diet bagi pendertita Diabetes Mellitus tipe 2, namun adaptasi ini tidaklah harus mengubah jenis pangan yang sudah ada seperti mie, kue dan roti, namun dapat dilakukan hanya dengan mengubah bahan dasar pembuatnya saja dengan menggunakan bahan dasar yang sedikit mengandung karbohidrat yang mudah dimetabolisme oleh sel di dalam tubuh, seperti penggunaan mocaf.
Menurut Subagio(2007), Modified cassava flour (mocaf) merupakan singkong yang diolah dengan teknik fermentasi dengan tujuan memecah dinding sel dari singkong yang terdiri dari selulosa dan pektin. Akan tetapi, pada teknik fermentasi ini amilum (pati) tidak dihidrolisis untuk mendapatkan pati murni. Menurut Nwokocha (2008). Pembuatan mocafmenggunakan bakteri indigenous yang hanya mampu menghasilkan enzim selulose dan pektinolase yang mampu menghidrolisis dinding sel singkong sehingga pati dapat keluar dari dalam sel.

1.2.Perumusan Masalah
Dari uraian tersebut diatas, permasalahan yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah:
1.      Bagaimanapengaruh tepung mocaf terhadap perkembangan  limfosit T?
2.      Bagaimanateknikmenganalisa profile  limfosit T pascapemberian tepung mocaf pada mencit Diabetes Mellitus tipe 2?

1.3.Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a.       Untuk mengetahui pengaruh tepung mocaf terhadap perkembangan  limfosit T
b.      Untuk menganalisa profile  limfosit T pasca pemberian tepung mocaf pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1.            Ketela Pohon (Manihot esculenta)
Ketela Pohon (Manihot esculenta Crantz.) merupakan tanaman pangan yang berasal dari benua Amerika berupa perdu, memiliki nama lain ubi kayu, singkong, kasepe, dalam bahasa inggris cassava. Ketela pohon termasuk famili Euphorbiaceae yang umbinya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan daunnya dikonsumsi sebagai sayuran Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung(Halim danSiswanto, 1990).Singkong (ubi kayu) merupakan tanaman tipikal daerah tropis. Iklim yang panas dan lembab dibutuhkan untuk pertumbuhannya sehingga tanaman ini tidak dapat tumbuh pada suhu kurang dari 10°C. Suhu optimum pertumbuhan sekitar 25-27°C dan tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 150 meter di atas permukaan laut, meskipun ada beberapa varietas yang dapat tumbuh pada ketinggian 1500 m atau lebih. Curah hujan yang diperlukan rata-rata 500-5000 mm per tahun. Singkong dapat tumbuh pada tanah berpasir hingga tanah liat, maupun pada tanah yang rendah kesuburannya (Grace, 1997).
Setelah singkongdipanen, jaringan sel pada umbi masih hidup dan terus melakukan respirasidengan mengeluarkan CO2, H2O, dan panas. Jumlah CO2 yang dikeluarkan olehumbi segar sekitar 2-4 mg/g/hari (basis kering). Selama penyimpanan respirasinya meningkat, jumlah CO2 yang dikeluarkan pada hari pertama sekitar 7.5 mg/g/haridan mencapai maksimum 9.7 mg/g/hari pada hari ketiga. Kecepatan respirasiterakhir tersebut menyebabkan kehilangan bahan kering sebesar 0.7%. umbi singkong akan mengalami proses kerusakan dalam waktu 48 jam, yang diawali dengan perubahan-perubahan enzimatik dalam umbi, kemudian pembusukan(Halim danSiswanto, 1990).
Pati pada tanaman singkong berupa polisakarida yang terbentuk dari tanaman hijau melalui proses fotosintesis.Pati mengandung 10% air pada RH 54% dan 20oC.Menurut (2008), umumya pati tersusun dari amylose dan amylopectin.Amylose merupakan polimer berbentuk panjang dan lurus dan sedikit cabang (kurang dari 1%), Amilosa dengan rantai lurus lebih sulit dicerna dibandingkan dengan amilopektin yang memiliki rantai bercabang, sehingga karbohidrat dengan kandungan amilosa tinggi umumnya akan memiliki indeks glikemik rendah dan sangat baik dikonsumsi bagi penderita diabetes. Unit-unit glukosa terhubung oleh ikatan α-1,4 pada molekul amylose. Molekul amylose berbentuk helix dan bersifat hidrofobik.

1.2.Modified Cassava Flour(mocaf)
Mocaf adalahtepung yang dibuat dari ubi kayu melibatkan proses fermentasi pada tahap perendamannya. Modified Cassava Flour (mocaf) pada dsarnya berupa produk turunan daritepung singkong dengan menggunakan prinsip modifikasi sel singkong secarafermentasi (Subagio, 2007). Pada proses perendaman, dihasilkan limbah cair, yaitu air hasil rendaman chip ubi kayu yang difermentasi menggunakan bioaktivator, berupa campuran bakteri asam laktat, Lactobacillus sp, selubizing phospate bacteria, Azetobacter sp dan ragi. Keunggulan dari tepung mocaf antara lain, tersedia bahan baku yang cukup banyak di Indonesia untuk memproduksi tepung mocaf, harga tepung mocaf relatif lebih murah dibandingkan dengan hargatepung terigu maupun tepung beras(Sari, 2011).
Tahapan pembuatan tepung mocaf terdiri dari dua jenis, yaitu tahap pertama yaitupembuatan chip, merupakan proses awal tepung yang dibuat dari bahan dasar yang disebut dengan chip.Chipberupaketela pohon yang diiris kecil, direndam dengan menggunakan inokulum bakteri yang dapat menghasilkan enzim selulose dan  pektinolitik dan dijemur hingga kadar airnya mencapai 10%. Tahap kedua yaitu, penepungan, penggilingan chiphingga menjadi tepung mocaf (Sari, 2011).
Degradasi secara biologis adalah pemecahan bahan organik yang melibatkan aktivitas mikroorganisme.Kontaminan ini dapat digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan atau substrat.Setiap tahapan degradasi dikatalisis oleh enzim spesifik, yang seringkali ditemukan di dalam sel ataupun yang dibuat dan dilepaskan dari sel untuk membantu menginisiasi reaksi degradasi.Enzim yang ditemukan di luar sel dikenal sebagai enzim ekstraseluler, penting dalam degradasi makromolekul seperti polimer selulosa tanaman.mikroba yang tumbuh padasingkong akan menghasilkan enzim pektinolitik dan selulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel singkong sedemikian rupa sehingga terjadipembebasan granula pati. Proses pembebasan granula pati ini akan menyebabkanperubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas,kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut. Selanjutnya granulapati tersebut akan mengalami hidrolisis menghasilkan monosakarida sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam-asam organikMakromolekul akan dipecah menjadi subunit yang lebih kecil di luar sel supaya molekul tersebut dapat ditransfer ke dalam sel  (Lutfiyah, 2008).
Berdasarkan kandungan karbohidrat pada beberapa komoditi pangan yang dijadikan bahan dasar pembuatan tepung singkong memiliki kandungan sumber karbohidrat yang sedikit. Hal ini bisa dilihat pada tabel 2.1.1.dan 2.1.2.

Tabel 1.2.1 Kandungan karbohidrat pada jagung, beras dan gandum per 100 gram (%)
Komoditas
Karbohidrat
Protein
Lemak
Serat
Foxtail millet
Pearl millet
Prosomillet
Jagung
Beras
Gandum*
84,2
78,9
84,4
80,0
87,7
68,03-75,90
10,7
12,8
12,3
10,5
8,8
10,3-15,4
3,3
5,6
1,7
4,9
2,1
1,54-2,47
1,4
1,7
0,9
2,7
0,8
2,29
(Sumber: USU, 2011).
Beberapa kelebihan MOCAF adalah aman untuk para penderita diabetes, aman untuk para penderita autis, tidak mengandung kolesterol, memilikimasa simpan hingga 12 bulan, tekstur lebih lembut dibanding terigu, dan hargayang lebih murah(Subagio, 2007).
Beberapa mikroorganisme yang berasal dari Genus Trichoderma dan Aspergillus telah diseleksi dan dikembangkan dalam sebuah proses sakarifikasi secara enzimatik untuk berbagai jenis bahan selulosa. Namun dapat pula menggunakan bakteri BAL untuk proses fermentasi tepung. Ruminococcus dan Fibrobacter adalah bakteri selulolitik yang paling umum ditemukan dalam rumen, selain itu dalam sebuah studi molekular sejumlah spesies yang termasuk dalam Genus Clostridium telah ditemukan ada dalam rumen (Burrel et al., 2003).




1.3.Spleen
Spleen (limfa) merupakan organ limfoid sekunder. Spleen  terdiri dari bagian yang disebut pulpa merah. Pada tempat ini terjadi penghancuran sel darah merah yang sudah tua. Pulpa merah adalah tempat utama filtrasi spleen. Pulpa merah berselang-seling dengan pulpa putih. Pulpa putih atau spleenik white pulp adalah jaringan limfoid primer dan lokasi utama aksi imun dan fagositik. Disini, spleen memproses antigen awal dan menghasilkan imunoglobulin spesifik . Limfosit dan sel dendritik yang membawa antigen datang bersama pada periarteriolar sheath.Pada setiap pulpa putih, darah yang membawa limfosit dan antigen mengalir dari arteri trabekula masuk ke arteri sentral.Sel dan antigen kemudian masuk ke dalam sinus dan berlanjut menuju vena trabekula.Sinus marginal dikelilingi oleh zona marginal limfosit. Di dalam sinus marginal dan di sekeliling arteri sentral terdapat periarteriolar lymphoid sheath (PALS), yang tersusun oleh sel T. Sintesis antibodi pada pulpa putih dan memindahkan dari darah dan sirkulasi lymph node, antibodi menyelimuti bakteri sama seperti antibodi menyelimuti sel darah merah. Meskipun susunan spleen dan lymph node mempunyai persamaan, namun antigen yang masuk ke spleen lebih banyak berasal dari darah daripada dari cairan ekstraselluler (lymph) (Brender et al, 2008).

1.4.Sel LimfositT
Limfosit merupakan sel yang mampu mengenal dan menghancurkan berbagai determinan antigenik yang mempunyai dua sifat pada respon imun khusus, yaitu spesifitas dan memori. Menurut June (2009), sel T merupakan tipe limfosit yang berperan dalam proses infeksi dan perlawanan dalam darah. Peran normalnya yaitu membunuh sel – sel yang terinfeksi virus dan beberapa sel kanker. Secara umum, sel T terdiri dari:
  1. Helper T-cell (Sel T penolong) yang membantu fungsi dari sel B. Tipe sel imun ini menstimulasi sel T pembunuh, makrofag, dan sel B untuk membuat respons imun. Dinamakan pula sebagai CD4+ limfosit T.
  2. Suppressor T-cell (Sel T penekan) yang peranannya terbagi menjadi 2, yaitu menghambat sel B dan menghambat sel T.
  3. Cytotoxic T-Cell (Sel T sitotoksik) yang merupakan imunisasi pasif didapat dimana sel menyerang antigen secara langsung.
Peranan dari limfosit T atau sel T dimana sel T dibentuk di sumsum tulang yaitu sebagai proliferasi dan diferensiasi yang terjadi di kelenjar timus. Sel T berfungsi dalam pertahanan terhadap bakteri (intraselular), virus, jamur, parasit, sel – sel ganas dan lain – lain.
Limfosit T berbeda dengan limfosit B dalam hal respon terhadap antigen, akan menghasilan antibodi spesifik. Limfosit T, dalam aktivitasnya harus melihat antigen di permukaan makrofag atau Antigen Presenting Cell (APC) bersama-sama dengan produk MHC. Ketika ada antigen masuk ke dalam tubuh, makrofag akan memfagosit antigen tersebut dan dengan bantuan enzim yang terdapat di dalam sitoplasmanya antigen akan didegradasi menjadi molekul yang lebih kecil.molekul antigen kemudian bergabung dengan MHC Class II dan ditransfer ke permukaannya sehingga akan dikenali oleh reseptor sel Th CD4 (Roitt, 1989)

1.5.Streptozotocin(STZ)
Streptozotocin (STZ) merupakan suatu jenis antibiotika yang mempunyai efek toksik, pertama kali diisolasi dari jamur Streptomyces achromogenes.Streptozotosin merupakan derivat nitrosourea yang diisolasi dariStreptomyces achromogenes, mempunyai aktivitas anti-neoplasma danantibiotik spektrum luas. Streptozotosin dapat secara langsung merusakmasa kritis sel β Langerhans atau menimbulkan proses autoimun terhadapsel β (Rowland dan Bellush; 1989; Rees dan Alcolado, 2005 dalam Nugroho,2006).Streptozotosin (STZ) atau 2-deoksi-2-[3-(48yste-3-nitrosoureido)-Dglukopiranose]diperoleh dari Streptomyces achromogenes dapat digunakanuntuk menginduksi baik DM tipe 1 maupun tipe 2 pada hewan uji. Streptozotocin termasuk dalam golongan nitrourea yang artinya kelompok senyawa larut lemak yang memiliki fungsi sebagai agen pengalkilasi. Injeksi streptozotocin secara intramuskular dan subcutan tidak dianjurkan karena obat dianggap mengalami degradasi di dalam tubuh sebelum mencapai target organ yaitu pankreas.
STZ sejak lama digunakan sebagai agen diabetogonik pada hewan coba karena bersifat sitotoksik spesifik bagi sel beta pankreas.Streptozotocin menginduksi diabetes pada berbagai spesies hewansehingga menyerupai adanya hiperglikemik pada manusia.Efek ini telahsecara ekstensif tampak dengan adanya penurunan sel beta nicotinamideadenine dinucleotide (NAD+) dan menghasilkan perubahan histopathologypulau pankreas sel beta hepatomegaly berhubungan dengan diabetesstreptozotocin-induced.Streptozotocin dapat menggagalkan penggunaan glukosa disebabkan alkilasi terhadap protein yang berperan dalam uptake dan metabolisme glukosa, streptozotocin ini mampu merusak mitokondria dan menggagalkan proses oksidasi, serta mampu merusak DNA. Faktor-faktor tersebut adalah terganggunya persediaan energi sehingga terjadi kematian sel-sel beta pankreas. Streptozotocin secara efektif dapat menginduksidiabetes pada kelinci yang ditandai dengan polydipsia, polyuria, danhyperglycemia (Rowland dan Bellush; 1989; Rees dan Alcolado, 2005 dalam Nugroho,2006).STZ menembus sel β Langerhans melalui tansporter glukosa GLUT 2.Aksi STZ intraseluler menghasikan perubahan DNA sel β pankreas. AlkilasiDNA oleh STZ melalui gugus nitrosourea mengakibatkan kerusakan pada selβ pankreas.Pemberian STZ menyebabkan penurunan pembentukan 8 senyawa ATP pada sel beta pankreas yang akhirnya akan menyebabkan kematian sel beta pankreas (Wilson dkk., 1998).
Streptozotocin dapat merusak DNA sel-sel pulau pankreas, dan menstimulasi sintesis poli nuklear (ADP-ribosa), NAD, dan NADP yang kemudian akan menghambat atau menghalangi sintesis proinsulin dan akhirnya menyebabkan diabetes. Streptozotocin juga dapat mengaktifkan jenis-jenis oksigen seperti superoksida, hydrogen peroksida, dan radikal hidroksil yang merupakan radikal bebas. Pemberian injeksi STZ 100 mg/kg secara intraperitonial (ip) kepada seorang penderita DM 2, dapat menyebabkan hyperglycemia. Namun pemberian STZ pada dosis rendah, yaitu 40 mg/kg selama 5 hari mampu menyebabkan hiperglikemia yang signifikan pada minggu ke-1. Hewan-hewan mengalami diabetes pada minggu ke-2 dan tetap dalam keadaan diabetes sampai minggu ke-5. Untuk Diabetes Mellitus tipe 2 dengan injeksi 40 mg/kg BB dilarutkan dalam Buffer sitrat (pH 4,5). Menurut Zhang (2008), pemberian injeksi 2 kali dengan dosis 30 mg/ kg dengan interval mingguan akan memberikan efek Diabetes Mellitus tipe 2.Pada penelitian Arora (2009),injeksi dengan dosis 40 mg/kg menunjukkan hasil terinduksinya mencit Diabetes Mellitustipe 2, tetapi akan mengalami tipe 1 untuk beberapa minggu.Streptozotocin pada hewan coba dapat menginduksi perkembangan hiperglikemia yang lambat, kemudian diikuti dengan penyusupan lymphocytic pulau pankreas lalu menyebar ke seluruh duktus pankreas. Selanjutnya limfosit akan menghancurkan sel beta dalam islet pankreas dan akhirnya meyempurnakan terjadinya diabetes mellitus (Wilson dkk., 1998).

1.6.Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan penyakit metabolisme serius dan memiliki tingkat prevalensi yang tinggi. Sembilan puluh persen  kasus DM yang ditemui di masyarakat adalah Diabetes Mellitus tipe 2 (Syamsudin dkk., 2008). Diabetes Mellitus tipe 2 disebabkan karena resisten insulin hal ini  terjadi akibat perubahan reseptor insulin pada membran sel berkurang dan strukturnya berubah sehingga tidak tanggap terhadap insulin. Kondisi ini menyebabkan glukosa yang masuk ke dalam sel berkurang. Diabetes melitus tipe 2 dikenal sebagai NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus), artinya penderita DM tipe 2 tidak mutlak membutuhkan suntikan insulin setiap hari untuk mengatur metabolisme gula dalam darah. Diabetes tipe 2 merupakan akibat lemahnya kemampuan pankreas mensekresikan insulin, selain itu juga lemahnya aksi insulin, menjadi penyebab menurunnya sensitivitas insulin(Scobie, 2007).
Penurunan sensitivitas insulin terjadi pada pintu masuk di permukaan sel tubuh yang dinamakan reseptor insulin.Penyebab terjadinya penurunan sensitivitas insulin adalah karena peningkatan kebutuhan sekresi insulin untuk mempertahankan kadar glukosa darah. Reseptor insulin akan memberikan signal pada transporter glukosa untuk memungkinkan lewatnya glukosa yang dibawa oleh hormon insulin masuk ke dalam sel(Syamsudin dkk., 2008). Di dalam mitokondria, gula kemudian akan digunakan untuk menghasilkan energi yang diperlukan untuk melangsungkan fungsi setiap sel tubuh.Patofisiologi DM tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin perifer, rendahnya produksi glukosa hepatik dan menurunnya fungsi sel betayang mengakibatkan kegagalan fungsi sel beta.Prevalensi awal DM tipe 2 diawali oleh defisit sekresi insulin dan pada sebagian besar penderita, defisiensi insulin berhubungan dengan resistensi insulin perifer(Stumvoll et al., 2005).
Penyakit ini ditandai dengan kelainandalam sekresei insulin maupun kerja insulin. Pankreas masih relatifcukup menghasilkan insulin tetapi insulin yang ada bekerja kurangsempurna karena adanya resistensi insulin (adanya efek responjaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin dimembran sel yang mengakibatkan penurunan sensifitas sel target,kehilangan reseptor insulin pada membran sel targetnyamengakibatkan terjadi penurunan efektifitas serapan glukosa daridarah, individu yang mengalami overwight memiliki potensial yanglebih besar menderita diabetes di banding individu normal(Syamsudin dkk., 2008).
Kriteria kadar glukosa diabetesdengan pengukukuran glukosa darah sewaktu >200 mg/dl, glukosa darahpuasa 126 mg/dl, dan kadar glukosa darah dua jam setelah dilakukan testoleransi glukosa dengan beban glukosa 75 gram adalah 200 mg/dl (Scobie,2007).Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara bertahap, tetapi progresif setelah usia 50 tahun, terutama pada orang yang tidak aktif bergerak. Seseorang dikategorikan sebagai penderita Diabetes Mellitus, jika kadar gula darah ketika puasa lebih dari 126 mg/dL dan kadar gula sewaktu lebih dari 200 mg/dL. Kelebihan kadar gula dalam darah mengakibatkan munculnya tanda-tanda penyakit Diabetes Mellitus. Beberapa gejala awal penderita DM antara lain cepat lelah, kehilangan tenaga, lemas, sering buang air kecil, terus-menerus lapar dan haus, kelelahan yang berkelanjutan, mudah sakit berkepanjangan, penglihatan kabur dan luka yang sukar sembuh(Stumvoll et al., 2005).

1.7.Insulin
Insulin merupakansalah satu hormon dalam tubuh manusia yang dihasilkan oleh sel ß pulau langerhans yang terdapat dalam kelenjar pankreas. Hormon ini menurunkan kadar glukosa, asam lemak, dan asam amino dalam darah. Insulinterdiri atas dua rantai asam amino yang dihubungkan oleh ikatan disulfidedisintesis sebagai protein perkusor (pro insulin) yang mengalami pemisahanproteolitik untuk membentuk insulin dan peptide c, keduanya di sekresikanoleh sel β pankreas (Mycek, 2001). Insulin mempunyai pengaruh luas di dalam tubuh dan beraksilangsung atau tak langsung mempengaruhi proses biokimiawi. Pengaruhmenyeluruh hormon ini adalah memudahkan pemakaian glukosa oleh sel danmencegah pemecahan secara berlebihan glikogen yang disimpan di dalamhati dan otot (Turner, 2000).Sekresi insulin diatur tidak hanya oleh kadar glukosa darah tetapi jugaoleh hormon lain dan mediator autonomik. Sekresi insulin dipacu olehglukosa darah yang tinggi dan difosforilasi dalam sel β pankreas. Kadaradenosin trifosfat (ATP) meningkatkan dan menghambat saluran K+,menyebabkan membran sel depolarisasi dan influx Ca++ yang menyebabkanpulsasi eksositosis insulin (Mycek, 2001).
Peranan insulin dalam pengaturan kadar glukosa darah tidak lepas dari pengaruh faktor lainnya juga, seperti (a) hati berperan sebagai glukostat, (b) kelenjar pankreas sebagai penghasil hormon lain selain insulin yaitu glukagon, (c) kelenjar adenohipofisis mensekresi hormon-hormon yang bersifat diabetogenik seperti ACTH, GH, TSH; (d) kelenjar adrenal yang mensekresi hormon epinefrin dari bagian medula dan glukokortikoid dari bagian kortek-nya, (e) kelenjar tiroid mensekresi hormon T3 dan T4 yang berperan terhadap metabolisme energi, serta(f) kerja fisik atau exercise yang bersifat memperkuat efek insulin terhadap metabolisme karbohidrat (Goodman dan Gilman, 2007).
Faktor yang berperan dalam pengaturan sekresi insulin ialah, bermacam nutrient, hormon saluran cerna, hormon pankreas dan neurotransmiter otonom, glukosa, asam amino, asam lemak, dan benda keton merangsang sekresi insulin.. Sel-sel pulau langerhans dipersarafi oleh saraf adrenergenik dan kolinogernik. Stimulasi reseptor α2 adrenergikmenghambat sekresi insulin, sedang β2 adrenergik agonis dan stimulasi sarafvagal akan merangsang sekresi insulin (Goodman dan Gilman, 2007). Sekresiinsulin oleh sel beta tergantung oleh 3 faktor utama yaitu, kadar glukosa darah,ATP-sensitive K channels dan Voltage-sensitive Calcium Channels sel beta. Sekresi insulin oleh sel beta pankreas bergantung pada 3 faktor yaitu kadar glukosa darah, ATP-sensitive K channels dan voltage-sensitive calcium channels sel beta pankreas (Mycek, 2001).














BAB III
METODOLOGI

3.1.       Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai Juni 2012 sampai Januari 2013. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang.

3.2.  Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: erlenmeyer, cawan petri, jarum ose, jarum enten, timbangan digital, mikropipet, blue tip dan yellow tip, aluminium foil, gelas ukur, spatula, corong, termometer, stirrer, beaker glass, tabung reaksi, autoclave, inkubator, rotaryshaker, pH meter, Laminar Air Flow (LAF), oven, mikroskop binokuler, mikroskop BX51, Haemocytometer, handtally counter, colony counter danvortex.
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain ketela pohon (Manihot esculenta) yang berasal dari Kabupaten Malang. Carboxymethyl Cellulose (CMC) agar, pektin agar, cat Gram,  alkohol 70%, NaCl 0.85 %, akuades dan bahan-bahan lainya untuk analisa.

3.3 Sampel penelitian
            Jenis peneltian iniadalah penelitian ekperimental. Berdasarkan ketentuan WHO jumlah sampel 3 ekor per kelompok. Sehingga jumlah total sampel sebanyak 9 ekor. Sampel penelitian diambil secara acak dari populasi terjangkau dengan kriteria inklusi antara lain mencit strain BLB/c betina, umur 6-8 minggu dengan berat rata-rata 30 g dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a.       Kontrol (K): diinjeksi dengan pelarut STZ 1.2 g tanpa perlakuan.
b.      Perlakuan 1: kelompok mencit normal yang telah diinduksi STZ 1.2 g, diberi makan 50 g tepung mocaf setiap hari selama 3 minggu.
c.       Perlakuan2: kelompok mencit normal yang telah diinduksi STZ 1.2 g, diberi makan 50 g tepung gandum setiap hari selama 3 minggu.




3.4. Cara Kerja
3.1.1. Induksi STZ untuk Diabetes Mellitus Tipe 2
Mencit dipuasakan selama 12 jam sebelum induksi Diabetes Melitus menggunakan STZ dengan dosis 40 mg/kg BB.Diaklimatisasi selama 2 minggu. Diberi makan pelet BR 1 5-10 g/hari dan minuman secara teratur. STZ dilarutkan dalam 0.01M buffer sitrat, pH 4,5 dan selalu disiapkan dalam kondisi fresh untuk penggunaan dalam waktu 10-15 menit. Injeksi STZ diberikan secara intraperitoneal dan dosis ditentukan berdasarkan berat badan mencit. Injeksi STZ dilakukan selama 5 hari untuk menginduksi diabetes mellitus tipe 2.Rumus  yang digunakan untuk menentukan kadar injeksi STZ, yaitu dapat dilihat pada contoh perhitungan berikut
Diketahui   :
Dosis STZ 40 mg/kg BB, Berat Badan hewan uji = 30 gram, Stok yang dibuat =20 mg/ml, volume lambung tikus max 200 µl
Jawab        :
Volume injeksi = 0.04 mg/gram BB x 30 gram / 20 mg/ml = 0.06 ml atau 60 µl

3.1.2. Perlakuan Tikus Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan STZ
Metode yang digunakan menurut Masruro (2010), mencit Betina (Mus musculus) galur BALB/c, umur 6-8 minggu dengan berat rata-rata 30 g dibagi menjadi 6 kelompok yaitu: (1) kelompok tikus sebagai kontrol negatif (diinjeksi dengan pelarut STZ tanpa treatment), (2) kelompok tikus sebagai kontrol positif yang diinjeksi dengan STZ tanpa treatment, (3) kelompok tikus normal yang telah diinduksi STZ 1.2 gram, diberi makan 50 gram tepung mocaf setiap hari selama 3 minggu, (4) kelompok tikus normal normal yang telah diinduksi STZ 1.2 gram, diberi makan 50 gram jagung rebus setiap hari selama 3 minggu, (5) kelompok 5 yaitu tikus normal yang telah diinduksi STZ 1.2 gram, normal diberi makan 50 gram tepung gandum setiap hari selama 3 minggu, (6) tikus normal yang telah diinduksi STZ 1.2 gram, diberi makan 50 gram tepung gandum setiap hari selama 3 minggu.





3.1.3.      Pembuatan Tepung Mocaf dari Ketela Pohon (Manihot esculenta) dengan Bakteri Selulolitik dan Pektinolitik.
            Pembuatan tepung MOCAF dilakukan dengan cara yaitu, diambil sebanyak 7.5 kg ketela pohon (Manihot esculenta), pertama dikupas, kemudian dicuci bersih dengan air mengalir. Ketela pohon yang sudah bersih dipotong kecil-kecil ±2-3 cm. Ketela pohon yang sudah dipotong, direndam dalam larutan bioaktivator yang mengandung bakteri selulolitik dan bakteri pektinolitik dengan jumlah stok inokulum 2.107 cfu/mL, waktu proses fermentasi ±8 jam. Setelah selesai proses fermentasi, ketela pohon yang telah difermentasi dikeluarkan untuk dilanjutkan pada tahap kedua yaitu, ditiriskan dengan air mengalir dan dikeringkan hingga mencapai kadar air 12-14%. Selanjutnya dilakukan tahapan terakhir, yaitu digiling hingga menjadi tepung.

3.1.4. Perhitungan jumlah sel limfosit T CD4+ dan CD8+ dengan Haemocytometer pada spleen
Sel hasil dari isolasi organ spleendiambil sebanyak 5µl untuk penghitungan sel menggunakan haemocytometer yang dipasang pada mikroskop. Suspensi pelet ditambahkan 95 µl efans blue dan dihomogenkan. Penghitungan sel hidup menggunakan kamar hitung dalam haemocytometer dan hasil penghitungan digunakan dalam analisa flowcytometry. Dihitung jumlah selnya menggunakan rumus, jumlah sel yang hidup dalam 5 kotak dikalikan faktor pengencer dibagi dengan 5x4x10-6.














3.1.5. Analisis ekspresi sel limfosit T CD4+ dan CD8+ dengan Flowcytometry
          Homogenat 50 µl dimasukkan ke dalam 4 microtube steril yang telah berisi 1 ml PBS(Satwika, 2011). Suspensi selanjutnya disentrifugasi pada 3500 rpm, 150C selama 2 menit. Supernatan dibuang dan pelet diinkubasi dengan menggunakan dua macam marker antibodi, yang pertama antibody marker surface cell Β-Pankreas dan ke dua adalah antibody marker intersel staining yang digunakan untuk menunjukan sel yang menghasilakn insulin. Antibodi CD80, CD142, CD200 atau CD318 (Betacell, 2012), antimouse CD25 FITC conjugated, PE-conjugated mouse anti-CD24 (clone ML5,BD Bioscience)(Jiang et al., 2011), serta CI2-FITC (Kavishwar, et al.,2011) ke-6 antibodi yang digunakan bertujuan untuk marker surface cell Β-Pankreas.  ab84987Anti-PDX1 antibody digunakan untuk intersel staining (Stefan et al.,2011). inkubasi dilakukan selama 15 menit. Pelet diambil dan dimasukkan dalam kuvet flowcytometer dan ditambah 500 µl PBS steril.Kuvet dipasang pada nozzle BD FACS CaliburTM flowcytometer.Dilakukan setting pada komputer dengan software BD Cell Quest ProTM dan dilakukan koneksi dengan flowcytometer (acquiring mode). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi parameter  kuantitatif (jumlah regenerasi sel β-Pankreas). Parameter kuantitatif meliputi perubahan jumlah sel B pankreas pada mencit normal, kontrol positif dan negatif serta mencit model Diabetes Mellitus tipe 2 yang telah di berikan perlakuan yang diukur melalui flowcytometry.










DAFTAR PUSTAKA

Alwan, A, A, S.1994.Management of Diabetes Mellitus Standards of Care and Clinical Practice Guidelines.Who-Em/Din6/E/G.

Bevelander, G & J.A. Ramaley.1988.Dasar-Dasar HistologiEdisi Kedelapan.Erlangga: Jakarta.
Brender. F., Burke, A., Richar, M. D., 2005. Limpa patient page. Journal of the american medical association. 20 : 266-270.

Burrell,P. C.,et al. 2003. Identification, detection and spatial resolution of clostridium populations responsible for cellulose degradation in a methanogenic landfill leachate bioreactor. Appl. Environ. Microbiology. 70(4): 2414–2419.

Grace B.1997. Peranan Ubi Kayu dan Permasalahannya di Indonesia. di dalamJ.Wargiono, Saraswati, J. Pasaribu, dan Sutoro (eds.), Pengkajian danPengembangan Teknologi Pra dan Pasca Panen Ubikayu I. Prosiding.Lampung : Seminar Nasional UPT-EPG BPPT.
Grahito, A. 2007.Root and Tuber Crops.http://indonesian-foodforage. Diakses tanggal 06 Maret 2012.

Jiang, W., et al. 2011. CD24: A novel surface marker for pdx1-positive pancreatic progenitors derived from human embryonic stem cells. Stem Cells ;29:609–617.
Kavishwar, A., Zdravka, M.&Anna, M. 2011. Unique sphingomyelin patches are targets of a beta cell specific antibody. Molecular Imaging Laboratory, MGH/MIT/HMS Athinoula A. Martinos Center for Biomedical Imaging, Department of Radiology.Massachusetts General Hospital.Harvard Medical School. Boston. Massachusetts 02129. USA.

Lutfiyah, A. 2008.Potensi Bakteri Selulolitik dari Usus Rayap dalam Dekomposisi Serasah Agroforestri Budidaya Porang (Amorphophallus Oncophyllus). Jurusan Biologi.Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. UniversitasBrawijaya. Malang. Skripsi.

Masruro, N.2010. Aktivasi Protein Insulin Reseptor Substrat I (IRS-I) oleh Glukomanan dari Tepung Porang untuk Meminimalisir Kerusakan Sel Beta Pankreas Tikus Diabet. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Brawijaya. Malang. Skripsi.

Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi: Ulasan bergambar Ed.2. Jakarta: WidyaMedika.

National Diabetes Fact Sheet. 2007.Treatment with Insulin or Oral Medication Among Adults with Diagnosed Diabetes. United States, 2004-2006. http://www.cdc.gov/ diabetes/pubs/pdf/ndfs_2007.pdf. Diakses tanggal 14 April 2012.

Nugroho, Agung Endro. 2006. Review Hewan Percobaan Diabetes Mellitus:Patologi Dan Mekanisme Aksi Diabetogenik. Fakultas FarmasiUniversitas Gadjah Mada.

Nurdiana., N., dkk. 1998. Efek streptozotocin sebagai bahan diabetogenik pada tikus wistar dengan cara intraperitonial dan intravena. Majalah Kedokteran Unibraw. Vol. XIV. No2:hal.66-77.

Sari, P. R. 2011.Analisa Nilai Tambah dan Kelayakan Usaha Agroindustri Chip UbiKayu sebagai Bahan Baku Pembuatan MOCAF (Modified Cassava Flour) di Kabupaten Trenggalek.Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang. Skripsi.

Satwika, D. 2011.Fraksi Air Bunga Kecubung (Datura metel L.) Memicu Aktivitas Imunokompeten Subset Sel T pada Mencit Balb/C Model Asma. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Brawijaya. Malang. Skripsi.

Shofie, M. 2007. Asosiasi antara Trichoderma Viride dan Gliocladium Sp. serta Aplikasinya dalam Kompos untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Pisang Cavendis. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Brawijaya. Malang. Skripsi.

Stumvoll,M., Goldstein B. J. & Van Haeften, T. W. 2005. Type 2 diabetes: principles of pathogenesis and therapy. Lancet. 365: 1333-46.

Subagio, A. 2007.Industrialisasi Modified Cassava Flour (MOCAF) sebagai Bahan Baku Industri Pangan untuk Menunjang Diversifikasi Pangan Pokok Nasional.Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Jember. Jember.

Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi.1997. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi Keempat. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

Suyono, S. 2005. Patofisiologi Diabetes Mellitus dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu: Pusat Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta.

Syamsudin, Rita, D. Marletta& Kusmardi. 2008. Immunomodulatory and in vivo antiplasmodial activities of propolis extract. Global Journal of Pharmacology.Vol. 2, no.3. pp. 37-40.

Tuner, Donnel C dan Bagnara Joseph T. 1988. Endokrinologi Umum. Alihbahasa Drs.Harjoso. Yogyakarta: Airlangga press

USU. 2011. Karbohidrat Gandum. repository.usu.ac.id/bitstream/.../Chapter%20II.pdf. Diakses pada tanggal 02 Maret 2012

Wilson G. L., et al. 1988. Mechanism of nitroroure induced beta cell damage. activation of poly (adp-ribose) syntase and cellular distribution. Diabetes:37:213-216.

Zhang, M.,et al. 2008. The characterization of high-fat diet and multiple low-dose streptozotocin induced type 2 diabetes rat model. Exp Diabetes Res. 2008; 2008: 704045. PMCID: PMC2613511.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar